Rabu, 26 Februari 2020

Status Gunung Ciremai Masih Aktif Normal

- 7 Agustus 2011, 09:12 WIB
MENINGKATNYA aktivitas tektonik Gunung Papandayan di Kab.Garut, tidak berpengaruh terhadap aktivitas Gunung Ciremai di Kab.Kuningan kendati pengawasannya makin ditingkatkan, Minggu (7/8).*

KUNINGAN, (PRLM).- Meningkatnya aktivitas tektonik Gunung Papandayan di Kab.Garut, tidak berpengaruh terhadap aktivitas Gunung Ciremai di Kab.Kuningan. Sampai saat ini GunungCiremai masih dinyatakan aktif normal berada pada level satu. Kendati demikian, pengawasannya ditingkatkan, sedangkan terjadinya suhu udara ekstrem diduga keras akibat terjadinya anomali (penyimpangan) cuaca dari biasanya 26 derajat, kini tercatat 32 derajat Celcius. “Naiknya suhu udara di Kab.Kuningan akhir-akhir ini diduga keras akibat anomali cuaca yang sebulan lalu tidak turun hujan, bukan akibat aktivitas Gunung Ciremai,” ujar Maman Sukirman, seorang petugas pengamat gunungapi di Pos Pengamatan Gunungapi Gunung Ciremai, yang ditemui ”PRLM” di Sampora Kec.Cilimus Kab.Kuningan, Minggu (7/8). Sebelumnya, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Dr. Surono menyebutkan, sebanyak delapan belas gunung api aktif sedang dalam pengawasan ketat, dua gunung berstatus siaga yaitu Gunung Lokon dan Gunung Ibu, sedangkan sisanya berstatus waspada termasuk Gunung Papandayan. Sedangkan Gunung Ciremai yang juga merupakan gunung api aktif dan tertinggi di Jawa Barat ( sekitar 3.080 m.dpl), kata Maman, kondisinya sampai saat ini masih dinyatakan aktif normal. Namun, bagi para pengamat gunung api khususnya Gunung Ciremai sangat lebih berhati-hati apabila sewaktu-waktu terjadi letusan yang besar, karena makin lama istirahat kemungkinan besar energi yang terkandung dalam magma makin banyak terkumpul. Terakhir meletus Gunung Ciremai terjadi pada tahun 1938 dengan masa istirahat yang panjang yakni 72 tahun, memaksa para pengamat gunung api untuk lebih ekstra hati-hati lagi apabila sewaktu-waktu terjadi letusan yang besar. Ada empat level (tingkatan) pada situasi dan kondisi di setiap gunung, yakni: 1. Aktif normal, 2. Waspada, 3. Siaga dan 4. Awas (gunung sudah meletus). “Gunung Ciremai merupakan gunung api soliter dengan kawah ganda di barat dan di timur dengan radius 600 meter dan kedalaman 250 meter, yang saat ini kondisinya masih aktif normal,” katanya, lagi. Pos Pengamatan Gunungapi Gunung Ciremai di daerah Sampora tersebut, berada di bawah naungan Kementrian Energi dan Sumberdaya Mineral Badan Geologi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. Secara bergiliran, tiga petugas yang ada melakukan pengamatan kegempaan dan aktifitas Gunung Ciremai dan memantau secara terus menerus dengan menggunakan metoda Seismik. Peralatan pemantau kegempaannya, menggunakan Radio Telemetri Seismograf (RTS) dan sensor yang digunakan untuk mendeteksi gempa berupa Seismometer yang dipasang di tubuh Gunung Ciremai, pada ketinggian 937 meter di atas permukaan laut atau sekira 5 km dari puncak Ciremai. Sedangkan penerimanya atau rekamannya ditempatkan di Pos PGA (Pengamatan Gunungapi) Desa Sampora. Dijelaskan Maman, meningkatnya segala aktivitas Gunung Papandayan di Kab.Garut, tidak terpantau atau tidak terekam oleh peralatan yang ada di Ciremai, karena memang kalau kejadian vulkanik memiliki dapur magma masing-masing di setiap gunung. “Alat Seismograf akan mencatat setiap aktivitas vulkanik Gunung Ciremai. Tapi, alat yang dipasang di Ciremai itu mampu mendeteksi juga kejadian gempa tektonik seperti saat terjadi gempa tektonik tsunami di Aceh maupun gempa di Yogyakarta beberapa tahun lalu, alat di Ciremai mencatatnya dengan jelas,” katanya.(A-164/A-147)***


Editor: Administrator

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X