Pikiran Rakyat
USD Jual 14.433,00 Beli 14.335,00 | Cerah berawan, 27.4 ° C

Dari Radio

Hawe Setiawan
Hawe Setiawan

Hawe Setiawan

DI Jalan ABC saya membeli radio: sekepal Sony yang konon dirakit nun di Tiongkok. Itulah radio dua band yang hidup dengan dua batere berukuran dua A. Memang, peradaban digital telah memperlancar transmisi dan resepsi program penyiaran melalui beragam perangkat yang lebih pintar. Saya pun merasa kuno, seakan benda kecil ini adalah mesin waktu buat pergi ke masa lalu.

Radio itu saya beli buat ayah saya di desa. Di lingkungan perdesaan, ayah hidup dengan televisi layar cembung yang membawa Persib ke kampung, juga dengan Pikiran Rakyat yang selalu datang terlambat. Telefon seluler yang akhirnya ia pakai rupanya terlalu banyak menuntut. Dan radio? "Perlu buat jadi teman di sawah," katanya.

Di Bandung, saya sendiri biasa mendengarkan siaran radio — kebiasaan sejak masa remaja. Hari ini, iTunes memberikan kesempatan yang leluasa untuk menikmati siaran radio dari tempat-tempat yang jauh: 100% NL, Radio Holland Online, Omroep Brabant, BBC, PRI, dll. Namun, kebiasaan lama dalam penggunaan radio transistor buat menikmati siaran dari tempat-tempat yang tidak terlalu jauh masih saya teruskan. Radio, buat saya, tidak terlalu banyak menuntut perhatian sebesar televisi. Saya bisa menikmati siaran radio sambil melakukan kegiatan lain.

Suatu hari, sambil menulis kolom, saya menyimak siaran radio menarik: perbincangan Bandung Radio (95,2 FM) dengan seorang petani bawang dari Ciwidey. Perbincangan berlangsung dalam bahasa Sunda, bahasa yang dipakai oleh narasumber. Ragam perbincangan informal sebagaimana perbincangan dalam hidup sehari-hari. Pokok perbincangan berkisar soal seluk-beluk pengalaman menyelenggarakan budidaya bawang.

Adapun Cosmo, Rama, dan sejenisnya sering menciptakan hari-hari saya dengan rintihan para penyanyi dangdut: Zaskia Gotik dengan “Tarik Selimut”, Riana Oces dengan “Janda Bodong”, dsb. Sementara itu, K-Lite (tempat dulu saya bekerja sewaktu namanya masih Kontinental) tetap menyajikan lagu-lagu dewasa yang tidak kelewat silam (adult contemporary).

Dari radio, saya juga mendengar tentang Jaringan Media Etnik Indonesia. Radio ini menyajikan program yang berbahasa daerah dan atau berisi bentuk-bentuk produk budaya setempat baik terbilang tradisional maupun yang mutakhir.

Lambat-laun saya melihat masalah mengenai istilah budaya lokal. Istilah itu begitu sering dipakai sehingga kandungan maknanya kabur, seperti juga terjadi pada istilah kearifan lokal. Dalam bahasa Melayu hari ini ada istilah kearifan tempatan yang sepadan dengan istilah kearifan lokal dalam bahasa Indonesia. Tiada kepastian mengenai kandungan makna dari adjektiva lokal dalam urusan ini.

Betapapun, kekaburan itu berkaitan dengan masalah tempat. Itu pun runyam: tempat dalam arti geografis (Sunda Kecil atau Sunda Besar); ekonomi (wilayah agraris atau maritim); politik (Provinsi Jawa Barat atau Banten; pusat atau daerah); sosial (lingkungan perkotaan atau perdesaan); dan budaya (tradisi atau modernitas; lama atau baru; konvensi atau inovasi).

Barangkali masalah “lokal” itu sebaiknya dihadapi tanpa sikap teritorial. Hal yang mungkin sebaiknya kita tekankan adalah keleluasaan individu hari ini untuk menyusun dan menyiarkan cerita (narrative) tentang kehidupan mereka sehari-hari. Soalnya adalah bagaimana mendampingi publik yang membaca, menulis, dan berbicara agar mereka bisa berkarya dengan patokan yang tinggi atau standar yang baik?

Ayah saya pasti senang sekali berteman dengan radio, apalagi jika radio itu menuturkan cerita yang dekat dengan kehidupannya sehari-hari di tengah sawah.***
Bagikan: