Pikiran Rakyat
USD Jual 14.449,00 Beli 14.351,00 | Hujan singkat, 23 ° C

Taman Hewan

Hawe Setiawan
Hawe Setiawan

Hawe Setiawan

ISA Perkasa, tetangga saya, pernah berkantor di kandang monyet. Waktu itu, tahun 2014, ia pusing menyimak cekcok anggota parlemen antara koalisi ini dan koalisi itu. Ia pun pusing melihat berbagai masalah sosial di kota tempat tinggalnya. Seakan menyindir para pemegang kebijakan politik, ia berkoalisi dengan penghuni Kebun Binatang Bandung, tepat di seberang kampus ITB tempat Isa pernah belajar seni rupa. Dengan mengenakan jas, dasi, dan peci, layaknya anggota parlemen, ia masuk ke kandang monyet dari jam sembilan pagi hingga jam empat sore selama hampir seminggu, dari 3 hingga 7 November.

Kandang monyet pilihan Isa terletak di tengah kolam. Di atas sebidang tanah bak pulau terapung ia memasang meja tulis lengkap dengan taplak putih. Di atasnya terletak sesisir pisang matang. Saban hari sang seniman sibuk menulis di atas lembaran kertas, sementara kawanan monyet bergelantungan di antara pepohonan. Sesekali Isa menawari monyet-monyet itu pisang. Itulah atraksi yang disebutnya "jeprut".

Tak tahulah saya, apakah kehadiran seniman di kebun binatang meningkatkan ataukah menurunkan kunjungan wisatawan. Yang meningkat pastilah jumlah kunjungan seniman. Beberapa seniman lain menanggapi atraksi Isa, antara lain dengan membaca puisi, membuat sketsa, dan sebagainya. Demikian pula jumlah kunjungan wartawan. Isa tampil di halaman koran, seakan-akan ia warga baru kerajaan hewan.

Masyarakat penutur bahasa Sunda, yang melahirkan orang seperti Isa dan saya, dulu sering memakai istilah taman hewan buat kebun binatang. Alternatifnya adalah derenten, yang diserap dari istilah Belanda, dierentuin. Dieren adalah bentuk jamak untuk dier alias "hewan", sementara tuin berarti "taman" atau "kebun". Taman hewan adalah taman tempat hidupnya hewan-hewan peliharaan.

Buat orang kampung seperti saya, berkunjung ke kebun binatang sudah jadi bagian penting dari narasi tentang pengalaman bepergian ke kota. Narasi seperti itu bahkan ditanamkan sejak anak-anak. Dalam buku bacaan sekolah dasar di Tatar Sunda karya Sanusi dan Samsudi, Taman Pamekar, ada cerita tersendiri tentang kunjungan ke Kebun Binatang Bandung. Saya adalah bagian dari generasi yang membaca buku itu. Saya juga sering teringat pada bagian akhir kisah cinta karya Sjarif Amin, "Manéhna" (1965). Di situ ada gambaran suasana Kebun Binatang Bandung sebagai tempat pertemuan antara si "kuring" dan si "manéhna" yang tak pernah terlaksana.

Tentu, sudah lama kebun binatang hadir di Bandung. Bahkan isu seputar pendirian kebun binatang ini sudah terdengar sejak sekurang-kurangnya tahun 1928 tatkala E.W.P. Vogelpoel, pedagang hewan alias dierenhandelaar terkemuka, berkunjung ke Bandung pada 1928. Pada 28 Desember 1932 klub Bandoeng Vooruit (Bandung Maju) mengadakan pertemuan di Balai Kota Bandung. Isi pertemuan menekankan perlunya dibentuk panitia buat membuka kebun binatang dengan memanfaatkan tempat di Jubileumpark.

Dalam "Jendela Bandung" (2007), mendiang Her Suganda mencatat bahwa kebun binatang ini tadinya adalah Bandoengsche Zoological Park (BZP) yang diresmikan oleh pemerintah kolonial Belanda pada 1933. Pelopornya, menurut Pak Her, adalah Hoogland, Direktur Bank Denis. Setelah Indonesia merdeka, pengelolaan kebun biatang ini ditangani oleh yayasan yang dipimpin oleh R. Emma Bratakoesoema, tokoh politik, jawara, dan usahawan terkemuka.

Hari ini pernghargaan terhadap Kebun Binatang Bandung rupanya sedang surut. Saya sendiri ikut khawatir, jangan-jangan ada ambisi modal korporasi buat mencaplok kawasan Lebak Siliwangi tempat Kebun Binatang Bandung berlokasi. Jangan-jangan, hewan-hewan itu akan disuruh menyingkir entah ke mana dan lahannya dipakai buat bisnis properti atau entah apa. Karena itu saya selalu berdoa: jangan gedung lagi, jangan beton lagi. Berilah tempat buat hutan dan kawanan hewan. Biarlah hutan dan kota berpeluk-pelukan.

Kekhawatiran dan harapan seperti itulah yang minggu lalu saya kemukakan kepada Isa. Kami bertemu di rumahnya yang baru-baru ini sekaligus jadi kedai kopi sederhana bernama Warung Pasta Pora. Warung kecil yang memasang slogan “porsi rakyat” itu terletak di belakang Masjid Nurul Huda, di pinggiran terminal Ledeng. Beberapa drawing karya Isa menghiasi dinding. Eni, istrinya yang mengelola warung, membiarkan kami mengobrol ke sana-ke mari, antara lain mengenai Kebun Binatang Bandung.

Saya ajak Isa untuk pergi ke kebun binatang lagi. Ajakan itu saya sampaikan bukan untuk mengamini seruan boikot, juga bukan untuk main selfie di dekat hewan tua yang mau mati, melainkan buat merawat kenangan sebelum segalanya berantakan.***
Bagikan: