Harga Telur Melonjak Karena Kurang Pasokan, Banyak Diserap untuk Penuhi Penyaluran BPNT

- 24 November 2022, 19:13 WIB
Paokan kurang, harga telur ayam di Pasar Manis Ciamis melonjak tinggi hingga Rp 31.000 per kilogram,  Kamis ( 24/11/2022). Naiknya harga telur diperkirakan bersamaan dengan penyaluran bantuan sosial Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), salah satunya berupa telur.
Paokan kurang, harga telur ayam di Pasar Manis Ciamis melonjak tinggi hingga Rp 31.000 per kilogram, Kamis ( 24/11/2022). Naiknya harga telur diperkirakan bersamaan dengan penyaluran bantuan sosial Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), salah satunya berupa telur. /Pikiran Rakyat/Nurhandoko Wiyoso

PIKIRAN RAKYAT - Harga telur ayam di tatar galuh Ciamis melonjak tinggi. Kondisi itu diperkirakan akibat kurang pasokan, karena banyak diserap untuk memenuhi kebutuhan penyaluran bantuan sosial Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT).  

Pantauan di Pasar Manis, Kamis 24 November 2022, sejumlah pedagang telur yang biasanya banyak menyediakan telur, kali ini terlihat hanya sedikit.

Harga telur yang sehari sebelumnya hanya berkisar Rp27.000–Rp28.000  per kilogram, naik menjadi kisaran Rp30.000–31.000 per kilogram.  

Pedagang mengaku kenaikan harga salah satu komoditi hasil peternakan itu disebabkan karena kurangnya pasokan. Bandar telur yang biasanya langsung menyuplai pedagang, tidak lagi mengirim.

Baca Juga: Polda Jabar Dalami Laporan Oknum Polisi yang Mengaku Jadi Ajudan Wagup dan Intimidasi Warga Garut

Akibatnya pedagang eceran telur terpaksa langsung membeli di bandar atau pedagang besar lainnya.  

“Kemarin memang masih jual Rp28.000 per kilogram. Tadi saya beli sudah naik jadi Rp29.000 dan dijual  Rp31.000. Naik harga karena barangnya langka, pedagang juga rebutan telur,” ungkap Evi, seorang pedagang telur di Pasar Manis, Kamis  24 November 2022.

Dia mengatakan, saat harga telur mahal karena terbatasnya pasokan, justeru penjualan meningkat. Sebelumnya menjual satu peti telur isi 15 kilogram habis 2 -3 hari, saat ini   Evi menjual satu setengah peti.

“Meski mahal  justru banyak yang beli, karena membutuhkan telur. Umumnya yang beli pemilik warung maupun penjual nasi goreng dan mie. Mereka mengaku kesulitan mendapat telur,” ungkap Evi.

Halaman:

Editor: Tita Salsabila


Tags

Artikel Pilihan

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

x