Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Umumnya berawan, 20.3 ° C

Hutan Kareumbi Sebagai Sumber Pangan

T Bachtiar
T Bachtiar

T Bachtiar

JALANAN berdebu dan panas menyengat berganti sejuk begitu masuk kawasan Taman Buru Masigit-Kareumbi yang dikelola oleh Wanadri. Pepohonan menjulang tinggi. Di sini, air yang tercurah dari langit saat musim penghujan ditangkap dedaunan kemudian diresap akar-akar pohon ke dalam tanah.

Akar memeluk tanah, menyimpan, dan mengatur air, kemudian dikeluarkan secara teratur, secara wajar di mata air, mengalir jernih ke lembah-lembah. Saat musim kemarau yang terik, ketika di beberapa tempat termasuk daerah yang berbatasan dengan kawasan ini sudah kekurangan air, di sini air tetap berlimpah dan bersih sehingga beragam jenis capung dapat berkembang biak dengan baik dan ikut menyemarakkan semesta. Di Kareumbi dapat dirasakan betapa manfaat hutan tak tergantikan oleh teknologi apapun.

Dengan curah hujan rata-rata 1.900 mm per tahun, di taman buru ini terdapat sumber-sumber mata air yang terhimpun dalam rawa-rawa kecil yang ditumbuhi rerumputan dengan lingkungan yang khas di ketinggian gunung. Mata air itu menjadi sumber air dan tempat mencari makan, minum, dan berkubang.

Dengan hutan yang terjaga, mata air dan sungai di lembah-lembahnya tidak akan pernah kering. Keadaannya sangat berbeda dengan daerah di seklilingnnya yang sudah tak menyisakan pohon. Lahan-lahannya dimanfaatkan menjadi kebun sayur, jenis tanaman jangka pendek. Akibatnya, tidak ada lagi akar pohon yang dapat mengikat tanah dan akar yang mampu menahan air. Mata air-mata air kerintang, rawa-rawa pegunungan menjadi kehilangan air.

Untuk masuk ke kawasan konservasi ini, terdapat empat pintu masuk. Bagi yang datang dari Bandung, bisa masuk melalui Pintu Blok KW (Cigoler), dengan rute Kota Bandung-Cicalengka sejauh 30 km, Cicalengka-Sindangwangi sekitar 13 km, dengan jalan beraspal, kondisi jalan kurang baik. Dari Sindangwangi ke Blok KW sejauh 3 km dengan jalan berbatu.

Nama geografi kareumbi diambil dari nama pohon kareumbi, Homalanthus populneus (Giesel.) Pax. Pohon ini berukuran sedang, tingginya sampai 10 m dengan garis tengah sampai 30 cm. Daun mudanya berwarna merah dengan bunga berupa bulir putih kekuningan. Buahnya bulat warna hijau tua.

Pohon kareumbi termasuk jenis pionir yang tumbuh di hutan bekas tebangan, hutan sekunder, dan hutan pinggir sungai. Tumbuh di dataran rendah sampai ketinggian sekitar 2.000 mdpl. Pohon kareumbi hanya terdapat di tempat-tempat yang terbuka namun sering juga tumbuh di bagian hutan utuh yang sedikit terbuka.

Pohon kareumbi bagus ditanam di lahan-lahan kritis yang akan dihijaukan. Perbanyakannya dapat dilakukan dengan biji dan tunas. Pertumbuhannya sangat cepat. Dalam waktu setahun, semaiannya telah mencapai tinggi 2,5 meter dengan besar batang sekitar 10 cm.

Rona bumi kawasan taman buru ini berbukit sampai bergunung, dengan puncak tertinggi Gunung Karenceng yang punya ketinggian sekira 1.763 mdpl. Taman Buru Masigit-Kareumbi berada di tubuh gunung api yang kini sudah mati, tidak menunjukkan adanya kegiatan magmatik yang menekan dari dalam perut bumi. Hanya dari jejaknya dapat disimpulkan bahwa kawasan ini semula berupa gunung api.

Gunung Kareumbi merupakan gunung api purba yang aktif meletus antara 1.800.000-800.000 tahun yang lalu, dengan bukaan ke arah barat laut.

Pada periode letusan awal, material letusannya yang tersebar di sekeliling gunung ini berupa pasir yang besar butirnya, mulai sebesar semut merah sampai sebesar merica. Material itu telah berpadu dengan batuan dari letusan gunung api lainnya seperti debu dan pasir yang bercampur lempung. Ada lapili, batuan dari letusan gunung api yang ukurannya mulai sebesar ketumbar sampai kelereng. Breksi, batuan rombakan yang tersusun dari material yang berbutir kasar, bersudut, lebih besar dari pasir, yang terikat oleh bahan yang halus. Ada juga lava, batuan gunung api yang semula lebur namun telah membeku begitu keluar dari tubuh gunung.

Di utara gunung, aliran material letusannya melampar sampai Ci Peles dan di selatan sampai Ci Tarik, membentuk bukit-bukit rendah yang ditutupi tanah warna abu-abu dan kemerahan. Jarak antara kedua sungai ini sekitar 8 km.

Pada periode letusan berikutnya, Gunung Kareumbi melelerkan lava, umumnya bersifat basal, warnanya kehitaman dan halus, namun banyak lubang-lubang bekas pelepasan gas. Tempat-tempat yang sekarang dijadikan tempat berkemah berada di dasar cekungan bekas bukaan letusannya.

Taman buru ini sebaiknya ditambah fungsinya untuk ketahanan pangan masyarakat di sekitar gunung pada masa damai dan pada masa darurat. Taman buru bisa menjadi hutan sebagai cadangan bahan pangan. Untuk mewujudkannya, harus dimulai dari sekarang dan menjadi gerakan bersama. Misalnya, menanam gadung dengan penyebaran yang luas dan menanami lereng gunung dengan pohon kawung/enau.

Dalam situasi damai dapat meningkatkan kesejahteraan dan pada saat darurat dapat menghasilkan bahan pangan dengan mudah dan cepat.***
Bagikan: