Pikiran Rakyat
USD Jual 14.644,00 Beli 14.546,00 | Cerah berawan, 27.6 ° C

Cianjur

T Bachtiar
T Bachtiar

T Bachtiar

PERSAWAHAN yang terhampar luas dengan sumber air yang tak pernah kering, telah mengantarkan Cianjur menjadi gudang beras yang sangat terkenal karena rasa dan aromanya yang pulen dan wangi. Anugerah alam yang subur ini telah meninggalkan jejak sosial yang terpatri dalam kesantunan dan religiusitas yang tinggi dari warganya.

Kecantikan Cianjur sebagai ibu Kota Priangan sudah tidak diragukan lagi. Bengal Civilian (Charles Walter Kinloch), pada tahun 1852 menyusuri jalan dari Jakarta–Bandung–Cianjur–Sumedang–Cirebon–Tegal–Bumiayu–Banyumas–Kebumen–Purworejo–Magelang–Borobudur–Salatiga–Semarang. Dari Semarang kembali ke Jakarta dengan kapal laut. Catatan perjalannya kemudian dihimpun dalam buku Rambles in Java and The Straits in 1852. Bagaimana kesan dia setibanya di Cianjur? Walter menulis, "Desa yang cantik, memiliki udara yang bersih dan nyaman."

Cianjur yang terletak di sebelah timur Gunung Gede ini mempunyai daya pikat tersendiri sehingga kota yang berada dalam perlintasan jalan raya pos antara Jakarta-Bogor-Bandung ini pernah menjadi ibu Kota Priangan. Sejak tahun 1856, satu tahun setelah Gunung Gede meletus, pemerintahan saat itu sudah memerintahkan untuk pemindahan ibu kota Priangan dari Cianjur ke Bandung. Namun, kepindahannya baru terlaksana mulai tahun 1864. Dalam beberapa sumber dituliskan bahwa kepindahan itu berbarengan dengan meletusnya Gunung Gede. Tapi, bila mengacu pada buku "Data Dasar Gunungapi Indonesia" suntingan K Kusumadinata (1979), pada tahun 1864 tidak terjadi letusan. Letusan Gunung Gede yang berdekatan dengan tahun-tahun itu terjadi pada tahun 1853 dan 1866.

Kecantikan Cianjur dan pesona warganya, telah menginspirasi terciptanya lagu "Semalam di Cianjur" pada tahun 1963. Lagu inilah yang semakin mengukuhkan keberhasilan Alfian, seorang pemuda kelahiran Binjai, Sumatra Utara, 27 April 1943, menjadi biduan yang sangat sampai saat ini, populer pada tahun 1960-an, bahkan sampai saat ini, lagu-lagunya abadi menjadi lagu kenangan.

Kan kuingat di dalam hatiku

Betapa indah semalam di Cianjur

Janji kasih yang tlah kuucapkan

Penuh kenangan yang takkan terlupakan.

Tapi sayang, hanya semalam 

Berat rasa perpisahan

Namun ku telah berjanji

Di suatu waktu kita bertemu lagi.

Di sebelah barat Cianjur, menjulang Gunung Pangrango (+‎3.019 mdpl) dan Gunung Gede (+2.958 mdpl), yang sangat berpengaruh pada pembentukan rona bumi dan kesuburan kawasan Cianjur saat ini. Sekitar 1,8 juta–700.000 tahun lalu, Gunung Gede pernah meletus dahsyat. Laharnya yaitu aliran bahan letusan gunung api yang bercampur air, meluber ke berbagai arah, tersebar sangat luas dan tebal, bukan hanya menyapu wilayah Cianjur saat ini, namun mengalir ke arah Sukabumi. Jumlah laharnya sangat banyak sehingga meluas ke berbagai arah, membanjir ke arah timur melampaui aliran Ci Laku, Ci Kondang, dan Ci Sokan, menerus sampai ke Cibarengkok, Bojongpicung, Cirameuwahgirang, Cipetir, Cipeuyeum, dan Halu. Di beberapa tempat di Cianjur, ketebalan laharnya ada yang mencapai 100 meter. Setelah mengalami pelapukan selama puluhan ribu tahun, material letusan Gunung Gede ini menjadi sawah yang subur. Kesuburan tanahnya didukung oleh lingkungan yang terjaga, sehingga pasokan air tak pernah kering. 

Jauh sebelum Gunung Pangrango dan Gunung Gede meletus dahsyat, Kawasan Cianjur dibentengi oleh dua gunung api purba yaitu Gunung Kancana (+1.233 mdpl) di selatan dan Gunung Manangel (+903 mdpl) di utara. Umur kedua gunung ini sudah sangat tua, dapat dicirikan dengan lembah-lembahnya yang dalam.

Bila melihat rona bumi Cianjur, sangat mungkin hunian awal tidak berada di sekitar ibu kota Cianjur sekarang, melainkan sedikit lebih ke utara, bermukim pada ketinggian antara +460 mdpl sampai dengan +600 mdpl yaitu di ujung-ujung paling depan dari punggungan gunung api purba Manangel, yang biasa disebut tanjung, bojong, bobojong atau anjur, dengan arah baratlaut–tenggara.

Di ujung punggungan yang menganjur itulah, dari dulu sampai sekarang banyak dijadikan tempat hunian. Seperti di kaki Gunung Manangel, di ujung tanjung atau bojong, terdapat permukiman yang dinamai Bojongmenteng, sekitar 1,5 kilometer. sebelah utara Cianjur. Kampus UNSUR (Universitas Suryakancana) pun berada di ujung tanjung pada ketinggian +460 mdpl, yang diapit oleh dua sungai.

Bila menyimak arti kata anjur dalam Cianjur, sangat mungkin mempunyai makna sebagai bojong, bobojong, atau tanjung, yaitu daratan yang menjorok ke depan, menonjol ke muka, atau yang menganjur ke air.

Dalam "A Dictionary of the Sunda Language" karya Jonathan Rigg (1862), anjur adalah alat untuk mengeluarkan air dari kubangan, yang dibuat dari tongkat bercabang dua. Upih, pelepah pohon pinang atau kulit yang lebar, diikatkan di dua cagak itu yang berfungsi sebagai embernya.***

Bagikan: