Pikiran Rakyat
USD Jual 14.433,00 Beli 14.335,00 | Cerah berawan, 27.4 ° C

Pulau Mandra

T Bachtiar
T Bachtiar

T Bachtiar

Di Teluk Ciletuh, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, terdapat pulau kecil yang bernama Pulau Mandra, luasnya sekitar 0,5 km persegi. Pulau ini dapat ditempuh dari muara Ci Kadal sekitar lima menit.

Kata mandra dapat diartikan enak, gembira, atau bagus. Jadi, pulau kecil yang indah pemandangannya ini menjadi tempat yang bagus dan menyenangkan untuk disinggahi, apalagi kalau sambil makan atau botram.

Tidak jauh dari Pulau Mandra, terdapat Pulau Manuk dan Pulau Kunti. Bagian selatan Pulau Kunti masih menyatu dengan lereng Gunung Badak yang berada di daratan Jawa Barat. Di sana terdapat endapan melangé atau batuan bancuh, campuran aneka batuan yang berasal dari berbagai formasi dan umur. Di Pulau Kunti terdapat singkapan lava dengan struktur lava bantal, padahal bentuknya lebih mirip guling warna hitam, yang menurut Schiller, umurnya 89,6 juta tahun. Walau tidak terlalu luas, singkapan lava bantal ini sangat menarik. Garis-garis rekahan serta rongga tempat keluarnya gas pada saat lava ini membeku, kemudian diisi larutan batukapur yang sudah mengkristal, membentuk jaring-jaring warna putih yang menarik.

Antara 50 - 65 juta tahun yang lalu, kawasan Ciletuh masih berupa dasar dari palung laut dalam, tempat lempeng samudra menunjam lempeng benua. Kamudian, kelompok batuan yang terdapat di zona penunjaman itu terangkat ke permukaan, menjadi batuan yang mendasari kawasan Taman Bumi Ciletuh saat ini. Di Ciletuh terdapat kerak samudra dan mantel, bagian atas bumi yang bercampur endapan laut dalam dan batuan bancuh atau batuan campur-aduk atau mélange, yang berumur Pra-Eosen Tengah, sekitar 60 juta tahun, yang tersingkap di Gunung Badak, Gunung Beas, Pasir Luhur, Ci Tisuk, Ci Kopo, Ci Kepuh, dan Ci Tirem. Di sinilah batuan tertua di Pulau Jawa yang terangkat ke permukaan berada. Dinamika bumi terus berlangsung, zona penunjaman saat ini membentang barat timur di tengah Samudra Hindia, sekitar 150 km dari pantai saat ini.

Kini, kawasan bekas longsoran purba itu membentuk morfologi tapal kuda yang menghadap Samudra Hindia, dasarnya sudah dimanfaatkan oleh masyarakat menjadi pesawahan, kebun, talun kelapa, dan pemukiman.

Untuk mencapai tempat-tempat yang terdapat singkapan batuan yang khas secara geologis, harus sambil berperahu. Di Teluk Ciletuh, terlihat Gunung Badak yang puncaknya ditutupi oleh batuan breksi, yang mirip adukan batu beton dengan warna kehijauan sampai kehitaman. Di sisi baratnya ditutupi batuan berwarna kehitaman yang sulit melapuk, sehingga tempat ini kurang ditutupi tumbuhan.

Ada juga Gunung Aseupan dengan bentuknya yang menarik, seperti aseupan, alat menanak nasi yang terbuat dari anyaman bambu dan berbentuk kerucut. Ujung atas batuannya yang mencuat kuat, karena Gunung Aseupan ini berupa batuan terobosan yang datang dari kedalaman perut bumi.

Dari tepian Dataran Tinggi Jampang yang melengkung setengah lingkaran, terlihat dengan jelas amfiteater Teluk Ciletuh di bawahnya, menerus sampai ke pantai hingga ke laut lepas. Tempat memandang bentang alam itu dikenal dengan nama panyawangan, tempat untuk nyawang, untuk memandang bentang alam dari kejauhan. Dinding tegak Plato Jampang menjadi latar amfiteater Teluk Ciletuh yang megah, terdapat air terjun yang berjajar.

Di Panenjoan dan sekitarnya, batuan yang mendasarinya berupa berupa breksi vulkanis, batuan rombakan yang tersusun dari bahan-bahan berukuran kasar, bersudut, yang berasal dari letusan gunungapi, yang diikat oleh bahan yang berbutir halus, terlihat seperti adukan batu beton.

Lajur yang membujur barat – timur di selatan Pulau Jawa, termasuk kawasan Ciletuh, puluhan juta tahun yang lalu berupa jalur gunungapi bawah laut. Kawasan yang terbuka ke laut dalam, diiris patahan yang berarah barat daya – timut laut di sisi barat dan timurnya, serta patahan berarah barat – timur, sehingga kawasan yang diiris patahan dari berbagai arah itulah yang kemudian runtuh, longsor ke dasar laut dalam.

Sebagian besar kawasan Ciletuh merupakan kawasan Suaka Alam (kawasan Cibanteng) di utara, termasuk kawasan Gunung Badak, serta kawasan Suaka Margasatwa (kawasan Cikepuh) di selatan, termasuk ke dalamnya kawasan Citisuk, Cikepuh, dan Citirem. Kedua kawasan ini berada dalam pengelolaan Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) Kabupaten Sukabumi.

Untuk mencapai Ciletuh dapat melalui jalur laut menggunakan perahu motor dari Palabuanratu sampai muara Ci Kadal selama 2 jam. Atau melalui jalan darat selama 8-9 jam dari Bandung sejauh + 225 km.

Ke depan, kawasan ini sangat layak untuk dijadikan kampus lapangan bagi pelajar dan mahasiswa. Sedangkan bagi masyarakat umum, Ciletuh merupakan tempat yang baik bila dijadikan tujuan wisata bumi. Di sini terdapat perpaduan yang nyata antara ilmu-ilmu kebumian, hayati, budaya, dan petualangan.***
Bagikan: