Derita Petani Majalengka, Gabah Tak Laku Harga Terus Merosot

- 28 April 2020, 15:15 WIB
PETANI di Desa Pagandon, Kecamatan Dawuan, Kabupaten Majalengka tengah menjemur padi di bantaran beberapa hari lalu. Para petani di desa kini kesulitan menjual gabah.* /Tati Purnawati/”KC”

PIKIRAN RAKYAT - Sejumlah petani mengeluhkan terus merosotnya harga gabah kering giling di tingkat petani, yang hampir terjadi setiap pekan bahkan dua hari sekali. Selain itu, petani juga sulit menjual gabah, sehingga gabah menumpuk gudang petani.

Saat ini, harga gabah hampir disemua wilayah di Kabupaten Majalengka hanya mencapai Rp 450.000 hingga Rp 460.000 per kuintal, sejak dua minggu terakhir. Sebelumnya harga gabah masih mencapai Rp 480.000 per kuintal.

Kurang lakunya gabah petani ini, akibat beberapa hal, diantaranya penjualan beras di pasar lesu dampak dari wabah corona. Selain itu juga, banyak bantuan beras yang diterima masyarakat, sehingga otomatis masyarakat memiliki cadangan pangan untuk beberapa hari ke depan.

Baca Juga: Dari Buah-buahan hingga Jaringan Internet, 26 dari 34 Tenaga Medis Sembuh dari Covid-19

“Harga terkadang hampir dua hari sekali turun, sementara pembeli tidak ada,” kata Didi warga Desa Pasindangan, Kecamatan Jatitujuh.

Menurutnya, banyak petani yang akan menjual gabah namun pembeli tidak ada. Saat ini semua cukong beralasan tengah tidak ada uang. Padahal para petani tengah butuh uang, sehingga berapapun harga gabah di jual.

“Kondisi sekarang semua orang butuh uang, “ ungkap Didi lagi.

Baca Juga: Dokter Persib Ingatkan Bahaya Cabin Fever Selama Karantina, Begini Cara Mengatasinya

Hal senada disampaikan Muamar, petani berharap Bulog segera melakukan penyerapan gabah di petani, agar petani bisa tertolong di saat bandar-bandar gabah tidak bersedia membeli dengan alasan tidak ada uang.

Menurut Muamar, bagi petani agar bisa memperoleh uang jalan satu-satunya adalah menjual gabah hasil panen. Jika gabah tidak ada yang membeli maka petani kesulitan memiliki uang, padahal saat ini musim tanam kedua sudah mulai dan sebentar lagi sudah harus di pupuk.

“Sudah hasil panen kurang baik hitam karena terendam banjir, menjual apalagi lebih sulit. Alasanya banyak, tidak ada uang dan gabah jelek. Di tengah kondisi demikian petani semakin terpuruk,” ungkap Muamar.

Baca Juga: Kemenkes: Tidak Ditutupi, Begini Alur Validasi dan Penyampaian Data Covid-19 di Indonesia

Kepala Desa Pasindangan, Kecamatan Jatitujuh H. Caryo membenarkan, sulitnya petani menjual gabah, karena hampir semua bandar gabah menolak membeli gabah petani alasan tidak ada uang. Jadi menurut Caryo, saatnya pemerintah dan pemodal besar membeli gabah milik petani agar petani bisa tertolong untuk modal mereka tanam kedua.

Halaman:

Editor: Syamsul Bachri


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X