Dianggap Menyengsarakan, Warga Majalengka Pasang Spanduk Tolak Kehadiran Rentenir

- 25 Januari 2023, 18:45 WIB
Spanduk besar bertulis penolakan masuknya bank emok, bank keliling, atau rentenir dipasang di sejumlah gang dan jalan pintu masuk ke Desa Kawunghilir, Kecamatan Majalengka, Kabupaten Majalengka.
Spanduk besar bertulis penolakan masuknya bank emok, bank keliling, atau rentenir dipasang di sejumlah gang dan jalan pintu masuk ke Desa Kawunghilir, Kecamatan Majalengka, Kabupaten Majalengka. /Tati Purnawati/Majalengka

PIKIRAN RAKYAT - Spanduk besar bertuliskan penolakan masuknya bank emok, bank keliling, atau rentenir dipasang di sejumlah gang dan jalan pintu masuk ke Desa Kawunghilir, Kecamatan Cigasong, Kabupaten Majalengka.

Dalam spanduk tersebut terpampang jelas tulisan dengan warna yang kontras, menandakan kehadiran bank di wilayah desa Kawunghilir dianggap menyengsarakan dunia maupun akhirat. Diketahui, jumlah penduduk di Desa Kawunghilir hanya sebanyak 860 jiwa atau 300 kepala keluarga dengan luas wilayah 77,2 ha.

Menurut keterangan Kepala Desa Kawunghilir, Hj Yossa Novita, spanduk dibuat karena dia benar-benar merasa prihatin dengan kondisi warga yang banyak terlilit utang dari rentenir nyaris tanpa batas.

Setiap hari, rentenir yang melakukan penagihan atau menawarkan uang dari bank emok dan bang keliling atau bankli (istilah yang dikenal masyarakat setempat) berkeliaran. Hingga akhirnya masyarakat yang tergiur untuk kebutuhan sesaat pun tertarik untuk meminjam tak peduli bayar dari mana.

Baca Juga: Aparat Buru Mobil Sedan yang Tewaskan Mahasiswi Cianjur, Klaim Bukan Bagian dari Iring-iringan Polisi

“Mereka yang meminjam uang ke bankli ini awalnya ada yang untuk kebutuhan sehari-hari, ada yang untuk kebutuhan konsumtif, ada juga yang ikut-ikutan pinjam karena temannya meminjam,” ujar Yossa.

Sebagian masyarakat, menurut Kaur Kesra, Andri Agus Pratama dan Raksabumi Dedi Teja Sukmana, alasan meminjam karena mereka tidak bekerja atau hanya pekerja serabutan, buruh tani, atau mereka yang tidak memiliki penghasilan tetap, sehingga ketika dilakukan penagihan oleh bankli akhirnya meminjam lagi ke bankli lain atau rentenir lainnya untuk menutupi tagihan tersebut, begitu seterusnya.

Hingga akhirnya banyak masyarakat yang terlilit utang besar hingga jutaan rupiah bahkan belasan juta. Para penagih datang mulai siang hingga sore hari dimana nasabahnya berada di rumah.

“Maklum saja kan dari pinjaman Rp200.000 yang diterima kan tidak utuh sudah berkurang 10 persen, esoknya tidak bisa bayar bunga akan bertambah sebab bunga tersebut akhirnya masuk ke pokok. Pinjaman ke bank keliling ini tidak akan ada yang besar, untuk pinjam Rp1 juta cukup lama dan nasabah juga mikir karena harus bayar setiap hari. Namun jika pinjamannya ke banyak rentenir akhirnya uang ya besar juga bisa lebih dari 1 atau Rp2 juta,” tutur Dedi.

Halaman:

Editor: Ahlaqul Karima


Tags

Artikel Pilihan


Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

x