Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Umumnya berawan, 28.7 ° C

Pasirgintung

T Bachtiar
T Bachtiar

T Bachtiar

DI Tasikmalaya, Tangerang, Lebak, dan Majalengka, ada nama geografi Pasirgintung. Bukit yang semula banyak ditumbuhi pohon gintung (Bischofia javanica Blume). Nama lain dari gintung adalah gadog dan kimahung. Dua dari tiga nama untuk satu pohon yang sama itu sudah menjadi nama geografi, yaitu Gadog (Garut, Bogor), Gintungkerta (Karawang), Gintungkidul, Gintunglor, Gintungtengah, Gintungranjeng (Cirebon), Lawanggintung (Bogor), Situ Gintung (Tangerang Banten), dan Kampunggintung (Sukabumi). 

Karena rasa buahnya yang khas, maka buah gintung itu menjadi ungkapan dalam bahasa Sunda, yaitu: dipiamis buah gintung. Ungkapan ini menggambarkan perilaku atau sifat orang yang disangka baik hatinya, disangka orang baik-baik, ternyata sebaliknya.

Pohon gintung ini sudah dikategorikan pohon langka, namun masih dapat ditemukan di leuweung larangan, hutan tutupan milik masyarakat Kampung Naga, Tasikmalaya. Keberadaannya sangat berarti bagi masyarakat ini, sehingga dijaga dari kepunahan. Daun pohon gintung dipakai untuk membuat sawen, salah satu komponen sesajian dalam ritus adat di sawah. Warga Kampung Naga dengan teguh menjaga hutan larangannya, tidak tergiur dengan komersialisasi hutan menjadi hutan produksi, seperti yang dilakukan perseroan pelat merah, yang terjadi di banyak tempat di Pulau Jawa, kemudian hutannya beralih fungsi lagi menjadi kebun sayur. Maka segala akibatnya sudah dapat dipastikan, masyarakat di kaki gunung itu akan kekurangan air, kesuburan tanah terus menurun, dan dibayang-bayangi longsor yang mengancam.

K Heyne (1927) telah menguraikan pohon ini dengan sangat baik. Pohon gintung tumbuh di dataran rendah sampai ketinggian ± 1.500 meter di atas permukaan laut, tersebar di luas di Indonesia. Di Pulau Jawa dengan nama gadog, gintung, atau ki mahung (Sunda), géntung, gintung, gintungan (Jawa). Di Sumatra dengan nama tingkeum (Gayo), cingkam (Karo), singkam (Toba), géronjing, kérinjing (Melayu), bintungan (Minangkabau), simamo (Ternate), marinték (Minahasa), juga tumbuh di Kalimantan dan beberapa tempat lainnya.

Tumbuhan ini berupa pohon dengan ukuran sedang, tingginya mencapai 40 meter dengan diameter batang antara 95-150 sentimeter. Batangnya lurus, tanpa mata kayu atau banir akar, dan biasanya tidak beralur. Bentuk daun bundar telur yang berlekuk tiga, meruncing ke ujung daun. Duduk daun atau letaknya melingkar, dengan tangkai daun yang panjang. Perbungaan berbentuk malai, bercabang-cabang, setiap cabang memiliki bunga yang bertangkai panjang, yang mekarnya bergantian dari arah bawah ke atas, dengan ukurannya yang kecil dan terdapat di ujung batang. Besar buah antara 1,2-1,5 sentimeter dengan rasanya yang masam, tidak sesuai dengan warna buahnya yang terlihat seperti manis. Rupanya, inilah yang telah menginspirasi masyarakat Sunda lama untuk membuat peribahasa "dipiamis buah gintung".

Kayunya berat, padat, agak keras, kuat, berstruktur halus, dan tidak diserang rayap. Oleh karena itu, kayu ini banyak digunakan untuk membuat tiang rumah, jembatan besar, karena kayunya yang ditancapkan ke dalam air pun tahan lama, dan sangat baik untuk keperluan kerja di pertambangan. Kelebihan lainnya, kayu ini mudah dibentuk, namun sangat keras, sehingga paku yang ditancapkan lebih sering bengkok daripada menancap. 

Kayunya berwarna merah-coklat tua keunguan sangat indah, sehingga kayu gintung sangat disukai sebagai bahan bangunan pada, terutama masa pra kemerdekaan, dan menjadi bahan perabotan rumah tangga yang digemari saat itu. 

Papagan, tumbukan kulit kayunya sangat baik dan tahan sinar matahari untuk mewarnai mendong, pandan, keranjang bambu, dan keranjang rotan. Akan mencapai warna yang sangat baik dan indah bila pewarnaannya dilakukan dua atau tiga kali. Ketika kecrik, jala ikan, masih terbuat dari benang, untuk menjaga benang agar tidak cepat lapuk, maka pemiliknya sering ngareueuy, mencelup jala dengan godogan kulit gadog. Benang jala menjadi coklat kemerahan, bahkan mendekati hitam bila sudah sering direueuy.

Bukan hanya kulitnya yang biasa dijadikan pewarna, namun daunnya juga sering dimanfaatkan untuk mewarnai mendong, pandan, keranjang bambu, atau keranjang rotan. Dengan cara itu masyarakat menggunakan pewarna alami yang ramah lingkungan.

Selain menjadi zat pewarna, manfaat lain dari daun gintung itu dapat pengusir serangga yang menjadi hama tanaman, khususnya padi dan jagung. Para leluhur masyarakat Kampung Naga sudah tahu bahwa daun gintung dapat mengusir serangga. Maka pengetahuan itu disatukan dalam ritus di sawah dengan membuat sawen dari daun gadog. Arti ritus menyimpan sawen itu sesungguhnya memasang antiserangga alami dengan diiringin doa dan harapan kepada Tuhan Yang Maha Pemurah agar tanamannya selamat.

Tugas para ahli untuk meneliti kandungan yang ada dalam daun gintung, sehingga efektif digunakan sebagai pengusir hama yang ramah lingkungan, seperti sudah dipraktikan di Kampung Naga. Bila pengetahuan ini tersebar lebih luas, inilah yang dapat memutus rantai ketergantungan petani pada bahan kimia impor.***

Bagikan: