Pikiran Rakyat
USD Jual 14.449,00 Beli 14.351,00 | Umumnya berawan, 25.5 ° C

Kretek Sosial

Hawe Setiawan
Hawe Setiawan

Hawe Setiawan

DI Gedung Indonesia Menggugat, Selasa 20 September 2016 sore, saya ikut mendiskusikan buku "Perlawanan Politik & Puitik Petani Tembakau Temanggung" (2016) karya Mohamad Sobary. Buku ini tadinya disertasi. Penulisnya mengadakan penelitian lapangan di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, selama sekitar tiga tahun, dari 2010 hingga 2013. Di dataran tinggi yang sejuk itu, ia mengkaji upaya petani tembakau melawan kebijakan politik anti-tembakau dari pemerintah RI yang dirasakan mengancam usaha dan kehidupan mereka.

Pusat perhatian Sobary adalah puluhan ribu petani tembakau, di bawah koordinasi Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Jawa Tengah, yang membentuk Laskar Kretek dan menyelenggarakan serangkaian demonstrasi damai menentang kebijakan anti-tembakau. Kebijakan politik dimasud, yang tadinya berupa rencana peratutan pemerintah, kemudian dikenal sebagai Peraturan Pemerintah No. 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif berupa Produk Tembakau bagi Kesehatan. Kebijakan inilah yang dirasakan mengancam kelangsungan budidaya tembakau yang sudah berjalan ratusan tahun, hak hidup dan berusaha kaum tani, dan usaha perdagangan kretek, yakni produk industri berupa lintingan tembakau berbumbu cengkih khas Indonesia, beserta berbagai kaitannya pada tatanan sosial dan kebudayaan.

Catatan lapangan diramu dengan teknik narasi yang peka sastra dan sarat renungan, menghasilkan uraian mengenai, antara lain, rincian tata sosial kebudayaan masyarakat tani, dengan budidaya tembakau sebagai dasar materialnya, beserta latar kesejarahannya, juga latar mitogis dan keagamaannya. Di latar tengah, sebagai pusat perhatian, dapat kita cermati analisis atas gerakan perlawanan kaum tani dengan menekankan dua aspeknya, yang disebut sebagai aspek "politik" dan aspek "puitik". Itulah gerakan kolektif yang hendak mengubah kebijakan politik dalam bingkai kegiatan yang sarat muatan kebudayaan. Dengan kata lain, studi ini kiranya dapat disebut sebagai tafsir budaya yang bertolak dari etnografi perjuangan kaum tani.

Studi seperti ini, saya kira, menyentuh kepentingan sejumlah kalangan, antara lain kaum tani (termasuk buruh tani) tembakau, pemilik pabrik kretek, pemerintah, dan industri rokok di lingkungan global. Saya tidak tahu, adakah kepentingan korporasi kretek, yang tentu tak mau tersingkir oleh korporasi rokok putih dari mancanagara, ikut punya andil dalam riuh-rendah perlawanan itu. Sobary sendiri, ketika berbicara di depan hadirin, antara lain menekankan bahwa bukunya ini ditulis sebagai realisasi komitmen dia sebagai sarjana ilmu sosial untuk ikut memperkuat perjuangan kaum tani.

Sebagai pembaca, saya bertanya kepada diri sendiri: apa yang menghubungkan diri saya dengan tembakau? Sejauh mana kajian seperti ini dapat membantu saya untuk memahami situasi di sekeliling diri saya sendiri? Terpikir oleh saya, salah satu hal yang mempertautkan diri saya dengan tembakau adalah tindak konsumsi. Saya mengisap kretek sejak remaja.

Kalau diingat-ingat lagi, konsumsi atas tembakau yang saya alami berubah, berkembang, seiring berubahnya tatanan yang menyediakan barang konsumsi itu. Mula-mula, dari kakek, saya belajar mengisap daun kawung, yang kering dan lembut menggulung tembakau. Barangnya didapatkan dari lapak pinggir jalan dalam arena pasar Reboan atau Saptuan. Ada kalanya saya ikut melinting pahpir buat membungkus tembakau Mars Brand yang populer melalui sebutan "bako warning". Pada gilirannya, sejalan dengan perubahan masyarakat yang kian mengutamakan hal-ihwal yang dianggap efisien, saya ikut mengonsumsi kretek sebagaimana banyak penduduk desa lainnya. Si miskin cukup dengan Upet, menengah sedikit bisa Sriwedari, Gudang Garam, atau Djarum. Yang paling mentereng, sudah pasti, Dji Sam Soe. Rokok putih produk BAT, semisal Commodore, sudah pula masuk ke pasar desa, tapi kretek tetap jadi primadona.

Sebagai konsumen tembakau, saya ikut mengalami apa yang dalam bahasa Sunda disebut "ngadu bako". Arti konotatif dari ungkapan ini adalah berbincang dengan sesama secara akrab, leluasa, dan santai mengenai apa saja. Sering kali dari kegiatan "ngadu bako" tercetus suara warga mengenai hidup sehari-hari mereka.

Selagi saya membaca buku Sobary, yang antara lain mempersoalkan pengabaian terhadap suara kaum tani, terasa oleh saya betapa tradisi ngadu bako pun kian tak terapresiasi. Prinsip demokrasi deliberatif menghendaki agar suara warga diperhitungkan dalam proses pembuatan kebijakan politik, terlebih-lebih kebijakan politik yang efeknya akan menyenting hajat hidup warga kebanyakan.

Judul buku Sobary juga mencerminkan karakteristik wacananya sendiri. Jika kita simak kesimpulannya, dapat dikatakan bahwa dia sedang menyampaikan perlawanan terhadap kebijakan politik yang dia tentang dengan mengedepankan argumen, dan bukan sentimen, seraya mengindahkan cara ungkap yang cenderung artistik. Dia bersuara melalui perkakas puisi.***
Bagikan: