Pikiran Rakyat
USD Jual 14.619,00 Beli 14.521,00 | Berawan, 22.6 ° C

Pembunuhan Nomina

Hawe Setiawan
Hawe Setiawan

Hawe Setiawan

KENAPA slogan merokok membunuhmu terdengar janggal? Salah satu pangkal soalnya adalah asal-usulnya. Jelas, ungkapan populer dalam kampanye antitembakau ini merupakan terjemahan harfiah dari ungkapan dalam bahasa Inggris: "smoking kills you". Terjemahannya sih tidak salah, tapi naif. Seakan-akan penerjemahnya takut dosa atau, boleh jadi, takut dihukum oleh kekuatan imperial di balik pesan kampanye itu.

Meski kata-katanya memang tergolong bahasa Indonesia, tapi ungkapan "merokok membunuhmu" pada dasarnya merupakan ungkapan bahasa Inggris. Itu sebabnya, alih-alih menjadikan penutur bahasa Indonesia takut, ungkapan itu malah menimbulkan kesan konyol. Sungguh lucu, seperti keluar dari lidah ekspatriat yang belum fasih berbahasa Indonesia. Bayangkan, sebagai perbandingan, betapa lucunya jika ungkapan "thank you for coming" diterjemahkan menjadi "terima kasih untuk datang", sebab terjemahan yang tepat adalah "terima kasih atas kedatanganmu".

Sekali pernah, sebagai penyunting naskah buat publikasi, saya menerima terjemahan dalam bahasa Sunda dari sebuah cerpen yang aslinya berbahasa Inggris. Dalam terjemahan itu ada dialog antartokoh cerita yang mengandung pertanyaan janggal: "Naon nu tumiba ka anjeun?" Seketika, saya berkerut jidat. Menurut hemat saya, pertanyaan itu tidak realistis, dalam arti tidak pernah saya dengar dalam dialog sehari-hari di antara para penutur bahasa Sunda. Waktu saya baca teks aslinya, ternyata pertanyaan dimaksud berbunyi, "What happened to you?" Masya Allah! Sepatutnya ungkapan ajaib "naon nu tumiba ka anjeun?" itu diganti dengan "kunaon, euy?" atau "aya naon?"

Kiranya, tidak berlebihan jika kita membedakan antara kegiatan menerjemahkan teks asing dan kegiatan mengindonesiakan teks asing. Maksud teks asing sepatutnya tidak sekadar dipindahkan dari satu ke lain bahasa seperti kita memindahkan pot kembang dari halaman rumah tetangga ke halaman rumah kita. Maksud teks asing sepatutnya diadaptasikan atau diselaraskan dengan kelumrahan ungkapan dalam bahasa Indonesia. Biar hasilnya tidak keinggris-inggrisan. Biar terjemahannya tidak janggal.

Dalam kasus "merokok membunuhmu", kita tidak hanya melihat gejala keinggris-inggrisan, melainkan juga melihat tumpukan kata kerja alias verba, yakni "merokok" dan "membunuh". Serakah amat! Satu ungkapan, dua kata kerja. Saya jadi bingung, mana yang mau ditekankan: "merokok" ataukah "membunuh", ataukah kedua-duanya? Lazimnya, sebelum kata kerja, penutur bahasa Indonesia menempatkan kata benda alias nomina. Karena itu, kejanggalan slogan tersebut niscaya berkurang sekiranya di antara kedua verba itu ada yang mau mengalah untuk diubah menjadi nomina. Misalnya: "rokok membunuhmu".

Namun, nanti dulu. Setahu saya, penutur bahasa Indonesia tidak suka sembarangan dengan urusan bunuh-bunuhan. Kata "membunuh" lazimnya terpaksa dipakai jika memang ada orang bermata gelap yang tega menikam jantung lawan politiknya hingga orang yang ditikam itu mati. Pasti lain ceritanya dengan penutur bahasa Inggris. Sering saya dengar penutur bahasa Inggris bilang, "You’re killing me" manakala tindak-tanduk lawan bicaranya dirasakan memberatkan dirinya. Dengan kata lain, "kill" dari bahasa Inggris belum tentu tepat jika diindonesiakan menjadi "membunuh". Tidak mustahil kita mesti mengindonesiakannya menjadi "merepotkan", "menyusahkan", "menyiksa", dan sebagainya.

Kalaupun anda begitu gandrung dengan urusan bunuh-bunuhan, kejanggalan slogan "merokok membunuhmu" rasanya bisa dikurangi dengan menaruh kata "itu" di antara "merokok" dan "membunuh". Jadinya, "merokok itu membunuhmu". Yang jelas, selagi saya masih bingung perihal siapa yang "merokok" dan siapa yang "membunuh", slogan keinggris-inggrisan itu sendiri sesungguhnya telah melakukan pembunuhan. Itulah pembunuhan atas kata benda.***
Bagikan: