Pikiran Rakyat
USD Jual 14.433,00 Beli 14.335,00 | Cerah berawan, 28.8 ° C

Tentang Waduk

Hawe Setiawan
Hawe Setiawan

Hawe Setiawan

KATA “waduk” dalam bahasa Sunda sepertinya punya banyak masalah. Secara harfiah, kata ini berati kotoran, baik kotoran hewan maupun kotoran manusia. Dalam pemakaiannya sehari-hari, kata ini bisa menunjuk berbagai hal, mulai dari hal yang menjijikkan hingga hal yang menggelikan. 

Kata benda ini bisa jadi kata seru yang mengungkapkan rasa jengkel atau geram. Jika kata ini dipakai sebagai kata sifat, siapapun yang dilekatinya pasti jadi buruk. Apalagi jika kata ini dijadikan kata ganti orang kedua atau ketiga, baik tunggal maupun jamak, telunjuk pembicara niscaya jadi sarkasme. Tegasnya, inilah kata yang di ruang publik cenderung terasa kurang sopan.

Sering pula kata yang satu ini mengundang gelak tawa. Dengarkan saja lagu dari Krakatau yang memilih “waduk” sebagai salah satu idiom dalam liriknya. Pola rimanya diolah dari pola rima lagu anak-anak di Tatar Sunda, yang menjadikan bunyi akhir tiap larik bersambung dengan bunyi awal larik berikutnya. Begini bunyinya:

Doléwak nincak waduk

Duka waduk saha

Haneut kénéh pisan

Komedi, tentu, terjadi di berbagai lingkungan kebudayaan. Dalam lagu berdialek Betawi, “Malem Minggu”, yang pernah dipopulerkan antara lain oleh mendiang Bing Slamet dan Benyamin Syueb, kita mendapat gambaran serupa. Dalam lagu itu orang yang sedang pacaran mendapat sial sepulang nonton bioskop, yakni “nginjek gituan”. Baik dalam lagu Sunda maupun lagu Betawi jelas terekam suatu zaman tatkala manusia atau hewan buang hajat di sembarang tempat.

Memang, dalam kamus-kamus bahasa Sunda ada juga kata “waduk” yang artinya “bendungan” alias “dam”. Namun, di situ selalu diterangkan bahwa kata yang merujuk kepada reservoir air itu diserap dari bahasa Jawa. Dengan kata lain, tadinya, penutur bahasa Sunda hanya kenal “waduk” dalam arti “kotoran”, dan tidak memperluas artinya hingga ke “bendungan”, meskipun baik kotoran maupun bendungan pasti berurusan dengan “cai” alias air. Yang pasti, tidaklah elok jika orang menganggap bendungan sebagai tempat pembuangan kotoran, sekalipun kotoran itu berasal dari kawanan ikan.

Itulah sebabnya, sebagai penutur bahasa Sunda, saya sering merasa tidak sanggup mendengar orang membicarakan bendungan dengan istilah “waduk”. Apalagi jika bendungan yang dibicarakan terletak di wilayah Tatar Sunda semisal Jatigede yang baru beroperasi di penghujung tahun 2015.

Mendengar sebutan “Waduk Jatigede”, benak saya seakan diajak untuk membayangkan hal yang tidak elok. Padahal, menurut seorang staf ahli dari Kementrian Pertanian, Jatigede bisa ikut menjamin “swasembada pangan”.

Soal pentingnya bendungan bagi pertanian sih sudah lama merasuki pikiran orang banyak. Dalam kisah “Lutung Kasarung” sebagaimana yang ditranskripsikan dan diumumkan oleh C.M. Pleyte pada 1910 dari wilayah Cirebon, Purbararang yang berkuasa di istana memberi titah kepada Purbasari yang terbuang di belantara. Di antara begitu banyak titahnya ada titah yang menghendaki sungai Baranangsiang dibendung, juga hutan-hutan dibuka jadi lahan pertanian. Urusan pengairan dan persawahan jelas sudah jadi kebutuhan sejak dulu.

Hal yang sering luput dari ingatan adalah nasib warga yang harus berkorban demi beroperasinya bendungan. Mereka mesti pindah ke lain tempat, meninggalkan rumah, menjauh dari kubur leluhur. Istilah yang dipakai oleh pemerintah buruk betul: “relokasi”, seakan-akan warga setempat adalah benda mati yang gampang dipindah-pindah. Kenangan mereka, mata pencaharian mereka, dan masih banyak lagi, sepertinya tidak begitu diindahkan.

Bayangkan, ketika pejabat pemerintah menyatakan optimisme seputar fungsi bendungan Jatigede bagi pembangunan pertanian, kita juga mendapat berita buruk seputar ancaman “rawan pangan” bagi warga yang telah menyingkir demi bendungan.

Kata si empunya berita, tak lama setelah bendungan Jatigede mulai beroperasi, Gubernur Ahmad Heryawan menebar anak-anak ikan. Mungkin orang berharap, sekian puluh tahun kemudian, kawanan kancra dan bandeng akan tumbuh sebesar kapal selam. Itu pun kalau benihnya tidak terjaring nelayan miskin yang memang harus menyambung hidup sebisa mungkin. Lagi pula, sang ikan yang baru ditebar itu sepertinya belum berani berenang ke tengah, malah bermain-main di pinggiran. Pastilah mereka mudah ditangkap.

Tentu saja, sekalipun istilah yang dipakai adalah “bendungan”, bukan berarti masalah waduk bakal selesai. Setidaknya, ketika bendungan jadi, kita masih bisa tetap bertanya: ke manakah para buruh tani pergi?*** 

Bagikan: