Pikiran Rakyat
USD Jual 14.433,00 Beli 14.335,00 | Umumnya berawan, 26.7 ° C

Pendekar Tua

Hawe Setiawan
Hawe Setiawan

Hawe Setiawan

BAH Gending Raspuzi (51), maestro penca dari Gegerkalong, berbaik hati menyambut kami, suami istri yang sudah tak muda lagi, untuk belajar seni bela diri. Bayangkan, sekolah dasar mana yang mau menerima kami sekiranya kami ingin mengenyam lagi pendidikan dasar? Adapun Bah Gending membuka pintu lebar-lebar. Di bawah bimbingannya, sejak delapan bulan lalu, saya dan istri saya ikut berlatih saban minggu bersama teman-teman dari Garis Paksi (Lembaga Pewarisan Penca Silat).

Jika Bah Gending mulai belajar penca pada usia 11 tahun, kami mulai berlatih menjelang manula. Saya berumur 48, istri saya 47. Kata sebagian teman, kami terlalu tua untuk belajar penca, seperti pasangan pendekar yang datang telat. Saya bilang, memangnya kapan kita tidak terlambat dalam berbagai urusan? Kota Bandung, misalnya, seharusnya membangun jalur sepeda 25 tahun yang lalu, dan semestinya menyediakan sumur resapan 45 tahun yang silam. Saat yang baik adalah "sekarang ini". Kita toh tidak hidup di masa lalu atau di masa depan. Kita hidup di masa sekarang.

Kebetulan, saya sendiri punya sedikit pengalaman. Saya mulai membiasakan diri bersepeda hampir saban hari, baik ke tempat kerja maupun ke tempat wisata, pada umur 45 tahun. Mulanya memang pegal-pegal, susah minta ampun, bahkan pernah hampir pingsan segala, tapi lama-kelamaan jadi enak juga. Sekarang tiap kali saya melihat sepeda terparkir, rasanya ingin saya mengayuhnya. Tentu, maksud saya adalah sepeda saya sendiri. Jadi, belajar penca pada umur 48, kenapa tidak?

Dua orang kolega saya, yang lebih tua beberapa tahun, dapat saya yakinkan. Keduanya penuh semangat ikut berlatih silat hingga bermandi keringat. Alhamdulillah, mereka dapat bertahan selama sekitar enam minggu. Adapun kami sedapat mungkin terus ikut berlatih, menyerap semangat dari teman-teman yang lebih muda dan lebih kuat. Saya teringat istilah guraré yang berati “belajar kepada kaum muda” dari naskah Sunda Kuna Siksakandang Karesian.

Istri sayalah pembelajar yang paling getol. Seingat saya, hanya dua kali dia absen gara-gara urusan keluarga. Saya sendiri terkagum-kagum melihat bakatnya yang terpendam untuk memeragakan semacam gabungan yang menarik antara bela diri dan tari. Dia pun punya bakat terpendam buat menggabungkan jurus “alif” dan “madras” di luar kehadiran guru.

Minggu lalu kami ikut ujian. Lagi-lagi terlambat. Seharusnya kami ikut evaluasi beberapa minggu sebelumnya, tapi waktu itu saya sedang bertugas keluar kota, dan istri saya kurang pede kalau tak ada teman. Bah Gending dan jajarannya tetap berbaik hati, membuka kesempatan bagi ujian susulan. Selain kami berdua, ada satu pasangan lagi dari Australia ditambah dua orang rekan yang sama-sama telat ujian. Dapat diduga, saya dan istri saya cukup menonjol dalam urusan gugup dan lupa memeragakan dasar pukulan serta dasar jurus di hadapan penguji. Si Abah beserta jajarannya mudah-mudahan berkenan memakluminya.

Seusai digembleng perihal dasar pukulan, dasar jurus, kuda-kuda dan metode langkah “Ulin Sera”, kami diminta berjalan kaki dari kampus UPI di Setiabudhi ke Cihideung, belok ke Kebonhui, terus ke Ciwaruga hingga berakhir di Gegerkalong, sekretariat Garis Paksi. Ini bagian ujian yang menakjubkan buat saya. Berjalan tanpa alas kaki sejauh itu membuat saya sadar betapa jalan yang saya pijak sesungguhnya tidak benar-benar mulus. Kelihatannya sepele, hanya butiran kerikil, tapi di telapak kaki terasa menusuk-nusuk begitu rupa. Sungguh pelajaran yang amat berharga buat menggembleng daya tahan dan kesabaran. Hal yang tak kalah pentingnya adalah terjalinnya persahabatan yang lebih akrab dengan teman seperjalanan. Lagi pula, apa yang kita sebut “belajar” sesungguhnya memang berarti menempuh jalan.

Sungguh, tiada sedikitpun niat dalam diri kami berdua untuk menjadi atlet apalagi menjadi pendekar. Lagi pula, kontingen provinsi mana yang mau merekrut kami dalam pekan olah raga nasional, dan pendekar mana yang sampai hati mau bertarung dengan kami. Kalaupun ada, lawan tanding kami berdua yang masti kami taklukkan tiada lain dari tumpukan asam urat, kolesterol, dan sejenisnya. Alhamdulillah, sejauh yang kami rasakan, kami baru berlatih penca beberapa minggu saja, musuh-musuh yang kami sebutkan barusan sudah lintang pukang.

Hal yang tak kurang pentingnya, bahkan rasanya yang terpenting, adalah kata “paksi” itu sendiri. Menurut guru kami yang baik hati, kata itu mudah-mudahan dapat mengingatkan kita akan pentingnya memelihara pancakaki dan silaturahmi. Amin.***
Bagikan: