Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Hujan singkat, 21.1 ° C

Ngais Pasir

T Bachtiar
T Bachtiar

T Bachtiar

BENCANA demi bencana terus terjadi, berulang setiap tahun. Puluhan nyawa melayang berbarengan dengan tertimbun atau hanyutnya rumah dan hartabendanya, kebun, sawah, jalan, jembatan, banyak yang mengalami kehancuran yang tak terkirakan sebelumnya. Bencana demi bencana terus silih berganti, datang dengan semakin berat, dengan jangkauan yang semakin luas.

Pada musim penghujan, yaitu beberapa bulan di akhir tahun, dan pada bulan-bulan pertama di awal tahun terjadi hujan lebat yang menyuburkan lahan-lahan yang kering. Itulah siklus alam. Pergerakan semu tahunan matahari yang bergerak ke utara, lalu berbalik ke selatan, menjadikan bumi ini kaya ragam. Arah angin berubah, bila datang dari arah utara, maka di Indonesia terjadi musim penghujan. Dan, bila anginnya berhembus dari selatan, maka di Indonesia terjadi musim kemarau. Jadi, bila sekarang turun hujan berhari-hari, itu sesunguhnya bukan hanya terjadi pada tahun ini, tapi juga terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.

Orang sering kali keliru dalam melihat sebab dari suatu peristiwa alam. Kini, dengan banyaknya bencana alam di mana-mana, lalu orang banyak menyalahkan terjadinya hujan. Padahal, bukan hujannya yang menjadi faktor utama dalam terjadinya banjir lumpur dan longsor, melainkan keadaan tutupan serta cara pengolahan lahan. Untuk kasus di Cekungan Bandung, W.A. van der Kars (1995) melaporkan, curah hujan selama 135.000 tahun, justru menunjukkan adanya penurunan yang berarti.

Banjir lumpur yang kini terjadi di mana-mana, sesungguhnya karena lereng-lereng bukit dan gunung yang curam keadaannya sudah boleger, sudah terbuka menjadi luka alam yang menganga. Begitu hujan turun, tanah pucuk yang subur langsung digerus, dialirkan ke lembah-lembah mengisi dan mendangkalkan sungai dan danau.

Karena kehancuran lingkungan di hulu sungai, pada tahun 1982, PU melaporkan, Danau Saguling menerima kiriman sebanyak 4 juta meter kubik lumpur setiap tahunnya, yang setara dengan 500.000 truk tronton. Sejak laporan itu dibuat sampai tahun 2015, maka jumlah lumpur yang masuk ke danau Saguling sebanyak 136.000.000 meter kubik atau setara dengan 17.000.000 truk tronton, bila semua lumpur itu mengendap di dasar danau.

Demonstrasi alam berupa banjir dan longsor merupakan bukti telah terjadi kehancuran lingkungan yang sudah berlangsung lama. Yang berwajib yang mempunyai otoritas untuk melihat penyebab secara jernih. Cara bertani yang hanya memikirkan keuntungan sesaat, sudah mereka sudah melupakan kehidupannya saat ini dan masa depan, karena nilai dari kesuburan tanah itu waktu ke waktu, kualitasnya terus menurun.

Masyarakat Sunda sesungguhnya sudah mempunyai konsep bertani di lahan kering yang ramah lingkungan dalam, seperti tercermin dalam pembagian fungsi hutan, ada hutan larangan, ada hutan garapan, ada talun, dan ada ladang yang dikelola oleh masing-masing keluarga. Mengelola lahan garapannya dengan konsep ngais pasir.

Ngais, dalam bahasa Sunda berarti mendekap bayi di dada dengan selembar kain panjang. Yang diais itu adalah sesuatu yang sangat berharga, seperti bayi. Sedangkan pasir berarti bukit. Analogi tanah dengan bayi pada masyarakat Sunda, hal yang sama ditulis oleh Tom Dale dan Vernon Bill dalam bukunya Topsoil and Civilisation:
“Manusia beradab hampir selalu berhasil menguasai alam untuk sementara waktu. Kesulitan yang dihadapi terutama bersumber pada fikirannya, bahwa kekuasaan yang bersifat sementara itu dikiranya abadi. Dia menganggap dirinya ‘menguasai seluruh dunia’, padahal dia tak mampu mengetahui hukum alam sepenuhnya. Manusia, baik biadab maupun beradab, adalah anak alam, bukan tuan yang menguasai alam. Kalau dia mau mempertahankan kekuasaannya atas alam, dia harus menyesuaikan diri pada hukum-hukum alam. Jika mengelak, lingkungan yang mendukung hidupnya akan merosot, maka peradabannya akan memudar pula. Pada garis besarnya, sejarah manusia beradab yang berjalan di muka bumi meninggalkan padang pasir di jejak kakinya.”

Bertani ladang dengan cara ngaispasir, itu menunjukkan, bagaimana upaya masyarakat dalam memelihara lahan yang digarapnya, yang telah memberikan kehidupan dan kegembiraan, diibaratkan bayi yang sedang dibesarkannya, perlu dirawat dan dijaga agar sehat. Memelihara tanah pucuk yang subur dengan cara diais, ditanami pohon, dibuat teras-teras, dibuat sengkedan yang mengikuti garis ketinggian, sehingga tanah subur itu tidak hilang digerus air.

Wiranto Arismunandar, Rektor ITB periode 1991-1996, dalam diskusi pembangunan Jawa Barat Selatan (9/11/2007) menyebutkan, pembangunan Jawa Barat harus berpangkal dari pembangunan hutan. Kesejahteraan masyarakat akan membaik bila pembangunan kehutanannya berhasil. Wiranto berkeyakinan, tidak perlu tenaga nuklir bila hutan benar-benar dibangun kembali dan terjaga.

Adanya gerakan menanam pohon seperti “rakgantang”, merupakan langkah yang sangat baik untuk menyelamatkan masyarakat Jawa Barat dari berbagai dampak yang sangat menyengsarakan. Betulkah para pemimpin dan masyarakat Jawa Barat mencintai lemah cai-nya, sekarang saatnya untuk dibuktikan!***
Bagikan: