Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Hujan, 20.5 ° C

Talaga Bodas

T Bachtiar
T Bachtiar

T Bachtiar

DINAMAI Talaga Bodas, karena bila dilihat dari kejauhan, telaga ini berwarna putih. Talaga Bodas berada dalam kawah yang jauh lebih besar, yang meletus jauh sebelum terbentuknya telaga ini. Di dasar kawah tua ini lahir kegiatan gunungapi baru, lalu meletus membentuk kawah yang lonjong. Dasar kawahnya tidak meresapkan air, sehingga air yang terkumpul di kawah itu membentuk telaga atau danau kawah.

Jarak dari kota Garut ke Talaga Bodas yang berada pada posisi geografis 70 12’ LS dan 1080 04’ BT itu sekitar 28 km. Secara administrasi masuk ke dalam Desa Sukamenak, Wanaraja, Kabupaten Garut dan Kabupaten Tasikmalaya. Telaga ini dikelola oleh BKSDA Jawa Barat.

Dari lereng Gunung Talagabodas mengalir Ci Bodas ke arah timur menenggara menuju Rajapolah dan Indihiang. Sungai yang mengalir ke arah barat, ke Wanaraja, yaitu Ci Malaka, Ci Beureum, dan Ci Tameng, yang semuanya bermuara ke Ci Manuk.

Talaga putih susu yang membulat ini dibentengi dinding Kawah Talagabodas Muda yang hijau. Di tepian telaga, pohon tua warna merah marun kecoklatan yang roboh, terkubur material letusan, terlihat menonjol di antara hamparan pasir dan kerikil warna gading. Paku tiang dan kayu hutan yang tersisa, masih memancarkan pesonanya, diselingi pucuk-pucuk merah cantigi, membawa kesegaran lingkungan danau kawah. Lunas sudah, setelah melaju di jalanan berbatu, rasa penat karena guncangan dalam kendaraan yang tiada henti antara Sukawening, Kabupaten Garut sampai Talaga Bodas itu terobati begitu sampai di Talaga Bodas.

Mengunjungi Talaga Bodas di ketinggian + 1.720 m, merupakan perjalanan napak tilas para peneliti, seperti yang dilakukan Reindwart, yang datang ke sini dua abad yang lalu. Disusul oleh Junghuhn pada tahun 1837, dan Maier yang meninjau telaga cantik ini dua kali, pada tahun 1844 dan 1851. Kemudian Teysmann pada tahun 1855, dan Taverne pada tahun 1924.

Di pertigaan Patrol pada ketinggian 1.574 m.dpl., terlihat Pasir Sadahurip yang berada 4 km barat laut Talaga Bodas. Bukit kecil ini pernah dianggap piramid, bangunan buatan manusia. Pasir Sadahurip, yang diributkan sebagai piramid itu merupakan kerucut gunungapi tua dalam kompleks Gunung Talagabodas, yang umurnya satu periode dengan Gunung Karacak dan Gunung Candramerta.

Di selatan Pasir Sadahurip, terdapat patahan sepanjang 15 km. yang mengarah tenggara – barat laut, mulai dari selatan Gunung Bungbulang sampai Kampung Pasanggrahan, membentuk lembah yang memanjang dengan bagian selatannya yang turun, sehingga Pasir Sadahurip terlihat menonjol.

Lingkungan sekeliling danau kawah yang rusak, menyebabkan luas Talaga Bodas terus menciut. Pada tahun 1924 luasnya 455.000 m2, tahun 1963: 192.500 m2, dan pada tahun 1992: 150.000 m2. Pada Februari 2013 sudah terdapat pulau-pulau yang memanjang lebih dari 50 m. di tengah danau, pertanda pendangkalan danau semakin cepat, terutama di tenggara danau. Ketika Teysmann mengukur kedalaman danau kawah ini pada tahun 1855, kedalaman rata-ratanya 12 m. Kemudian, N.J.M. Taverne mengukur kedalaman telaga pada tahun 1924, dalamnya sudah berkurang menjadi rata-rata 10 m. Pada tahun 1992, O Koswanda dan Agus Martono, kedalaman telaga ini hanya tinggal 2 m.

Evolusi Gunung Talagabodas menurut A.R. Mulyana, dkk. (2000), terjadi dalam beberapa tahap pembentukan:
Tahap pertama pembentukan Gunung Talagabodas, lalu terjadi letusan eksplosif yang membentuk kaldera Talagabodas Tua, diameternya + 4,5 km., dengan bukaan mengarah ke utara.
Tahap kedua pembentukana Kawah Saat di bagian tengah Kaldera Talagabodas Tua.
Tahap ketiga masa istirahat dan penghimpunan energi.
Tahap keempat pembentukan kerucut dari letusan samping di sekitar dinding Kaldera Talagabodas tua, yaitu Gunung Canar, Gunung Piit, Gunung Lebakjero, dan Gunung Masigit.
Tahap kelima pembentukan kerucut dari letusan samping di luar dinding Kaldera Talagabodas Tua, yaitu Gunung Beuticanar, Gunung Malang, dan Gunung Ciparay.
Tahap keenam terjadi letusan samping yang bersifat freatomagmatik – stromboli, merupakan tahap akhir dari serangkaian pembentukan dan penghancuran Gunung Talagabodas. Kegiatan letusan eksplosifnya menghasilkan Kawah Talagabodas Muda dengan bukaan kawah ke arah timur laut.

Kawah yang membulat dengan diameter kurang dari 2 km. ini kemudian diisi air, membentuk danau kawah, yang kini terkenal dengan nama Talaga Bodas.
Tahap ketujuh: terjadi letusan freatik dari kawah Talagabodas Muda, dan
Tahap kedelapan: aktivitas Gunung Talagabodas berupa hembusan solfatara dengan intensitas lemah, dan bualan lumpur.

Di dekat mataair panas sudah didirikan bangunan dan kolam kecil untuk penampungan air panas. Banyak wisatawan yang sengaja datang untuk berendam di air panas yang mengadung belerang.

Walau jalan menuju Talaga Bodas masih rusak berat, namun tidak menyurutkan pesona danau kawahnya.***
Bagikan: