Pikiran Rakyat
USD Jual 14.619,00 Beli 14.521,00 | Berawan, 22.1 ° C

Anawadak Jadi Tanjungsari

T Bachtiar
T Bachtiar

T Bachtiar

BILA membaca sejarah Kabupaten Bandung, dapat pastikan akan membahas tentang pemindahan ibu kota Kabupaten Bandung dan Parakanmuncang. Mengapa Daendels begitu ngotot untuk memindahkan ibu kota tersebut? Karena Daendels menginginkan agar rentang kendali terhadap kedua kabupaten itu lebih mudah, terutama setelah selesainya Jalan Raya Pos. Jadi, pemindahan ibu kota Kabupaten Bandung ke tempat sekitar Alun-alun Bandung sekarang, bukanlah karena alasan ibu kota Kabupaten Bandung di Karapyak sering kebanjiran seperti dikemukakan Prof Dr Dede Mariana (Teropong-Pikiran Rakyat, 15 Desember 2008).

Sebetulnya, ibu kota Kabupaten Parakanmuncang sudah berdekatan dengan Jalan Raya Pos, tapi terlalu dekat dengan ibu kota Kabupaten Bandung yang baru, maka ibu kotanya harus digeser ke Anawadak, Tanjungsari sekarang. Kondisi saat itu, Karapyak dianggap terlalu jauh rentang kendalinya, karena lokasinya jauh di selatan Jalan Raya pos. Jalan itu semula berupa jalan sebahu yang sudah lama ada, yang menjadi jalan penghubung antara pusat-pusat kerajaan sebelumnya. Pada tahun 1809, Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels mulai memperlebar dan mengeraskan jalan sebahu itu menjadi jalan yang bisa dilalui kereta pos yang menghubungkan kota-kota di Pulau Jawa dari Anyer hingga Panarukan.

Daendels sudah lama ingin segera memindahkan ibu kota Kabupaten Bandung, sehingga ketika meresmikan jembatan Ci Kapundung di dekat PLN sekarang, Daendels bersama Bupati Kabupaten Bandung berjalan ke arah timur. Lalu, dengan angkuh, Daendels menancapkan tongkat dan setengah mengancam bupati, "Coba usahakan, bila aku datang kembali, di tempat ini telah dibangun sebuah kota."

Tidak cukup dengan ancaman itu, untuk menguatkan keinginannya, Herman Willem Daendels pun menulis surat pada tanggal 25 Mei 1810, yang bunyinya, setelah diterjemahkan oleh Dr A Sobana Hardjasaputra adalah sebagai berikut:

"Setelah memberitahukan dengan surat kepada penguasa Jakarta dan daerah pedalaman Priangan bahwa ia telah mendengar ketika mengadakan inspeksi yang terakhir bahwa ibu kota Bandung dan Parakanmuncang terletak jauh dari jalan yang baru, sehingga pekerjaan pembuatan jalan itu terlambat, oleh karena itu diusulkan untuk memindahkan ibu kota tersebut, yaitu (ibu kota) Bandung ke Ci Kapundung dan (ibu kota) Parakanmuncang ke Anawadak. Kedua tempat itu terletak di jalan besar dan selain itu sangat cocok dan disamping pemindahan yang telah disebutkan juga mengenai beberapa tanam-tanaman akan dapat ditingkatkan karena lahan yang diusulkan menjadi ibu kota dan sekitarnya sangat subur; bilamana keputusan asul mengenai pemindahan ibu kota Bandung ke Cikapundung dan Parakanmuncang ke Anawadak tersebut diterima, mohon Paduka memberikan otoritas dan perintah yang harus dilaksanakan."

Dr A Sobana Hardjasaputra menulis, Anawadak adalah Tanjungsari sekarang, dan perubahan nama dari Anawadak menjadi Tanjungsari terjadi pada dekade kedua abad ke-19, atau pada tahun 1820-an.

Menurut Prof Johan Iskandar, anawadak itu tidak sama dengan hahayaman (Gallicrex cinerea). Anawadak (Anas superciliosa) atau disebut juga itik gunung. Dalam suatu survei tahun 1980-an, Johan Iskandar pernah menemukannya di Danau Ciharus – Kamojang, Kabupaten Bandung.

John MacKinnon (1993) mendeskripsikannya sebagai itik berukuran besar (55 cm), berwarna coklat gelap dan mencari makan di permukaan air. Burung ini mudah dikenali dari kepalanya yang bergaris hitam. Terdapat spekulum (bulu sekunder di sayap yang memiliki warna mencolok), yang berkilat hijau gelap sampai ungu. Bagian bawah sayap berwarna putih yang sangat kontras dengan warna bulunya yang hitam.

Irisnya coklat, paruhnya abu-abu gelap, kakinya berwarna kuning suram atau coklat, dengan suaranya yang mirip itik yang sudah jinak. Di Jawa Barat, itik gunung banyak terdapat di danau-danau di pegunungan. Banyak dijumpai di danau atau rawa-rawa yang ditumbuhi buluh, umumnya di pegunungan yang tingginya sampai 3.000 meter dpl. Di tepian danau yang dangkal, anawadak mencari makan berupa sayur-sayuran, biji-bijian, dan invertebrata. Bertelur pada awal tahun sekitar bulan Februari. Jumlah telurnya antara 8-13 butir berwarna putih, yang diletakkan pada sarang bersusun dari bulu lembut dan halus, terdapat di atas permukaan tanah atau di lubang pada pohon.

Di kawasan Anawadak atau Tajungsari tempo dulu, masih banyak situ atau lahan basah alami yang menjadi habitat itik gunung. Menurut Dadan Sutisna, pekamus/leksikograf, cerpenis, di sekitar Tanjungsari sekarang, ada nama-nama tempat yang berciri air, seperti Cisitu. Menurut para orang tua di sana, memang kawasan Cisitu dulunya adalah berupa danau alami.

Di situ gunung dan lahan basah alami inilah anawadak hidup dengan merdeka. Namun sayang, bersama banyak menghilangnya situ dan lahan basah alami di kawasan tersebut, serta banyaknya perburuan itik gunung ini, maka anakwadak pun menghilang. Masih adakah anawadak di sana? Anawadak sebagai nama ibu kota Parakanmuncang kini berganti menjadi Tanjungsari.***
Bagikan: