Pikiran Rakyat
USD Jual 14.433,00 Beli 14.335,00 | Cerah berawan, 27.4 ° C

Gambar Kue

Hawe Setiawan
Hawe Setiawan

Hawe Setiawan

SILATURAHMI dalam media sosial memang kian visual. Contoh: ucapan ulang tahun disertai gambar kue tart. Kuenya tampak meriah, warna-warni, lengkap dengan lilin segala. Sungguh membangkitkan selera. Selaraslah dengan doa yang menyertainya: "semoga dirimu tetap jaya di darat, laut, dan udara". Si penerima pesan senang dibuatnya, merasa bahagia pada hari istimewa. Semua orang menyayanginya.

Gambar kue ikut mencerminkan kegandrungan manusia pada simbol. Hal terpenting bukan kuenya, melainkan silaturahminya. Dengan kata lain, biarlah kuenya sekadar gambar, sebab yang penting kan kasih sayang. Benda-benda dipertukarkan bukan demi benda-benda itu sendiri, melainkan demi hal-ihwal gaib yang diwakilinya atau yang dirujuk olehnya. Kalau efek simbolis dari kue sudah bisa diwakili oleh gambar, kenapa repot-repot menelepon toko kue agar mengirim paket melalui jasa antaran? Lagi pula, ini zaman virtual, kian banyak hal yang dapat diselenggarakan melalui simulasi.

Gejala gambar kue pada hari ulang tahun berbeda dengan gejala gambar (kunci) mobil pada acara pengumuman undian berhadiah. Si pemenang undian benar-benar mendapatkan mobil yang bisa dia naiki ke berbagai tempat atau dia jual kepada orang berminat. Ia tidak hanya mendapatkan gambar mobil atau gambar kunci mobil. Gambar dalam kasus ini hanyalah semacam alat bantu buat menyederhanakan kegiatan. Bukankah bakal repot bukan main jika pemberi hadiah harus mengangkat mobil sambil menyalami si pemenang undian? Adapun dalam kasus gambar kue ulang tahun, si penerima pesan tidak benar-benar mendapatkan kue. Ia hanya mendapatkan gambar kue.

Namun, benarkah orang tidak lagi butuh kue? Dengan gambar kue, paling-paling orang hanya bisa membayangkan rasanya, tapi tidak benar-benar bisa mencicipinya. Setidaknya, untuk urusan yang berkaitan dengan tubuh, seperti makan dan minum, kita tidak bisa berkelit dari benda-benda yang real. Perut kita tidak akan kenyang dengan gambar nasi. Gambar air tidak bisa menyelamatkan tenggorokan yang kering. Jangan pernah berpikir mengirim gambar beras kepada kaum yang sedang dilanda kelaparan. Terlalu! Pendeknya, tidak semua hal dapat diatasi dengan simulasi.

Pokemon Go adalah contoh hasil kreasi yang bersifat virtual tetap memelihara pertautan dengan jagat yang real atau yang aktual. Setidaknya, untuk menangkap karakter-karakter ganjil yang bersifat virtual itu, orang perlu keluar dari rumah, bepergian ke banyak tempat yang didedinisikan sebagai pokestop. Lanskapnya nyata, karakter buruannya maya. Keduanya bergabung dalam satu aplikasi yang terhubung dengan internet. Saya tidak tahu, apakah permainan seperti ini hanyalah demam musiman ataukah justru merupakan pertanda berubahnya cara hidup kita di kemudian hari? Saya baru dapat melihat bahwa di dunia maya sekalipun, kita tidak dapat sepenuhnya melepaskan diri dari dunia nyata --- meski hari ini kita jadi bingung dengan arti "nyata" itu sendiri.

Bahkan, dalam banyak kasus, kegandrungan kita terhadap mode komunikasi virtual, ikut mendorong timbulnya keinginan kita untuk benar-benar bertemu muka, berpeluk-pelukan, dengan teman-teman kita. Beragam layanan media sosial, seperti facebook, twitter, whatsapp, line, dan sebagainya ikut memperkuat semangat reuni, kumpul-kumpul, abring-abringan, arisan, dan sebagainya. Sepanjang masih bisa, kita tidak semata-mata bersilaturahmi dengan teman melalui perangkat pintar yang terhubung dengan internet, melainkan juga memelihara pertemuan fisik. Sekalipun ketika kita berkumpul, masing-masing orang sibuk dengan perangkat pintarnya sendiri, hal itu toh tidak sama sekali memupus pertemuan fisik.

Sebegitu jauh, jabat tangan dan peluk-pelukan belum dapat digantikan dengan layar datar seperti yang kita gunakan ketika berkomunikasi melalui, misalnya, skype. Tetaplah kita perlu bermacet-macetan di jalan, berpanas-panasan dengan segala risikonya, demi bertemu muka dengan kerabat dan handai tolan di kampusng pada musim mudik. Begitu pula dengan kebutuhan untuk makan kue.***
Bagikan: