Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Umumnya berawan, 27.8 ° C

Banjir Bandung

Karim Suryadi
Karim Suryadi

Karim Suryadi

WAJAH warga Kota Bandung ngembang kadu (olohok, melongo), matanya ngembang cabe (bolotot, melotot) menyaksikan caah dengdeng (banjir bandang) yang melanda daerah di sekitar Sungai Citepus, khususnya ruas Jalan Pagarsih, Kelurahan Cibadak, Kecamatan Astanaanyar dan kawasan Jalan Pasteur, beberapa meter menjelang gerbang Tol Pasteur, 24 Oktober 2016 silam. Banjir yang ditaksir terparah dalam sejarah Kota Bandung 20 tahun terakhir, menyisakan puluhan keluarga korban yang hanya bisa ngembang cikur (jelengut, bengong), sementara warga lainnya di seantero Nusantara ngembang waluh (alewoh, saling membicarakan dan bertanya) di media sosial.

Saat kabar Banjir Kota Bandung tersiar di media sosial, saya sedang membaca berbagai pengalaman terbaik (best practices) para guru di Australia dalam mengajarkan berbagai aspek lingkungan yang berguna bagi kehidupan murid di perpustakaan Deakin University, Melbourne, Australia. Terekam dalam laporan, bagaimana guru biologi memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai media pembelajaran. Demikian pula guru olah raga memanfaatkan pantai sebagai sarana untuk membekali muridnya keterampilan menikmati sapuan ombak dengan aman.

Guru biologi bukan hanya menjelaskan bagian-bagian dari bunga, tetapi mengajak murid-muridnya ke kebun sekolah. Sebuah kebun yang tidak besar, namun cukup untuk menanam beberapa pohon sayuran, seperti cabe (Capsicum annum), tomat (Lycopersicon esculentum), leunca (Solanum nigrum), dan beberapa tanaman bunga. Sebagaimana teramati dalam video, murid kelas satu sekolah dasar mahir menyebut nama bagian-bagian bunga dan menunjukkannya. Ini sebuah pembelajaran yang aktual dan tidak verbalistik (hanya menghafal istilah). Pun mereka pun diyakinkan, tentang manfaat tanaman-tanaman tersebut, baik sebagai sumber makanan maupun obat.

Di Indonesia pun, murid dituntut mengenali alam dan lingkungannya. Bahkan dalam pelajaran bahasa Sunda, murid di sekolah dasar diperkenalkan dengan nama-nama bunga seperti disebut dalam tulisan ini. Sayangnya, banyak di antara mereka yang belum pernah tahu seperti apa bunga kadu, cabe, cikur, atau waluh. Tentu saja mereka tidak akan paham, bagaimana memanfaatkan bunga-bunga tadi untuk hidupnya, sebab kebanyakan guru basa Sunda hanya mengajarkan nama "kekembangan” dan menyuruh murid menghafalkannya untuk dites pada pertemuan berikutnya.

Pada bagian lain, saya menemukan laporan menarik tentang kebiasaan guru olah raga di Australia. Meski kebanyakan sekolah memiliki kolam renang yang bertaraf internasional, namun mengajak murid berenang dan mengenali lingkungan pantai menjadi pelajaran penting karena ketika libur banyak murid memburu pantai. Sebelum berlatih teknik berenang, para murid mendapat informasi "lapangan" dari nelayan yang disewa, tentang jenis-jenis angin, permukaan pantai dan ombak yang ditimbulkannya, tempat yang aman untuk berenang, dan teknik menghindari jebakan ombak, dan pengetahuan lain yang berguna untuk menikmati keindahan ombak dan pantai secara aman.

Coba tanyakan kepada murid sekolah di sekitar Anda, pernahkah mereka diajak guru olah raganya berenang di kali atau laut? Tanyakan pula kepada murid yang tinggal di sekitar Pangandaran, Indramayu, atau Teluk Jakarta, pernahkah guru olah raga melakukan seperti apa yang dipraktikan koleganya di Australia? Bila guru olah raga di Australia membekali muridnya keterampilan dan pengetahuan menikmati pantai dan ombak secara aman untuk kepentingan berlibur, pernahkan guru olah raga, atau guru biologi atau guru apa pun membekali muridnya dengan pengetahuan dan keterampilan yang berguna untuk bekal hidup mereka sebagai anak pantai?

