Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Umumnya berawan, 20.4 ° C

Walini

T Bachtiar
T Bachtiar

T Bachtiar




Tahun 2015 lalu, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Jawa Barat melansir berita tentang rencana pembangunan Kota Raya Walini yang terletak di Cikalongwetan, Kabupaten Bandung Barat (KBB), sebagai pusat Pemerintahan Provinsi Jawa Barat guna mengintegrasikan kantor-kantor dinas di lingkungan Pemerintahan Provinsi Jawa Barat yang saat ini tersebar di beberapa lokasi. 


 


Nama Kota Raya Walini seperti diungkapkan oleh Kepala Bappeda Jawa Barat Prof Dr Deny Juanda Puradimaja dan oleh Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, sesungguhnya penamaan itu ahistoris. Walini itu tumbuhan yang lingkungannya lahan basah, hidup di ranca, di rawa, sementara kawasan perkebunan teh yang akan beralih fungsi menjadi kota raya itu merupakan perbukitan yang bergelombang, punggungannya mengarah utara selatan, dengan lembah dan sungai yang jauh berada di dasarnya. 


 


Rupanya nama walini diambil dari merek dagang “Teh Walini”, yang iklannya dipajang di perkebunan teh PTP VIII, di pinggir jalan tol Cipularang, sehingga sangat jelas terlihat dari berbagai arah. Merek dagang ini diambil dari nama geografi Rancawalini, tempat perkebunan teh yang berada di Ciwidey, Kabupaten Bandung. Karena kawasan yang akan dibangun menjadi kota raya itu berada di kawasan perkebunan teh PTP VIII, yang terletak di pinggir jalan tol Cipularang, dengan penanda papan merek dagang “Teh Walini”, maka nama walini dijadikan nama rencana kota raya tersebut.


 


Padahal, sudah lazim dalam pemberiaan nama, seperti untuk menamai  formasi batuan dalam ilmu Geologi, begitu pun penamaan kota baru, seharusnya berdasar pada nama geografi yang sudah ada di kawasan tersebut. 


 


Sebelum benar-benar kota terpadu ini jadi, janganlah ada alasan ribet, sebaiknya semua dokumen tentang rencana kota baru di bekas kawasan perkebunan teh ini harus dikaji ulang dan diperbaiki kembali. Penamaan Kota Raya Walini yang sudah terlanjur beredar di media masa perlu ditinjau ulang, karena ahistoris, tidak bersumber pada nama geografi yang sudah lama ada. Sebagai alternatifnya diusulkan nama Kota Raya Panglejar, mengacu pada nama geografi yang sudah lama ada, sudah sangat dikenal, dan menjadi nama perkebunan, serta mempunyai arti yang bagus. Panglejar berasal dari kata pa (ng) dan lejar. Lejar berarti tenang, senang, puas, bahagia, dan tenteram. Panglejar, pa (ng) lejar merupakan tempat yang dapat memberikan atau menimbulkan rasa tenang, senang, puas, bahagia, dan tenteram.


 


Namun, nama Kota Raya Walini sudah terlanjur menyebar karena disebarkan secara sadar oleh otoritas Negara. Kepala Bappeda Jawa Barat saat itu mengatakan, Kota Raya Walini ini merupakan bagian dari rencana pembangunan jangka panjang Metropolitan Bandung Raya yang akan melahirkan kota-kota mandiri sebagai penopang Kota Bandung. Menurutnya, di barat ada Kota Raya Walini, sebelah timur di Tanjungsari, Sumedang, dan di selatan di Pangalengan, Kabupaten Bandung.


 


Kota Raya Walini akan menjadi Pusat Pemerintahan Provinsi Jabar, yang terintegrasi dengan kota fashion, kampus pendidikan yang berkaitan dengan perkembangan ilmu, teknologi, dan kebudayaan, dengan dibangunnya kampus hijau ITB, kawasan bisnis, agrowisata, realestat berupa perkampungan dengan gaya arsitektur bangunan dari Negara asal semua anggota Konferensi Asia Afrika, perkantoran, mall, pusat bisnis, pasar modern, dan tempat rekreasi berupa wahana hiburan Disneyland.


 


Menurut Deny Juanda, lahannya sangat besar, Kota Raya Walini ini dua kali lebih besar dari Kota Cimahi. Dari 10.000 hektar lahan Kota Raya Walini itu, 3.000 hektar merupakan tanah perkebunan teh PTPN VIII, sisanya 7.000 hektar akan dibebaskan oleh Proivinsi Jawa Barat. Kawasan Kota Raya Walini ini akan menjadi penopang bagi kawasan industri di Jawa Barat, yang mencapai 60 persen dari industri nasional. Kota Raya Walini juga  enjadi bagian pembangunan kereta cepat Bandung - Jakarta. Selain sebagai salah satu stasiun perlintasan kereta, Kota Raya Walini akan dikembangkan menjadi kota satelit di bagian barat Bandung Raya.


 


Untuk membuka Kota Raya Walini itu akan membangun gerbang tol di Km 100 tol Cipularang di Kampung Warungdomba, Cikalong Wetan, sehingga waktu tempah dari Bandung hanya 30 menit saja. Apalagi nanti akan dibangun jalan tol Ciawi-Sukabumi, Sukabumi-Cianjur, dan Cianjur-Padalarang. Juga ditambah jalur jaringan kereta api yang sudah ada di sekitar lokasi, dengan dibangunnya satu stasiun kereta api cepat Jakarta-Bandung.


 


Kekeliruan dan kesalahan dalam memberikan nama geografi oleh otoritas Negara ini tidak bisa dibiarkan, sehingga kesalahannya terus menyebar dan disebarkan banyak orang. Oleh karena itu kesalahan ini harus dibetulkan, dan dimulai oleh otoritas Negara sendiri dengan membetulkan semua dokumen yang ada.*


 


 


 


T Bachtiar, anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung.



 

Bagikan: