Pikiran Rakyat
USD Jual 14.503,00 Beli 14.405,00 | Umumnya berawan, 23.9 ° C

Buntut Hujan

Hawe Setiawan
Hawe Setiawan

Hawe Setiawan

LANGIT sama, bahasa berbeda-beda. Menurut bahasa ibu saya, di kolong langit ada tiga usum alias musim, yakni usum ngijih (musim hujan) dan usum katiga (musim kemarau), serta musim tersendiri di antara keduanya yang disebut dangdangrat atau dangdarat. Salju tidak datang ke kampung kami. Bunga-bunga bisa mekar kapan saja. Daun-daun berguguran jika kepanasan atau tertiup angin kencang. Biarlah hanya Antonio Vivaldi dari Itali yang merayakan simfoni “Empat Musim”. Ibu saya sendiri merayakan tiga musim saja.    

Usum ngijih sesungguhnya bukanlah musim bersedih. Setidaknya, dalam ingatan saya, hujan disambut dengan kegembiraan oleh kami, anak-anak kampung. Begitu hujan tiba, kami berlarian di sekitar halaman, telanjang bulat, bermain hujan, berguling-guling dalam lumpur kayak anak-anak lembu. Sungguh kegembiraan yang tak mungkin terulang.

Dari ingatan tentang musim hujan, sudah pasti, ada pula musik dan puisi. Sampai sekarang, di telinga saya masih terngiang-ngiang larik-larik lagu rakyat yang mengandung imaji musikal dan efeknya terasa mistis. Ujung tiap-tiap larik dipertautkan dengan purwakanti alias permainan bunyi. Idiom-idiomnya membawa asosiasi ke sejumlah hal yang lazimnya tidak behubungan. Begini bunyinya:

Trang trang koléntrang

si londok paéh nundutan

mesat gobang kabuyutan

tigebrus kana durukan 

Bahasa Sunda mengingatkan para penuturnya agar mau ditiung méméh hujan. Lazimnya ungkapan khas, kata-kata itu tidak bisa diterjemahkan. Paling kita carikan padanannya, misalnya dalam ungkapan Indonesia “sedia payung sebelum hujan”. Bahasa ibu saya memang mengenal nomina payung, malah punya istilah halusnya segala, yakni pajeng. Namun, dalam urusan hujan, idiom yang dipakai adalah tiung, yakni kategori umum untuk segala sesuatu yang dapat difungsikan sebagai tudung, mulai dari kain hingga daun pisang.

Langit, di mata kami, tidak hanya mengirim satu jenis hujan. Beragam istilah kami warisi buat membedakan antara hujan yang satu dan hujan lainnya. Sebut, misalnya, hujan ngagebrét, yaitu hujan yang sedemikian derasnya, seakan-akan semua cadangan air di langit ditumpahkan sekaligus ke bumi. Ada pula hujan ngaririncik, yakni hujan yang tak kunjung reda, dan ada kalanya disebut pula sebagai hujan ngiciprik. Lain lagi dengan hujan poyan, ialah hujan yang turun justru ketika matahari bersinar. Adapun hujan silantang hanya terdengar gemuruhnya di langit sedangkan airnya tidak sampai terkirim ke halaman rumah kita.  

Ada ungkapan hujan di girang caah di urang. Sastrawan Mien Resmana, kalau tidak salah, pernah menjadikan ungkapan ini sebagai judul salah satu bukunya. Secara harfiah, ungkapan itu melukiskan keadaan ketika nun di hulu sungai turun hujan dan di tempat kita berada terjadi banjir. Caah alias banjir lazimnya terjadi tatkala berlangsung hujan ngagebrét hingga walungan alias sungai dan kali tak kuasa menampung dan menyalurkan luapan air.

Secara metaforis, barangkali, ungkapan ini dapat mengingatkan kita kepada kelemahan kita sendiri, yakni ketika kita ikut-ikutan ruwet tatkala terjadi kekusutan di tempat yang jauh dari kita. Misalnya, ketika di Jakarta kaum elite politik berebut lapak, banyak orang di Bandung ikut-ikutan turun ke jalan. Itu terjadi ketika Jakarta dianggap sebagai girang alias hulu, sedangkan daerah-daerah lainnya dianggap sekadar hilir.

Dari kamus Danadibrata, saya memungut istilah buntut hujan. Diterangkan bahwa istilah itu mengacu kepada gumpalan awan yang sedemikian pekatnya, dan tanda-tanda akan segera turun hujan jelas terlihat. Dalam keadaan seperti itu, kita biasanya baru teringat pada kelemahan kita yang lain lagi, yakni lalai menyiapkan diri menyambut apa yang lazim terjadi. Ketika segalanya terlambat, kita baru sibuk menangani ini dan itu seraya mereka-reka banyak alasan buat menutupi kelemahan kita sendiri. Lebih menyedihkan lagi, hujanlah yang seringkali disalahkan. Padahal, kata teman saya yang prihatin, alam hanya menyeimbangkan diri sehubungan dengan ketidakseimbangan yang dibuat oleh manusia.

Ketika segalanya terlambat kita baru ingat lagi kepada program sumur resapan, pemulihan ruang terbuka hijau, pemeliharaan danau, dan sebagainya. Dalam bahasa ibu saya, itu sih namanya ditiung geus hujan. Di antara hujan dan kemarau, seakan-akan kita tidak ingin memilih satupun. Ketika turun hujan, kita merindukan kemarau. Ketika kemarau tiba, kita memanjatkan doa hujan. Untung ada usum dangdangrat yang sesungguhnya memberi kita kesempatan buat mengantisipasi kedua ekstrem.***

 

Bagikan: