Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Umumnya berawan, 28.6 ° C

Cekungan, Gentong, Periuk

T Bachtiar
T Bachtiar

T Bachtiar

PADA Lebaran tahun 2015, nama jalan “Lingkar Gentong”, boleh jadi paling banyak disebut dalam program mudik di beberapa stasiun televisi suasta. Bahkan, ada stasiun televisi yang terus melaporkan keadaan lalu-lintas di jalan antara Bandung-Tasikmalaya itu. Nama kawasan ini geomorfologinya berupa cekungan yang dalam, dalam imajinasi masyarakat dulu, menyerupai gentong, tempat air yang bentuknya seperti tempayan besar, pada umumnya terbuat dari tanah liat.

Jalan yang mengular menyusuri lembah-lembah tempat bertemunya kaki gunung-gunung api purba yang melingkar, yang meletus jutaan atau ribuan tahun lalu. Kini, kawah-kawah dan kalderanya yang datar dan mati itu sudah banyak dihuni, di sana rumah-rumah sudah berderet-deret.

Setiap tahun, saat lebaran dan akhir pekan, atau pada masa-masa puncak liburan, di jalan ini, khususnya di daerah Gentong, pergerakan kendaraan menjadi sangat lambat, apalagi bila ada truk yang sarat beban, yang mendaki pelan di jalanan yang terus menanjak ke arah Bandung.

Selain nama geografi Gentong, ada juga Cigumentong, kantung perkampungan di dalam “Taman Buru” yang berada di dasar kaldera purba Gunung Kareumbi, di utara Cicalengka, yang kini dikelola oleh Wanadri. Kantung perkampungan itu rona buminya menyerupai gentong, kawasannya lebih cekung dari lingkungan sekitarnya.

Bila melaju di jalan raya selepas Nagreg ke arah Limbangan, ada nama geografi Cijolang. Dinamai Cijolang, karena kawasannya berbentuk cekungan yang memanjang, menyerupai jolang, tempat air yang berbentuk lonjong, terbuat dari “seng” yang tebal atau plastik. Saat ini, jolang umumnya dibuat dari bahan plastik dan lebih banyak dipergunakan untuk memandikan bayi.

Nama geografi lain yang rona buminya berbentuk cekungan, namun tidak sebesar gentong dan jolang adalah Cipariuk dan Mariuk. Nama geografi ini diambil dari nama alat yang sangat popular pada zamannya, yaitu pariuk. Pariuk merupakan alat untuk menanak nasi atau memasak sayur, yang terbuat dari tanah liat. Selain abadi menjadi nama geografi, kata pariuk abadai dalam nyanyian permainan anak-anak tokecang, “tokecang… tokecang… sapariuk kosong…”.

Di pelabuhan laut yang kini wilayahnya termasuk ke DKI Jakarta Raya, di pantai utaranya terdapat Pelabuhan Tanjungpriuk. Pelabuhan ini semula berupa teluk yang tenang untuk dilabuhi perahu, yang bentuknya cekung menyerupai periuk.

Kawasan yang cekung seperti pariuk, yang rona buminya berupa cekungan adalah Sukajadi. Jadi itu nama lain untuk pariuk dalam bahasa yang lebih tua, yaitu alat untuk menanak nasi dan membuat sayuran, yang terbuat dari tanah liat. Sukajadi berarti tempat yang cekung yang sangat indah-permai.

Kawasan yang cekung lainnya ada juga yang dinamai Kawali, seperti kawasan di Ciamis utara, tempat “astanagede” berada. Di situs itu terdapat prasasti, teks yang ditulis dalam batu. Kawali, kuali, merupakan belanga untuk memasak atau merebus sayur yang terbuat dari tanah liat.

Hampir serupa dengan kuali adalah kancah dalam ukuran yang lebih besar. Kancah itu kuali besar, semacam katel besar yang terbuat dari tanah liat atau besi, biasa digunakan untuk membuat gula merah atau membuat dodol. Dinamai Kancah, bila kawasan itu cekung. Namun bila keadaan sebaliknya, bila kawasan itu bentuk rona buminya cembung membulat, seperti kancah yang terbalik, maka dinamailah kawasan itu Kancahnangkub, kancah yang telungkup.

Ada juga nama geografi yang berupa cekungan, yaitu Cilegon. Legon, nyelegon, tempat yang cekung, sehingga sangat nyaman bila diduduki atau ditiduri. Legon pun dapat berarti sebagai kawasan yang cekung, baik cekungnya ke dalam atau ke bawah, maupun cekungnya itu ke samping berupa teluk kecil. Legon sebagai teluk kecil, nama-nama geografi ini banyak terdapat di pantai selatan Provinsi Banten, seperti Legon Matahyang, Legon Pari, dll.

Nama geografi Cangkorah pun menunjukkan kawasan dengan rona bumi yang berbentuk cekungan. Kata cangkorah mempunyai arti yang sama dengan legon, yaitu tempat yang cekung, bila diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, kursi yang nyelegon itu sangat nyaman bila diduduki karena bias tiduran, sehingga menjadi lupa berdiri.***
Bagikan: