Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Hujan petir singkat, 21.4 ° C

Ngadu Bako

Hawe Setiawan
Hawe Setiawan

Hawe Setiawan

MANG Ohlé menanggalkan padudan. Ketika badan sensor mengaburkan adegan merokok dalam film, dan menangkalnya dari siaran televisi, cangklong pun menghilang dari kartun Kang Didin Basoeni. Profil pria berumur yang mengenakan peci, kaos oblong, dan sarung itu tak lagi disertai alat pengisap tembakau. Berubahnya penampilan maskot Pikiran Rakyat, koran kebanggaan Jawa Barat, seakan ikut merevisi idiom lama tentang awal perbincangan sehari-hari. Surat kabar, tempat perbincangan publik ingin dimulai, telah menjauh dari tembakau. Perbincangan itu, rupanya, tidak lagi diungkapkan sebagai ngadu bako.

Di luar halaman koran, di jalanan, saya melihat kencenderungan yang tak kalah menariknya. Sejumlah teman penggemar tamasya bersepeda, yang bukan atlet, belakangan punya kegemaran baru, yakni mengisap cangklong. Rokok kretek, yakni gulungan tembakau bercampur cengkih khas Indonesia, tetap dikonsumsi meski teror Photoshop dan narasi pembunuhan meramaikan bungkus rokok dan papan iklan. Ungkapan "berhenti merokok" diartikan secara harfiah, yakni mengisap rokok alias udud sambil melepas lelah. Adapun cangklong biasanya dikerahkan di tempat-tempat riungan, misalnya di perkemahan. Adengan bercangklong ria ini, kira-kira, seperti adegan mengisap calumet di antara para kepala suku Indian dalam kisah petualangan klasik Karl May.

Teringat saya pada deskripsi Franz Wilhelm Junghuhn dalam salah satu bukunya, Licht- en Schaduwbeelden uit de Binnenlanden van Java (Gambar Cahaya dan Bayangan dari Pelosok Jawa) dari tahun 1854. Di halaman pertama kisah perjalanan yang mengandung perbincangan mengenai dasar-dasar teologi sejumlah agama besar itu, si "aku" bercerita tentang tindak-tanduk para bediende alias pembantunya di tengah perjalanan. Sekali waktu, tuturnya, ia kehilangan rekan-rekan seperjalanannya itu, dan setelah dicari-cari, ia mendapati mereka sedang melepas lelah sambil udud.

"Kami pun mencarinya dan menemukan mereka, dalam naungan rumpun bambu, sedang berbaring-baring di atas tanah. Beberapa di antara mereka melepas lelah dengan bersandar pada kopor-kopor kecil kami; beberapa orang lainnya, yang sudah terkantuk-kantuk, melinting rokok kecil dari tembakau yang diiris halus dan daun jagung," tulis Franz Junghuhn.

Dari Deli hingga Besuki, dari pantai timur Sumatra hingga tanah Jawa, kolonialisme abad ke-19 membudidayakan tembakau dengan mengerahkan tenaga kerja para kuli yang terikat kontrak lengkap dengan poenale sanctie-nya. Dari dulu hingga kini, dengan segala masalahnya, tembakau melekat pada hidup sehari-hari banyak orang, termasuk hidup sehari-hari penulis kolom ini. Dalam bahasa ibu saya, bahasa Sunda, cukup banyak idiom yang berkaitan dengan bako alias tembakau dalam bahasa Indonesia atau tabak dalam bahasa Belanda. Sebut, misalnya, bako abrag, bako géléng, bako krosok, bako molé, bako sék, bako sisig, dan bako tampang.

Dan ngadu bako? Secara harfiah, frase ini mengacu kepada bertemunya dua atau lebih pecandu tembakau, dan dengan sendirinya obrolan pun berkembang. Dalam ingatan saya dari masa kanak di Cisalak, Subang, masih tergambar sejumlah pria yang saling menawari tembakau sambil berjongkok di lapak pinggir jalan, di tengah keriuhan pasar mingguan. Mereka benar-benar beradu tembakau, saling unjuk tembakau masing-masing. Kakek saya, yang berumur panjang dan baru meninggal di usia 80-an, adalah partisipan aktif dalam forum seperti itu, dengan persediaan tembakau dan daun kawung terselip di pinggiran peci beludru buatan M. Iming. Bako yang dicicipi tak seberapa, tapi obrolannya bisa berkembang sedemikian rupa hingga berjam-jam lamanya.

Saking bekennya bako dalam kebudayaan, sampai-sampai makna konotatif ngadu bako tak perlu selalu berkaitan dengan bako. Ungkapan ini bisa berarti obrolan atau perbincangan. Tentu saja, obrolan ini bukan diskusi orang sekolahan seperti yang sering kita lihat dalam forum seminar atau kongres, melainkan obrolah orang kebanyakan dalam hidup sehari-hari. Temanya bisa banyak, sudut pandangnya bisa tumpang tindih, dan yang tak kurang pentingnya: suasananya rileks. Rasa humor bisa dipelihara di situ. Dengan kata lain, ngadu bako berarti ngobrol.

Tradisi ngadu bako, saya kira, mendapatkan salurannya yang enak pada tulisan-tulisan sastrawan Sunda terkemuka mendiang Ahmad Bakri. Pengarang kawakan ini sangat piawai menghidupkan obrolan di antara tokoh-tokoh ceritanya. Pada dasawarsa 1980-an, dalam mingguan Manglé, ia mengumumkan serial perbincangan dengan tokoh sentral Ua Haji Dulhamid. Belasan judul di antaranya kemudian dibukukan oleh Ajip Rosidi di bawah tajuk, Ronggéng Sajajagat (2013). Patut dicatat, tokoh Wa Haji sendiri digambarkan sebagai pengisap lisong, yakni sejenis rokok yang tembakaunya bercampur kemenyan.

Ketika Pikiran Rakyat, beberapa waktu lalu, memasang headline di halaman pertama tentang rencana pemerintah melambungkan harga rokok, konon buat mengikis pecandu tembakau, saya membacanya sambil mengisap kretek dari Kudus. Saya pikir, ini berita bagus. Tak lama lagi ngadu bako bakal jadi kegiatan yang eksklusif, mahal, istimewa. Segera saya bersiap-siap dengan membersihkan padudan kesayangan, mirip padudan kepunyaan Mang Ohlé sekian puluh tahun silam.***
Bagikan: