Pikiran Rakyat
USD Jual 14.558,00 Beli 14.460,00 | Umumnya berawan, 24.6 ° C

Kembang Buruan

Hawe Setiawan
Hawe Setiawan

Hawe Setiawan

SAYA beruntung karena dibesarkan di lingkungan perdesaan tempat banyak rumah memiliki pekarangan yang luas. Sekian puluh tahun lalu, di desa kami, rumah-rumah berorientasi horisontal, memanjang dan melebar, menuruti permukaan lanskap; tidak vertikal, bertumpuk dan meninggi, seperti di kota-kota dewasa ini. Antara rumah yang satu dan rumah lainnya, terbentang ruang yang cukup lapang, semacam perantara dalam hidup bertetangga. Selalu ada pekarangan di sekeliling kami.

Dalam bahasa ibu saya, pekarangan rumah disebut buruan. Saya tidak tahu asal-usul istilah itu. Setahu saya, kata buruan tidak punya kaitan apa-apa dengan istilah buru yang terkait dengan urusan waktu. Buruan adalah nomina alias kata benda yang merujuk kepada ruang terbuka di sekeliling rumah kita. Anak yang baru tumbuh, yang usianya sekitar tiga hingga lima tahun, biasanya dijuluki sebagai "kembang buruan". Mereka memang suka bermain di pekarangan, serupa kembang yang lagi mekar di dunia luar. Merekalah hiasan lanskap yang paling menawan. Buruan adalah "taman kanak-kanak" yang sesungguhnya.

Fungsi sosial buruan sungguh luas, mulai dari fungsi sebagai tempat bermain anak-anak hingga fungsi sebagai tempat berkumpulnya warga permukiman. Kalau sesekali ada kenduri, atau kalau ada anggota keluarga yang mati, tetangga-tetangga berkerumun di situ. Di buruan bisa berlangsung percakapan, pertukaran pikiran, penegasan berulang-ulang bahwa aku dan kamu memang hidup bersama.

Mungkin itu sebabnya, kalaupun buruan dikasih pagar, baik yang berupa bilahan bambu maupun yang berupa perdu, tinggi pagar lazimnya tak seberapa. Lagi pula, yang diperlukan hanya tanda, semacam batas ruang, yang di tiap pojokannya ditanami hanjuang. Buruan tidak menampik siapapun, melainkan justru mengundang sesama. Orang membuka diri, menghadapi dunia luar bukan dengan curiga, melainkan dengan percaya. Sapaan punten dibalas dengan mangga, sebagaimana sampurasun dengan rampés.

Fungsi ekologis juga terasa. Di buruan tumbuh pepohonan, yang tinggi dan yang rendah, yang berbuah dan yang memberikan kesan indah. Permukaan tanah adalah pelataran bagi hamparan rumput atau lumut. Kalaupun sengaja ditutupi, paling dengan kerikil atau bebatuan kecil, sekadar menghindari kemungkinan becek di kala hujan. Air hujan itu sendiri tidak ditampik atau diusir ke selokan, melainkan dibiarkan meresap ke dalam tanah, menambah cadangan air bagi kelangsungan hidup penghuni kampung. Jauh di bawah tanah, di sekitar akar pepohonan, niscaya ada semacam danau tersembunyi, sumber penghidupan yang tiada habisnya.

Siapa pula yang melupakan fungsi ekonominya? Di buruan, sebagian kebutuhan kita terpenuhi. Tomat dan labu, surawung dan cabai rawit, bahkan mangga dan kelapa, bisa tumbuh di situ. Ikan-ikan berenang di kolam. Ayam-ayam berkotek dan berkeliaran di seantero pekarangan. Tidak semua harus datang dengan uang. Di musim panen, kalau matahari lagi terik, buruan juga menjadi tempat menjemur hasil bumi seperti padi dan banyak lagi. Terlihat jelas jejak-jejak ekonomi subsisten yang dilangsungkan dengan disiplin tani. Di situ, dengan tenaga mandiri, kita belajar dan berupaya memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Terakhir tapi tak kurang pentingnya adalah fungsi budaya. Di ruang terbuka itulah, anak-anak kampung seperti saya berkenalan dengan beragam atraksi seni, seperti pencak silat, wayang golék, réog, calung, debus, dan sebagainya. Buruan adalah semacam panggung kesenian, juga panggung tempat kita belajar berekspresi. Di buruan berlangsung pewarisan budaya dari satu ke lain generasi. Di buruan berlangsung pendidikan dan pengajaran yang wajar, berakar, dan menyenangkan. Begitu banyak tradisi yang tumbuh, dipelihara, dan dikembangkan melalui perantaraan buruan.

Saya beruntung karena bisa mengenang buruan, di sini, di kota yang kian padat ini, seraya menyaksikan burung-burung gereja hinggap di bentangan kabel listrik, dan menyaksikan anak saya bermain bola bersama teman-temannya di mulut gang sempit sambil menghindari teror sepeda motor dari waktu ke waktu.***
Bagikan: