Pikiran Rakyat
USD Jual 14.558,00 Beli 14.460,00 | Umumnya berawan, 20.8 ° C

Mendadak Sukarno

Hawe Setiawan
Hawe Setiawan

Hawe Setiawan


 


SEJAK 2015 Jalan Cikapundung Timur di Bandung jadi Jalan Dr. Ir. Sukarno. Wali Kota Ridwan Kamil, yang mengubah nama jalan itu, mendampingi Guruh Soekarnoputera menggunting pita, tanda resminya perubahan nama. Begitulah yang terlihat dari guntingan koran.


 


Saya baru menyadari perubahan itu akhir-akhir ini ketika saya berhenti mengayuh sepeda di atas jembatan Cikapundung, tak jauh dari alun-alun. Di dekat papan nama jalan yang baru berganti nama itu, ada tugu Dasa Sila Bandung karya pematung Sunaryo yang belum lama digeser dari Simpang Lima. 


 


Dengan pergantian nama jalan itu, sekarang Bandung punya dua jalan yang dikasih nama Sukarno. Jalan yang satu disertai nama Hatta, jalan yang lain hanya memakai Sukarno. Dihapusnya nama Jalan Cikapundung Timur juga menyebabkan Jalan Cikapundung Barat tidak punya teman. Kalau ada Barat, lazimnya ada pula Timur. Kalau tidak ada Timur, keberadaan Barat jadi hilang makna. 


 


Cikapundung sendiri, tentu, adalah nama sungai. Berhulu di perbukitan Bandung utara, airnya terguling di Curug Dago, turun ke Lebak Siliwangi, dan membelah jantung kota di dekat Gedung Merdeka. Di tengah kota, sungai ini diapit oleh dua jalan, yang relatif sama panjang dan sama lebar. Itulah Jalan Cikapundung Barat dan Jalan Cikapundung Timur.


 


Pada zaman kolonial, nama lokal biasanya jarang diotak-atik. Dibiarkan saja nama-nama itu hidup sebagaimana masyarakat setempat menumbuhkannya, tertera dalam peta. Pada zaman pascakolonial, Indonesia sendiri biasanya hanya mengubah nama-nama buatan Belanda atau nama-nama yang tidak kelewat melekat pada ingatan kolektif. Menjelang Konferensi Asia-Afrika pada 1955, misalnya, Jalan Raya Timur jadi Jalan Asia-Afrika, dan Gedung Sociteit Concordia jadi Gedung Merdeka. Kota kolonial lantas berubah citra jadi ikon gerakan pascakolonial. 


 


Cikapundung sendiri adalah nama yang sangat melekat pada ingatan kolektif di Jawa Barat. Ada sejumlah lagu Sunda yang turut mengabadikan ingatan itu. Saya masih menyimpan kaset jadul keluaran Pandawa Records yang merekam suara merdu Dédéh Winingsih melantunkan lagu “Mojang Cikapundung”. Kalau tidak salah, lagu itu adalah gubahan U. Sumarna. 


 


Cikapundung nu aya di Kota Bandung


kota éndah Kota Kembang tempat midang 


alun-alun héjo ngémploh pangiuhan


Cikapundung walungan di Kota Bandung


 


Baheulana lalakonna mojang lenjang


Mojang geulis Nyi Odas (?) mojang ti kampung


Deudeuh teuing mojang nu nandang tunggara


Pangiuhan kolong sasak Cikapundung


 


Lirik di atas memperlihatkan kontras. Pada bait pertama tergambar suasana kota yang teduh tempat orang bertandang. Pada bait kedua tergambar nasib gadis desa yang tak punya tempat berteduh di kota yang serbatimpang. 


 


Nama Cikapundung merupakan persenyawaan antara kontraksi cai (air) dan kapundung, nama tanaman. Tentang tanaman ini, saya dapatkan keterangan dari buku pelajaran botani karya Dr. C.G.G.J. Van Steenis, Flora: Voor de Scholen in Indonesië (Flora: untuk Sekolah-sekolah di Indonesia) terbitan 1951. Hingga kini buku jadul ini tetap saya rawat karena dalam buku yang sarat dengan taksonomi berbahasa Latin ini, nama-nama lokal tidak dihapus. Nama-nama lokal dari Tatar Sunda, Tanah Jawa, dan Alam Melayu tetap diberi tempat yang layak, bersanding sejajar dengan nama-nama Latin.


 


Kata Dr. Van Steenis, pohon kapundung juga suka disebut ménténg atau bencoi. Adapun nama Latin-nya adalah Baccáurea racemosa M.A. Pohonnya bisa tumbuh setinggi 15 hingga 25 meter. Daunnya oval, buahnya kecil dan bulat. Kata saya sendiri, kalapun sekarang orang Bandung tak kenal lagi pohon kapundung, tapi setidaknya masih bisa mengingatnya melalui nama jalan dan sungai.


 


Pada 1953, semasa Bandung masih dipimpin oleh Wali Kota Enoch Danoebrata, Jalan Cikapundung Timur dijadikan stasiun bus DAMRI. Nyonya Enoch meresmikan stasiun itu pada bulan Januari, disaksikan oleh para pembesar setempat, antara lain Gubernur Sanoesi Hardjadinata. Saya kira, itu peristiwa penting, karena bus kota yang baik jelas diperlukan demi kemaslahatan warga kota.


 


Baiklah, semua itu tinggal kenangan di tengah kota yang kini gemar bersolek. Sambil termangu-mangu di depan papan jalan, saya teringat pada terminologi “anak Sukarno” dari teman saya. Katanya, ada “anak biologis”, ada pula “anak ideologis”. Namun, di Jalan Cikapundung Timur, samar-samar saya melihat satu kategori tersendiri: itulah anak yang tampaknya sedang mencari-cari jalan entah hendak ke mana.***
Bagikan: