Takut Tanaman Cabai Dicuri Orang Karena Sedang Mahal, Petani Rela Menginap di Kebun

- 4 Juli 2022, 21:05 WIB
Salah seorang petani di daerah Kampung Tegalega, Desa Langensari, Kecamatan Taroogng Kaler sedang merawat tanaman cabai yang ada di kebun miliknya agar tak sampai terserang hama. Ia juga kadang harus rela menginap di kebun dmi menjaga tanaman cabainya dari ancaman penjarahan atau pencurian.
Salah seorang petani di daerah Kampung Tegalega, Desa Langensari, Kecamatan Taroogng Kaler sedang merawat tanaman cabai yang ada di kebun miliknya agar tak sampai terserang hama. Ia juga kadang harus rela menginap di kebun dmi menjaga tanaman cabainya dari ancaman penjarahan atau pencurian. /Pikiran-Rakyat.com/Aep Hendy

PIKIRAN RAKYAT - Melambungnya harga cabai dalam beberapa waktu terakhir tentu saja menimbulkan kebahagian bagi para petani cabai.

Namun disisi lain, mereka juga selalu dihantui rasa khawatir, takut cabai yang ada di kebun miliknya malah dicuri atau dijarah orang.

Salah seorang petani cabai di Kampung Tegalega, Desa Langensari, Kecamatan Tarogong Kaler, Enjang (50), menyebutkan saat ini para petani cabai termasuk dirinya telah diberi anugerah dengan tingginya harga cabai.

Hal ini tentu merupakan sebuah keuntungan bagi mereka karena harga cabai mengalami kenaikan hingga beberapa kali lipat dalam beberapa pekan terakhir.

Baca Juga: Gerombolan Ayam 'Padati' Jalan Tol Cipali KM 93, Imbas Truk Pengangkut Diduga Oleng Hilang Kendali

"Alhamdulillah, kami sangat bersyukur karena harga cabai yang saat ini tengah bagus-bagusnya. Sejak beberapa pekan terakhir, harga cabai terus merangkak naik bahkan hingga beberapa kali lipat sehingga sangat menguntungkan bagi kami," ujar Enjang saat ditemui di kebun cabai miliknya di wilayah Desa Langensari, Kecamatan Tarogong Kaler, Senin 4 Juli 2022.

Dikatakannya, dalam kondisi normal, harga cabai inul dari petani paling dihargai antara Rp15 ribu sampai Rp20 ribu per kilogram.

Namun sejak hampir sebulan terakhir, harga cabai di Garut terus naik dan kini sudah mencapai Rp80 ribu per kilogram.

Menurutnya, hal ini tentu menjadi sebuah berkah yang sangat besar bagi para petani cabai seperti dirinya. Apalagi, kejadian seperti ini tidak begitu sering terjadi.

Namun diakuinya, di sisi lain mahalnya harga cabai juga menimbulkan kekhawatiran bagi dirinya.

Hal ini dikarenakan tingkat kerawanan penjarahan atau pencurian terhadap cabai yang sangat tinggi akibat harganya yang mahal.

Kebetulan, tutur Enjang, di kebunnya saat ini masih cukup banyak tanaman cabai yang berbuah dengan baik.

Sementara lokasi kebun berada cukup jauh dari rumahnya sehingga sangat rawan dicuri orang.

Baca Juga: 3 Pengedar Narkoba Ditangkap Polisi Kuningan, 2 di Antaranya Berasal dari Garut

"Selain senang, mahalnya harga cabai juga membuat saya khawatir, takut cabai yang belum dipanen malah dicuri orang. Makanya saat ini waktu saya lebih banyak dihabiskan di kebun ketimbang di rumah," katanya.

Ia mengungkapkan, biasanya ia berada di kebun hanya pada siang hari dan itu pun rata-rata hanya setengah hari.

Namun sejak harga cabai mahal, waktunya lebih banyak dihabiskan di berada di kebun, bahkan pada malam hari sekalipun.

Hal ini dikarenakan, selain harus merawat tanaman cabai dengan baik agar tak terserang hama, ia juga harus menjaganya dari aksi pencurian. Tak heran kalau selama ini dirinya pun kadang terpaksa harus rela menginap di kebun.

Menurut Enjang, kalaupun dirinya menginap di rumah, hatinya selalu was-was bahkan tak bisa tidur lelap akibat kekhawatiran yang dirasakannya kalau-kalau ada orang yang menjarah kebunnya dan mencuri cabai.

Halaman:

Editor: Tita Salsabila


Tags

Artikel Pilihan

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network