Pikiran Rakyat
USD Jual 14.558,00 Beli 14.460,00 | Berawan, 22 ° C

Gunung Buligir

T Bachtiar
T Bachtiar

T Bachtiar

BATU raksasa yang kokoh kehitaman itu berdiri tegak lurus menunjuk langit. Keberadaannya sangat menonjol dibandingkan dengan lingkungan sekitarnya yang lebih rendah. Di tubuh batu itu tak terlihat ada tanah yang menempel, apalagi tutupan tumbuhan. Batu itu seperti raksasa yang bertelanjang, raksasa yang tak berbaju. Dalam bahasa Sunda, bertelanjang itu disebut buligir. Bila di suatu kawasan terdapat bukit, atau pasir dalam bahasa Sunda, dan gunung batu raksasa yang tegak dan tak berpenutup tumbuhan, seperti yang tak berbaju, maka bukit atau gunung itu dinamai Pasir Buligir atau Gunung Buligir.

Bukit dan gunung batu yang khas, yang menonjol dari lingkungannya, sehingga menjadi penanda bumi, maka nama geografi Pasir Buligir dan Gunung Buligir itu hampir terdapat di semua daerah di Jawa Barat. Pasir atau Gunung Buligir terdapat di Kabupaten Tasikmalaya, Kabupaten Majalengka, Kabupaten Garut, dan Kabupaten Purwakarta. Penyebaran batuan raksasa yang bertelanjang ini hanya yang sudah dipetakan dalam peta geologi. Yang tidak masuk ke dalam peta geologi, mungkin jumlahnya lebih banyak lagi.

Gunung Buligir itu batu raksasa yang tegak, kokoh, dan sangat kuat, tidak mudah melapuk dan terlarutkan oleh hujan, dan sulit terbelah karena perbedaan suhu malam yang dingin dan siang yang panas, sebab batuannya berupa batuan beku yang semula berupa magma, batuan cair pijar yang berasal dari kedalaman perut bumi. Magma itu terus-menerus tiada henti menekan kerak bumi dengan sangat kuat, dan menemui jalannya melalui zona-zona lemah yang berupa rekahan-rekahan dalam kerak bumi yang tersesarkan. Perjalanan magma itu ada yang berlanjut membentuk gunung api, namun ada juga yang membeku di dalam pipa kepundan atau di dalam rekahan-rekahan sesar. Inilah awal dari proses terbentuknya batuan beku raksasa yang kokoh, sebagai cikal-bakal adanya Gunung Buligir.

Batuan beku yang membentuk Gunung Buligir itu berasal dari dua sumber utama, pertama terbentuk dari batuan ekstrusif, dan kedua batuan intrusif atau batuan terobosan. Batuan ekstrusif dan batuan intrusif berasal dari sumber yang sama, yaitu magma.

Sumber pertama adalah batuan ekstrusif, terbentuk bila magma yang datang dari dalam perut bumi itu sudah mencapai permukaan kawah, sudah keluar dari leher gunung api atau pipa kepundan. Bila magma sudah mencapai permukaan, namanya berganti menjadi lava, seperti yang berwujud leleran lava, sumbat lava, dan kubah lava. Sumbat lava dan kubah lava inilah yang akan menjadi Gunung Buligir sekian juta tahun kemudian, bila gunung itu tidak meletus kembali atau mati. Batuan sekelilingnnya akan mengalami erosi tingkat lanjut, yang menyebabkan wujud gunungnya tidak akan terlihat lagi, hanya menyisakan tegakan berupa sumbat lava atau kubah lava.

Namun, ada juga sumbat dan kubah lava yang mengalami pelapukan, sehingga tanahnya menjadi tempat bagi pepohonan untuk tumbuh. Namanya pun sudah bukan Gunung Buligir lagi, tetapi sesuai dengan rona gunung itu.

Sumber kedua yang membentuk Gunung Buligir adalah batuan terobosan yang terjadi bila magma yang menekan ke luar, kemudian membeku di kedalaman kerak bumi. Pada saat energi magma berkurang atau telah kehilangan kekuatannya, maka tekanan magma sudah tidak mempunyai daya untuk mendobrak sumbat atau kubah lava yang sudah membatu hasil letusan sebelumnya. Akibatnya magma akan membeku di leher gunung api, membentuk kubah di bawah permukaan (cryptodome), atau membeku di pipa kepundan atau di leher gunung api. Bentukan inilah yang akan menjadi Gunung Buligir sekian juta tahun kemudian, bila terjadi erosi yang kuat menggerus lingkungan sekitarnya.

Batuan terobosan lainnya adalah magma yang menerobos kerak bumi, dan mencapai bagian dalam tubuh gunung api. Terbentuklah apa yang disebut batuan terobosan dangkal atau batuan semi gunung api, yang wujudnya dapat berupa retas dan atau selit. Retas atau dike, yaitu batuan terobosan berbentuk pipih, yang memotong lapisan batuan di sekitarnya. Sedangkan selit atau sill, yaitu batuan terobosan yang berbentuk pipih, yang membeku di antara dua lapisan yang telah ada.

Ketika terjadi pengangkatan kerak bumi, retas dan selit ini pun akan terangkat mendekati permukaan. Bagian penutup di atasnya mendapat pengaruh dari terik dan dingin matahari, guyuran hujan, serta akar tumbuhan yang menancap, menjalar ke mana-mana, yang menyebabkan terjadinya pelapukan dan erosi. Lapisan batuan yang menutupi batuan terobosan terus tererosi berjuta tahun, meninggalkan batuan beku berukuran raksasa yang telanjang, yang oleh masyarakat dinamai Gunung Buligir.

Umumnya batuan Gunung Buligir itu kokoh, sehingga hanya menghasilkan tanah yang sangat tipis, dan segera hilang tertiup angin karena berlereng sangat curam. Karena tidak ada tanah, maka tidak ada tumbuhan, seperti raksasa yang bertelanjang.*
Bagikan: