Angka Stunting Diperkirakan Bertambah Setelah Pandemi Covid-19

- 30 Juni 2020, 19:41 WIB
ILUSTRASI Stunting. /DOK. PIKIRAN RAKYAT

PIKIRAN RAKYAT - SOSIALISASI pencegahan masalah gizi buruk (stunting) terganggu selama pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19). Hal itu dikhawatirkan ikut menambah jumlah penderita stunting di Jawa Barat meskipun tidak signifikan.

Sosialisasi tersebut biasanya dilakukan dalam kegiatan pos pelayanan terpadu (posyandu). "Karena Covid-19 ini kegiatan di posyandu ikut terganggu karena perlu menghindari kerumunan," kata Ketua Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) Jawa Barat, Suparman, Selasa 30 Juni 2020.

Persagi Jawa Barat belum bisa memastikan angka stunting saat ini meningkat atau justru turun. Mereka beralasan, pendataan tersebut dilakukan setiap enam bulan sekali yakni pada Februari-Agustus 2020. Namun, Suparman memperkirakan ada sedikit perubahan.

Baca Juga: PKB Tunjukkan Sinyal Buat Iwan-Iip Melaju di Pilkada Tasikmalaya 2020

Ia menilai, penyebaran virus Corona terhadap anak-anak, khususnya bayi di bawah lima tahun, tidak banyak berpengaruh terhadap angka stunting secara langsung. "Ini perkiraan saja, karena angka kejadian Covid-19 pada balita paling rendah dibandingkan dengan usia di atasnya, sehingga perubahannya juga sedikit," kata Suparman.

Angka stunting, menurutnya, lebih dipengaruhi oleh faktor lain sebagai dampak dari pandemi tersebut. Mulai dari kekurangan asupan makanan bergizi karena penurunan ekonomi hingga penutupan akses masyarakat ke fasilitas kesehatan.

Baca Juga: Marwan Hamami : Di Kabupaten Sukabumi Masih Tersisa 8 Desa Tertinggal

"Sepertinya aspek ketersediaan pangan dalam rumah tangga mungkin terganggu karena akses terhambat dan juga akses ke Faskes. Tapi belum tahu dampaknya terhadap status stunting," tutur Suparman. Sebelumnya, ia mengakui masih ada 14 daerah di Jawa Barat yang memiliki prevelensi di atas rata-rata.

loading...

Pada 2019 lalu, rata-rata di tingkat Provinsi Jawa Barat sebesar 29 persen sedangkan di tingkat nasional mencapai 30 persen. Daerah tersebut di antaranya Garut, Bogor, Sukabumi, Cianjur, Bandung Barat, Bandung, Sumedang, Tasikmalaya, Kuningan, Majalengka, Cirebon, Karawang, dan Subang.

Baca Juga: Terungkap Penjualan Daging Sapi Dioplos Celeng, Beredar Jadi Bahan Baku Bakso dan Rendang

Sementara itu, Bupati Purwakarta Anne Ratna Mustika menargetkan penurunan jumlah penderita masalah gizi kronis (stunting) hingga 20 persen pada 2023. "Jadi kita ada waktu tiga tahun bersama-sama untuk terus menurunkan angka stunting sampai di bawah 20 persen," katanya.

Upaya yang akan dilakukan jajarannya itu didiskusikan dalam Rembuk Stunting di Aula Janaka Sekretariat Daerah Purwakarta, Selasa 30 Juni 2020. Salah satunya dengan mengoptimalkan peran posyandu di setiap wilayah Purwakarta.

Baca Juga: Sepekan Tidak Ada Penambahan Kasus Covid-19, Gugus Tugas Temukan Klaster Buruh di Cikarang

"Kita sudah menginstruksikan kader (posyandu) di tiap desa untuk mensosialisasikan pola hidup sehat dan pemberian vitamin kepada ibu hamil," ujar Anne. Berdasarkan data 2017 yang telah diperbaharui oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Purwakarta, terdapat sekitar 8.000 anak yang mengalami stunting.

Halaman:

Editor: Syamsul Bachri


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X