Senin, 1 Juni 2020

Dedi Mulyadi : Budaya Sunda Tawarkan Solusi Pencegahan Virus Corona

- 29 Maret 2020, 16:21 WIB
DEDI Mulyadi sidak Dinkes Purwakarta beberapa waktu lalu.* /Hilmi Abdul Halim/"PR"

PIKIRAN RAKYAT - Kebudayaan Sunda memiliki konsep tata kelola kehidupan yang sehat dan selaras dengan alam semesta. Tradisi nenek moyang di Jawa Barat itu bisa menjadi masukan bagi masyarakat saat ini, untuk menghindari bencana alam dan wabah seperti virus corona.

Budayawan Jawa Barat Dedi Mulyadi meyakinkannya. Ia menjelaskan, salah satu aspek dalam kebudayaan Sunda yang disebut dengan istilah tri tangtu di buana, yakni pembagian tata ruang menjadi tiga wilayah.

Dedi menyebutkan, ketiganya ialah dunia atas yang terdiri dari pegunungan, dunia pertengahan untuk perkampungan, dan dunia bawah yakni pantai. Di antara ketiganya memiliki jarak yang cukup jauh satu sama lain.

Baca Juga: Usai Ijab Kabul, Dua Resepsi Pernikahan di Majalengka Terpaksa Dibubarkan

"Perkampungan penduduk ada di tengah itu untuk menghindari bencana, makanya tidak boleh ada perkampungan di lepas pantai dan gunung," kata Dedi, Minggu 29 Maret 2020. Wilayah selain pemukiman itu dijadikan hutan untuk menjaga kelestarian alam semesta.

Konsep perkampungan penduduk dalam kebudayaan Sunda juga memiliki aturan tertentu. Salah satunya, setiap perkampungan tidak diperbolehkan berisi lebih dari 40 unit rumah untuk menjaga ekosistem dan ketersediaan pangan bagi para penduduknya.

"Kemudian, antara satu rumah dengan rumah lainnya harus berjarak mungkin bisa 40 meter jaraknya itu," ujar Dedi. Saat ini, aturan tersebut sejalan dengan konsep jarak sosial (social distancing) untuk mencegah penularan virus corona.

Baca Juga: Instrumen Penting dalam Pelumasan kendaraan, Simak Tips Merawat Filter Oli

Di setiap rumah juga berlaku larangan bagi orang luar untuk memasuki ruang tengah. Bahkan, Dedi mengatakan, masyarakat zaman dahulu kerap menyimpan bawang putih di pintu untuk mencegah masuknya virus.

Dedi menegaskan, hal itu sebagai pantangan, selain melanggar privasi juga dikhawatirkan dapat menularkan penyakit. "Bayangkan kalau tamu berpenyakit masuk ke ruang tengah. Makanya dia hanya boleh sampai di depan (ruang tamu)," katanya.

Sementara itu, dalam hal yang lebih personal seperti aktivitas makan dan minum nenek moyang di Jawa Barat zaman dahulu juga dinilai apik. Dedi menceritakan kebiasaan mereka sebelum makan, ialah membersihkan tangan terlebih dahulu menggunakan garam.

Baca Juga: Kabupaten Ciamis Lockdown Satu Bulan Dimulai Selasa 31 Maret 2020, Jumlah ODP Corona Capai 4.200

Dedi mengatakan, khasiat garam ialah antiseptik untuk membunuh bakteri dan virus. Sama halnya dengan daun sirih yang dijadikan makanan "pencuci mulut" setelah menyantap makanan utamanya.

Halaman:

Editor: Syamsul Bachri


Tags

Komentar

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X