Gempa Cianjur dan Falsafah Sunda Singer-Saigel, Penggalangan Bantuan Janganlah Dipelintir

- 24 November 2022, 16:01 WIB
Kerabat dan keluarga menyalatkan jenazah korban gempa bumi saat akan dimakamkan di Desa Sukamulya, Cugenang, Cianjur, Jawa Barat, Rabu 23 November 2022.
Kerabat dan keluarga menyalatkan jenazah korban gempa bumi saat akan dimakamkan di Desa Sukamulya, Cugenang, Cianjur, Jawa Barat, Rabu 23 November 2022. /Antara/Yulius Satria Wijaya

PIKIRAN RAKYAT – Gempa bumi di Cianjur mengundang kepedihan mendalam. Tanpa diminta, penggalangan bantuan pun mengalir ke sejumlah posko.

Bukan saja dari politisi yang akan berebut takhta 2024, tetapi juga dari masyarakat, media, pebisnis, serta akademisi.

Boleh jadi, musibah telah melahirkan simpati dan empati antarsesama. Tidak hanya Cianjur, sejumlah tempat yang terkena longsong dan banjir pun mengundang penggalangan bantuan tanpa melihat ikatan agama atau entis.

Hal itu menunjukkan bahwa solidaritas antarsesama di Indonesia masih terbangun. Bukan untuk diarahkan pada kepentingan sesaat, tetapi digiring untuk menolong sesama yang sedang kesulitan atau tertimpa duka.

Singer

Bisa saja ikatan tersebut memudar akibat dorongan kepentingan yang membungkus kepedulian sesama. Mungkin juga ada sejumlah tayangan hoaks yang mendramatisasi kejadian.

Boleh jadi, ada perilaku segelintir figur publik yang memancing di air keruh demi tujuan yang dibutuhkannya. Bisa jadi, ada domba yang hatinya musang.

Dengan demikian, dalam sejumlah bencana, ada bantuan yang diingini untuk diserahkan langsung kepada korban atau mengundang sejumlah lembaga guna mengelola bantuan.

Agaknya, nurani sejumlah pihak perlu dikelola secara jernih dan amanah. Pemerintah pastilah sosok yang tepat untuk melakukannya. Sebagai pelayan publik, kelompok ini menjadi navigator sekaligus katalisator untuk mengembangkan dan mengkreasikan solidaritas agar tidak memudar.

Halaman:

Editor: Yusuf Wijanarko


Tags

Artikel Pilihan

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

x