Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Umumnya berawan, 28.6 ° C

Ahli Waris

Hawe Setiawan
Hawe Setiawan

Hawe Setiawan

TIDAK lama setelah Ibu meninggal, saya mendapat warisan berupa sepetak tanah di desa. Sementara kakak dan adik sibuk mengatur rencana dengan warisan masing-masing, saya termangu-mangu di tepi kolam, sendirian memandang balé kambang kecil yang titian bambunya sudah miring, seperti Karnadi yang hendak bunuh diri. Saat itulah saya bertanya-tanya soal warisan. Apa itu warisan? Apa artinya jika orang mengatakan bahwa kita mewarisi sesuatu dari pendahulu kita?

Sekiranya pertanyaan saya menyangkut hukum, tidak sulit bagi saya untuk pergi ke pasantrén Pagelaran di Gardusayang buat mendapat penerangan terpercaya mengenai ketentuan bagi-bagi waris menurut Islam. Sama mudahnya buat saya untuk datang ke Fakultas Hukum Unpas di Léngkong agar Mang Irwan Saleh dan kawan-kawan menjelaskan urusan perdata. Sayang, tidak ada minat saya untuk memperuwet hidup ini dengan pengetahuan hukum meski, insya Allah, saya bukan tipe manusia yang suka melanggar hukum.

Taruh kata, kita keluarkan dulu perkara warisan dari bab fiqih alias hukum, lalu kita bawa perkara ini ke dalam bidang yang tak kalah runyamnya, yakni budaya. Di dalam bidang ini pun, dari masa ke masa, begitu banyak orang yang suka memakai metafora warisan dengan berbagai variasinya, semisal “warisan budaya”, “pewarisan nilai-nilai”, “ahli waris kebudayaan”, dan entah apa lagi.

Adapun hal yang diwariskan dalam kaitan ini lazimnya dapat dibagi dua. Ada yang maujud, ada pula yang gaib. Ada yang terlihat, ada pula yang tersembunyi. Para birokrat kebudayaan dan dosen MKDU biasanya memakai istilah warisan benda danwarisan tak benda. Arca, barang tembikar, hutan kabuyutan, dan banyak lagi tergolong warisan maujud. Pengetahuan, kearifan, nilai-nilai, dan banyak lagi tergolong warisan gaib. Pada kenyataannya, baik yang maujud maupun yang gaib, bisa menyatu. Misalnya, naskah Sunda Kuna yang memakai media daun lontar. Barangnya jelas dapat dipegang dan dilihat, sedangkan pengetahuan atau kearifan yang disampaikan melalui barang itu pada dasarnya ada dalam nalar dan rasa. Jika naskah yang belum terbaca dibiarkan hancur, tentu pengetahuan yang tertuang di dalamnya ikut musnah.

Untuk gampangnya, urusan bagi-bagi warisan di bidang budaya lazimnya memakai istilah tradisi. Orang membayangkan hal yang disebut tradisi itu sebagai sesuatu yang diteruskan dari satu ke lain generasi, dari satu ke lain zaman, turun-temurun, dari karuhun hingga ke anak, cucu, dan buyut. Si anak pada saatnya bakal beranak-pinak pula sebagaimana lazimnya bangsa mamalia yang suka kawin, dan diharapkan akan mewariskan tradisi itu kepada keturunannya. Tradisilah yang memungkinkan bahasa Sunda dipakai oleh bobotoh Persib. Tradisi pula yang memungkinkan batik Trusmi dapat dibeli di Cihampelas. 

Akan tetapi, saya kira, ada salah kaprah dalam hal ini. Seringkali orang membayangkan pewarisan tradisi ataupewarisan nilai-nilai budaya berlangsungseperti pewarisan tanah atau barang sejenisnya manakala senior mati dan junior unjuk gigi. Seolah-olah generasi baru tinggal menerima (atau menampik) nilai-nilai dari generasi pendahulunya. Padahal, menurut hemat saya, apa yang disebut tradisi, nilai-nilai budaya, dan sejenisnyahanya mungkin diserap oleh satu generasi melalui proses belajar atau kerja keras. Proses itu, jelas, tidak mudah.

Misalkan, Anda menulis sajak dalam bahasa Sunda. Mau tidak mau Anda masuk ke dalam tradisi puitika Sunda yang terbentuk melalui perjalanan sejarah dari, katakanlah, masa tradisi lisan hingga ke masa para bujangga mengandalkan tulisan. Mau tidak mau Anda membaca sajak-sajak bukan hanya dari sesama penyair Sunda sezaman melainkan pula terutama dari para penyair Sunda terdahulu hingga Anda mengenal betul tradisi puitika itu. Anda membaca begitu banyak buku, keluar-masuk sekian perpustakaan, getol menyimak berbagai seminar sastra, dan sebagainya. Terserah Anda, apakah tradisi persajakan itu mau Anda teruskan ataukah mau Anda tampik. Yang jelas, pengetahuan mengenai tradisi itu sendiri dapat dikatakan sebagai salah satu prasyarat dalam proses kreatif. Mustahil Anda memperbaharui sebuah tradisi jika tradisi itu sendiri tidak Anda ketahui. Bagaimana Anda mau menampik sebuah tradisi jika Anda tidak tahu apa yang akan ditampik? Dengan kata lain, masa lalu memang ikut mewarnai kehidupan kita hari ini. Sejarah tidaklah seperti kata sebuah iklan rokok: “masa lalu, masalah loe”.

Ya, saya memetik esai T.S. Elliot, “Tradition and the Individual Talent” dari tahun 1917. Katanya, “Tradition is a matter of much wider significance. It cannot be inherited, and if you want it you must obtain it by great labour.” Dengan kata lain, tradisi tidak dapat diwariskan kayak orang mewariskan tanah kepada keturunannya. Jika Anda menginginkan tradisi itu, Anda mesti bekerja keras. Saya kira, petikan dari bidang estetika itu masih relevan dengan diskusi kita di bidang budaya hari ini. Tradisi itu dicari, digali, dan mungkin diolah lagi.

Itulah sebabnya, ketika saya hendak beranjak dari tepi kolam itu, saya memastikan niat untuk tidak menjual tanah warisan. Jangankan untuk menjualnya, bahkan untuk menggadaikannya pun tidak pernah terbersit niat sedikit pun. Saya harus bekerja keras memeliharanya seraya menjajaki apa saja tanaman baru yang dapat ditumbuhkan di tanah ini.***

Bagikan: