Pikiran Rakyat
USD Jual 14.558,00 Beli 14.460,00 | Berawan, 22.1 ° C

Gunung Cangak

T Bachtiar
T Bachtiar

T Bachtiar

MASYARAKAT Subang menyebut gunung setinggi + 1.618 yang letaknya 22 kilometer di selatan Kota Subang, atau sekitar 18 kilometer sebelah timur Gunung Tangkubanparahu ini Gunung Cangak. Bukti tertulis bahwa Masyarakat Subang menyebut gunung itu Gunung Cangak, diabadikan dalam nama gang, Gang Gunung Cangak yang berada di Kelurahan Pasir Kareumbi, Kecamatan Subang, Kota Subang, Kode Pos 41214.

Dalam peta-peta resmi yang dibuat oleh lembaga yang salah satu tugas-pokok-fungsinya membuat peta ditulis Gunung Canggok. Mari kita susuri mulai kapan kesalahan itu dimulai. Hanya satu peta yang tidak saya temukan di perpustakaan, sehingga tidak mengetahui dalam peta mana kesalahan itu dimulai, yaitu tidak dapat melacak peta yang dibuat tahun 1919 oleh Belanda.

Dalam peta topografi Afdeling Karawang, Distrik Sagalaherang, tahun 1919, yang digambar ulang oleh Djawatan Geologi, dituliskan Gunung Tjanggak (Peta Lembar 39/XXXIX, skala 1:25.000). Apakah penggambar ulang menulis apa yang ada dalam peta tahun 1919 itu, atau merubah nama geografis itu menjadi Gunung Tjanggak (Canggak)? Mungkin, karena peta dasar untuk pembuatan Peta Geologi ini mempergunakan peta-peta yang telah digambar ulang oleh lembaganya, sehingga dalam Peta Geologi Lembar Bandung karya oleh P.H. Silitonga yang terbit tahun 1973, ditulis juga Gunung Tjanggak, +1.618.

Dalam Peta Lembar Tjimalaka (Sheet 4522 I, series T725, skala 1:50.000) yang dibuat oleh US Army Map Service, edisi 2-AMS, dituliskan Gunung Canggok. Sedihnya, kesalahan itu diulang dalam Peta Rupabumi Digital Indonesia Lembar 1209-323, Sukamulya, skala 1:25.000, edisi I–2.000, yang diterbitkan oleh Bakosurtanal, dengan pelaksana Blom Narcon Cooperation (Bandung), nama gunung itu ditulis Gunung Canggok (+1.602).

Karena dua sumber resmi Amerika dan Indonesia menulis nama geografis itu Gunung Canggok, maka dalam Google Map pun ditulis Gunung Canggok. Ketika pengguna peta digital di internet mengetik kata Gunung Cangak dalam mesin pencari, pastilah tidak akan dapat ditemukan nama gunung itu.

Kesalahan penulisan nama geografis itu terus berantai. Karena yang melaksanakan pengerjaan Peta Rupabumi Digital Indonesia – Bakosurtanal itu adalah Narcon, maka ketika perusahaan ini membuat Street Atlas Bandung untuk Periplus, pastilah merujuk ke Peta Rupabumi Digital Indonesia yang pernah dibuatnya, sehingga pada halaman 10-11, F3, ditulis Gunung Canggok (+1.602).

Demikian juga dalam Bandung Raya, Map & Stree Guide yang disusun oleh Dr. Riadika Mastra, yang diterbitkan oleh BIP tahun 2.009, yang secara tertulis menyebutkan salah satu sumbernya adalah Peta Rupabumi – Bakosurtanal, maka sudah dapat dipastikan penulisan gunung itu tidak tepat, yaitu Gunung Canggok (+1.602).

Kata cangak dalam Kamus Basa Sunda, Kamus Jawa Kuna, Kamus Kawi, dan Kamus Sansakerta, berarti burung bangau. Betulkah dalam ekosistem hutan hujan tropis yang tidak terdapat rawa-rawa atau danau burung bangau menjadi penguhinya?

Gunung Cangak dilihat dari utara dan barat laut, rona bumi puncaknya terlihat seperti pelana dengan dua kerucut di kedua ujungnya. Gunung Cangak, gunung yang puncaknya bercagak dua. Untuk mendukung pendapat ini, dapat dibandingkan dengan nama gunung kecil di Pulau Sumbawa, di kaki selatan Gunung Tambora, yaitu Doro Ncanga(k). Dalam bahasa Dompu, doro berarti gunung, dan canga(k) adalah cagak. Masyarakat Dompu tidak melafalkan huruf mati di ujung kata, seperti dalam bahasa Indonesia pada kata tidak.

Gunung Cangak itu berderet dalam satu garis lurus arah barat-timur, mulai dari Kaldera Gunung Sunda dengan Gunung Tangkubanparahunya yang masih aktif, bersambung dengan gunung-gunung api purba, yaitu Kaldera Cupunagara, Kaldera Cibitung, Kaldera Cangak, dan Kaldera Buligir.

Gunung Cangak ini semula gunung api aktif, namun sekarang sudah tidak menunjukkan kegiatan kegunungapiannya, sehingga dapat dikelompokan sebagai gunung api purba. Rupa buminya masih dapat dilihat dengan baik bahwa semula ini berupa gunung api yang pernah meletus dengan bukaan kea rah utara-timur laut. Bukti-bukti yang menguatkan bahwa Gunung Cangak berupa gunung api purba, dapat dilihat dari tubuh gunungnya yang terdiri dari batuan hasil dari letusan gunungapi berupa breksi, lahar, dan lava.

Secara sepintas, mencirikan, bahwa Gunung Cangak ini lahir dari kaldera gunung yang jauh lebih besar, seperti Gunung Sunda yang lahir dari Kaldera Gunung Jayagiri, dan Gunung Tangkubanparahu lahir dari Gunung Sunda.

Dalam penulisan nama geografis, jangan menduga-duga, seperti dalam nama geografis cangak. Tidak semua yang sengau itu keliru. Bukankah tetap menulis dan melafkan kata cengek, cabai kecil yang rasanya sangat pedas, atau cabai rawit, tidak menjadi cenggek? Mungkinkah lembaga resmi dapat mengoreksi nama geografis yang ditulis keliru?***
Bagikan: