Keramahan Oding Sang Penjaga Hutan Gunung Burangrang

- 22 April 2020, 08:38 WIB
ABAH Oding bersama istri dan anaknya berdiri di dekat pondok kerja penjaga hutan Kaki Gunung Burangrang Kabupaten Purwakarta beberapa waktu lalu. * /Hilmi Abdul Halim/"PR"

PIKIRAN RAKYAT - Nasi liwet dadakan dengan lauk dari berbagai jenis ikan, lalapan dan sambal goang menyambut kami di gubuk kawasan kaki Gunung Burangrang Kabupaten Purwakarta. Tempat itu menjadi pondok kerja bagi petugas penjaga hutan.

Salah seorang penjaga hutan di wilayah XIV Cagar Alam Burangrang, Umuludin (61) tersenyum ramah di pinggir kolam ikan depan gubuk. Keramahannya itu sehangat masakan buatan istrinya yang lezat.

Umuludin atau yang akrab disapa Abah Oding tidak lepas dari senyuman kala berbincang menceritakan kesederhanaan hidupnya. Namun, di balik tubuhnya yang relatif pendek dan kurus ternyata ia memiliki keberanian yang besar.

Baca Juga: Ruang Isolasi Sempat Kosong, RSUD Ciamis Kini Tangani Kembali PDP Covid-19

Ia mengaku mulai memasuki pedalaman hutan di Gunung Burangrang sejak lebih dari 30 tahun lalu. "Waktu masih muda dulu kebetulan suka ikut menemani petugas yang berpatroli di dalam hutan," katanya beberapa waktu lalu.

Sebagian besar waktu dan tenaganya membantu pelestarian hutan dilakukan secara sukarela. Abah Oding resmi menjadi petugas penjaga hutan sejak 2006 setelah didaftarkan di Balai Besar Konservasi Sumberdaya Alam Jawa Barat.

Salah satu jasanya, sebelum diangkat menjadi penjaga hutan, ialah ikut memadamkan kebakaran hutan. Meskipun tanpa alat bantu penunjuk jalan, Abah Oding bisa mengarahkan petugas untuk memadamkan titik api di dalam belantara hutan.

Baca Juga: Merasa Tak Berhak, Yeni Warga Cimahi Kembalikan Bansos Gubernur

Pengalamannya berpatroli juga mengenalkannya pada sosok binatang misterius yang biasa disebut Si Rona oleh masyarakat setempat. "Dia itu sejenis maung (macan) bertubuh besar yang suka membantu menunjukkan jalan kepada warga yang tersesat di hutan," ujarnya.

Menurut Abang Oding, pedalaman hutan di Gunung Burangrang memang masih menyimpan satwa eksotis seperti macan kumbang dan sejenisnya. Namun, ia bersyukur selama ini belum pernah ada gesekan antara manusia dan hewan-hewan buas tersebut.

Hal itu menjadi salah satu tugasnya bersama empat penjaga hutan lain. Menurutnya, banyak orang yang datang ke hutan untuk memburu hewan-hewan yang dilindungi maupun untuk menebang pohon secara ilegal pada kisaran tahun 2000-2010.

Baca Juga: Jawab Hoaks, Ridwan Kamil Tunjukkan Isi Bantuan Pemprov Jabar dari Uang Tunai hingga Beras

Jumlah terus berkurang sejak 2013 hingga sekarang berkat pendekatan yang dilakukan para penjaga hutan. "Kalau bertemu (dengan pemburu liar) saya dan teman-teman hanya memberikan pengarahan supaya mereka sadar," kata Abah Oding.

Halaman:

Editor: Syamsul Bachri


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X