Pikiran Rakyat
USD Jual 14.449,00 Beli 14.351,00 | Umumnya berawan, 24.6 ° C

Rancabentang Rawa Tempat Bintang Becermin

T Bachtiar
T Bachtiar

T Bachtiar

NAMA geografi ini indah dan romantis, Rancabentang. Bintang-gemintang bercermin di permukaan ranca, rawa. Rawa seolah begitu dalam, setinggi langit yang dibalik. Tak perlu tengadah ke langit, cukup menunduk, di sana langit terbentang luas dengan kerlip cahaya bintang. Orang tua dahulu begitu indah, putis, dan imajinatif dalam memberikan nama tempat.

Tempat dengan nama geografi Rancabentang itu tedapat di Kota Cimahi dan di Kota Bandung. Di sanalah, ketika nama itu diberikan, masih terdapat rawa yang sangat luas sehingga langit malam pindah ke atas telaga. Rancabentang yang terletak di Cimahi inilah yang akan saya bahas. Ketika cahaya lampu saat itu sangat redup, tidak menyilaukan seperti sekarang, pesona malam menjadi begitu indah untuk disaksikan.

Ranca-ranca banyak tersebar ketika sumber air masih begitu banyak mengalir, ketika hutan masih terjaga, rawa sangat luas tersebar di dasar Cekungan Bandung. Walaupun ada rawa-rawa yang berada jauh lebih tinggi dari paras danau Bandung Purba, seperti yang ada di lembah-lembah sungai yang sedikit terbendung, atau kubangan yang meluas di lereng gunung.

Rawa yang sangat luas di dasar Cekungan Bandung tidak lepas dari masa akhir danau Bandung Purba yang mencapai puncak tertinggi genangannya 36.000 tahun yang lalu. Saat itu, paras air danaunya mencapai ketinggian +725 meter dari permukaan laut (mdpl). Danau raksasa yang membentang dari Cicalengka di sebelah timur sampai Rajamandala di sebalah barat dan mulai dari Dago bawah di utara sampai Majalaya, Ciparay, dan Soreang di selatan.

Sebagai gambaran kedalaman danau di beberapa tempat, seperti di perempatan jalan Soekarno-Hatta dengan jalan Kopo kedalamannya 26,5 meter, di perempatan jalan Soekarno-Hatta dengan jalan Cigereleng kedalamannya 32,5 meter, di perempatan jalan Soekarno-Hatta dengan jalan Buahbatu kedalamannya 36,5 meter. Semakin dalam di ujung timur jalan jalan Soekarno-Hatta, yaitu di persimpangan Cibiru, kedalamannya mencapai 39,5 meter.

Keadaan danau Bandung Purba akan semakin dalam di bagian tengah ruas jalan tol Padalarang-Cileunyi. Di pintu tol Pasirkoja kedalamannya 26,5 m, di pintu tol Kopo 41,5 m, di pintu tol Cigereleng 43,5 m, dan di pintu tol Buahbatu kedalamannya 36,5 m.

Selama danau Bandung Purba ini tergenang, maka dasar Cekungan Bandung yang semula bergelombang, ada perbukitan, ada lembah, kemudian tergenang, berubah menjadi dasar danau Bandung Purba. Lumpur dari lereng gunung yang terbawa hanyut, mengendap di dasar danau. Abu gunungapi yang jatuh di permukaan danau akan terus mengendap di dasarnya, dan bila jumlah yang diendapkannya terus bertambah, semakin tebal, maka dasar danau yang semula bergelombang akan berubah menjadi datar, menjadi rata.

Danau Bandung Purba terbentuk karena Gunung Sunda yang tingginya sekitar + 4.000 m. dpl. meletus dahsyat antara 210.000 – 105.000 tahun yang lalu, membentuk kaldera, kawah yang diameternya lebih dari 2 km. Letusannya sangat dahsyat. Lahar dan material aliran letusan lainnya membendung Ci Tarum purba di utara Padalarang. Dalam waktu yang sangat singkat, sungai itu telah terbendung. Secara perlahan air mulai tergenang mencapai puncaknya pada 36.000 tahun yang lalu, ketika di Cekungan Bandung masih berkeliaran gajah alami.

Sekitar 16.000 tahun yang lalu, danau Bandung Purba Timur bobol di Curug Jompong sekarang, dan danau Bandung Purba Barat bobol di Cukangrahong. Secara perlahan, danau yang semula tinggi paras danaunya mencapat +725 m, terus menyusut, menyisakan ranca, rawa yang tersebar luas.

Lereng-lereng gunung di sekeliling dasar Cekungan Bandung mulai dihuni masyarakat Bandung. Daerah hunian terus meluas, turun ke lereng bekas danau Bandung Purba. Pinggiran bekas danau yang sudah mengering dijadikan tempat bersawah dan kebun, kemudian didirikan saung, didirikan rumah.

Pohon-pohon mulai tumbuh membentuk hutan di sekeliling rawa, membentuk hutan lebat yang luas, maka ketika manusia datang ke tempat ini, menamai kawasan itu Leuweunggede, hutan yang luas. Di seputar Leuweunggede itu masih berupa ranca, rawa yang sangat luas.

Ketika beberapa kawasan hutan di sana beralih fungsi menjadi kebun kopi yang luas, sekarang namanya abadi menjadi Kebonkopi, dan di sisi yang lain menjadi kebun jeruk, sehingga namanya abadi menjadi Kebonjeruk. Di sisi timur dan baratnya, saat itu masih berupa ranca, rawa yang luas. Sangat mungkin, ketika kawasan itu mulai dihuni, ketika pekerja kebun kopi mengaso sehabis bekerja keras siang hari, sambil makan singkong bakar atau ubi jalar, menyeruput teh panas, dari saung itu mereka melihat keindahan di atas ranca, rawa yang penuh dengan bintang-gemintang. Maka, ranca tempat bintang bercermin, dinamailah Rancabentang. Nama yang indah dan romantis.
Bagikan: