Kamis, 28 Mei 2020

Kota Bogor Terapkan Pembatasan Sosial Skala Besar, untuk Memutus Penyebaran Wabah Covid-19

- 31 Maret 2020, 16:18 WIB
ILUSTRASI pandemi COVID-19.* //pexels

PIKIRAN RAKYAT - Pembatasan sosial skala besar segera diterapkan di Kota Bogor.   Pembatasan  sosial skala besar lebih berbasis pada masing-masing wilayah di Kota Bogor, salah satunya dengan membentuk Rukun Warga (RW) Siaga Corona.

Wakil  Wali Kota Bogor Dedie A Rachim dalam konferensi pers, Selasa 31 Maret 2020 menuturkan, pembatasan sosial skala besar harus segera dilakukan untuk memutus mata rantai penyebaran wabah Covid-19.   Hingga Selasa 31 Maret 2020, penyebaran Covid di Kota Bogor semakin masif.

Dinas Kesehatan Kota Bogor  mencatat, saat ini sudah ada 21 warga Kota Bogor yang terkonfirmasi positif  Covid-19,  empat di antaranya meninggal dunia. Sementara warga dengan status Pasien Dalam Pengawasan (ODP) mencapai 54, dengan perincian 35 dalam pengawasan rumah sakit, 13 orang meninggal dunia, dan 6 warga selesai dirawat.   Pemkot Bogor masih menunggu hasil lab swab 13 orang  PDP yang dinyatakan meninggal dunia dari Kementerian Kesehatan RI.

Baca Juga: PBB Majalengka Turun 60 Persen, PT BIJB Menunggak Rp 6,4 Miliar

Sementara Orang Dalam Pemantauan (ODP) mencapai 672 orang, dengan perincian 421 dalam pemantauan, dan 251 orang selesai dipantau.

“Sesuai arahan Gubernur Jabar, kita akan lakukan Pembatasan Sosial Skala Besar. Implementasinya berupa pengelolaan area pencegahan penyebaran Covid-19 dan memberdayakan potensi masyarakat dengan membentuk RW Siaga Corona,” ujar Dedie.

Menurut Dedie, pembentukan RW Siaga Corona akan dimonitor langsung oleh lurah dan camat.   Dedie juga menginstruksikan kepada lurah dan camat untuk menyiapkan sejumlah langkah teknis,  antara lain melaksanakan sosialisasi pencegahan penyebaran Covid-19 bersama pengurus RW, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, kader PKK, dan seluruh potensi masyarakat lainnya.

Baca Juga: Pekerja Berhamburan Tonton Penyemprotan Disinfektan di Jalanan Kota Bandung

Camat dan lurah juga diharapkan dapat  membatasi pergerakan keluar masuk warga, termasuk memonitor tamu dan orang-orang yang tidak berkepentingan di wilayah masing-masing.

“Tolong juga petakan dan data masyarakat terdampak, dengan membuat daftar di luar database kemiskinan Kota Bogor, atau di luar Program Keluarga Harapan.  Unsur pimpinan di wilayah juga perlu menyiapkan ketersediaan bahan pokok, bahan bakar dan air minum dengan mengkalkulasi seluruh risiko dan solusi jika ditetapkan pembatasan dalam jangka waktu tertentu,” kata Dedie.

Lebih lanjut, Dedie menyebut, pembatasan sosial skala besar tersebut diprediksi akan berlangsung hingga 23 Mei 2020 mendatang.  Dedie meminta seluruh unsur pimpinan di wilayah bisa memberikan informasi secara utuh terkait instruksi presiden agar bisa melakukan aktivitas belajar, bekerja, dan beribadah dari rumah masing-masing.

Baca Juga: Polres Cianjur Kembali Semprot Disinfektan Sejumlah Ruas Jalan

“Kita semua harus kompak, jika ingin sama-sama merayakan Lebaran. Hari ini sampai menjelang puasa, kita berjuang dari rumah masing-masing, menahan diri, ikhlas, sabar, dan tawakal berjamaah. Insya Allah puasa dan lebaran bisa kita laksanakan seperti tahun sebelumnya,” kata Dedie.

Halaman:

Editor: Syamsul Bachri


Tags

Komentar

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X