Masyarakat Indonesia sangat akrab dengan alam. Buktinya, secara sosiolinguistik bisa ditelusuri fakta, banyak nama daerah yang menggunakan nama sungai atau pepohonan. Di Bandung misalnya, ada Kampung Cijengkol, Gegerkalong, Cigondewah, dan lain-lain. Di Jakarta, ada Pedurenan, Kemanggisan, atau Rawa Bebek. Nama serupa dengan mudah ditemukan di daerah lain, meski di tempat-tempat yang dimaksud: pohon, rawa, atau sungai hanya tinggal nama.

Inilah tragisnya hidup kita. Selain karena faktor cuaca (hidrometeorologi), keadaan permukaan lahan, atau aliran sungai yang sudah berubah, tindakan dan pola pikir kita sebagai penghuni bumi pun makin menjauh dari hukum yang mengatur hubungan manusia dengan alam. 

Celakanya, selain abai menganalisis dampak perubahan lingkungan, kita pun alfa melengkapi diri dengan perangkat terpadu kebencanaan. Beberapa daerah sudah aktif melakukan pelatihan kesiapsiagaan, tanggap darurat, dan pemulihan pascabencana, namun banyak daerah belum melakukannya. Namun, tantangan paling mendasar sebenarnya bagaimana keterpaduan penanggulangan bencana disiapkan dalam bentuk rencana kontijensi dan rencana operasi seperti tentara menyiapkan pertempuran?

Lebih dari itu, tindakan menjauhi (bahkan memusuhi) lingkungan tempat tinggal pun terus terjadi. Nahasnya, ini mulai dari sekolah. Sekolah yang berlokasi di pantai tidak memanfaatkan lingkungan pantai sebagai sumber pembelajaran. Demikian pula sekolah yang dikelilingi hutan menjelaskan jenis-jenis hutan dan pohon yang tumbuh di dalamnya hanya mengikuti cerita yang ditulis dalam buku paket. Padahal, di samping kiri dan kanan sekolahnya berderet jenis pohon, berjajar ragam tanaman, dan bergerombol tumbuhan perdu yang hidup di sela-sela pohon.

Saking abainya, kita hanya pasrah menerima "banjir tahunan". Cap daerah langganan banjir pun dilekatkan kepada daerah pinggiran sungai, seperti kawasan Cieunteung di Kabupaten Bandung, dan diterima tanpa penolakan.

Alih-alih mencari solusi jangka panjang, pemerintah daerah malah mewanti-wanti masyarakat untuk bersabar, atau menggiring mereka untuk pindah ke daerah aman. Padahal, sumber penghidupan mereka ada di sana.

Lepas dari bencana, sekolah dan murid harus menanggung beban baru. Ketika kota dilanda darurat sampah atau banjir, muncul kebijakan pemerintah untuk memasukan sampah dan banjir sebagai muatan lokal. Beu, mau sampai kapan kurikulum dijadikan keranjang kepentingan? Padahal, banyak keterampilan hidup bisa dilatihkan tanpa mengubah struktur kurikulum atau menambah beban murid.

Kuncinya, penataan kota atau kawasan tidak boleh didasarkan atas kehendak penguasa semata, namun memunggungi rencana tata ruang dan wilayah. Lebih dari itu, berhentilah berpikir parsial dalam membuka kawasan atau permukiman baru. Banyak permukiman baru dibangun, namun tidak dipikirkan kemana drainase dialirkan, ke mana sampah warga dibuang, dan bila ada yang meninggal dimana mereka akan dikuburkan.

Sudah saatnya pula menghentikan sekolah sebagai sarana menjauhkan murid dari lingkungan, sebab murid takkan mampu hidup di gudang ilmu yang terpisah dari lingkungannya. Inilah politik pendidikan yang harus digariskan, bukan semata mencetak murid sebagai pemandu sorak atas prestasi seorang temannya yang meraih skor tertinggi dalam ujian akhir.***

Bagikan: