Pemerintah Dinilai Belum Optimal dalam Sosialisasi Pencegahan Virus Corona

- 23 Maret 2020, 09:26 WIB
WARGA melintas di depan videotron sosialisasi pencegahan virus corona di Rumah Sakit Eka Hospital, Cibubur, Bogor, Jawa Barat, Senin, 3 Februari 2020.*
WARGA melintas di depan videotron sosialisasi pencegahan virus corona di Rumah Sakit Eka Hospital, Cibubur, Bogor, Jawa Barat, Senin, 3 Februari 2020.* /YULIUS SATRIA WIJAYA/ANTARA

PIKIRAN RAKYAT - Penyebaran virus corona saat ini sudah begitu marak dan membahayakan. Di sisi lain, pemerintah dinilai belum benar-benar optimal dalam melakukan sosialisasi maupun upaya pencegahan.

Ketua RW 19, Desa Godog, Kecamatan Karangpawitan, Kabupaten Garut, Ridwan Mustofa, menilai untuk di tingkat kabupaten, upaya sosialisasi maupun pencegahan Covid-19 memang sudah cukup gencar. Namun sayangnya hal itu tak menyentuh hingga ke tingkat bawah, termasuk tingkat desa.

Ia mencontohkan, di Desa Godog, hingga saat ini belum ada sosialisasi terkait virus corona baik cara penularan maupun cara pencegahannya. Apalagi sosialisasi di tingkatan pemerintahan lebih bawah yakni RW dan RT.

Baca Juga: Pemkab Bekasi Siapkan Rp 198 Miliar untuk Bangun 368 Ruang Kelas

"Padahal menurut saya, sosialisasi sangat penting dilakukan hingga tingkat paling bawah mengingat sangat rentannya penyebaran virus corona ini. Selain itu, tingkat bahayanya juga kan sangat tinggi karena virus ini terbilang ganas hingga telah cukup banyak merenggut korban jiwa," komentar Ridwan.

Selama ini tutur Ridwan, masyarakat yang ada di daerah hanya tahu masalah corona dari informasi melalui sosial media. Masih mending jika informasi yang diterima atau dibacanya itu benar, tapi kalau sudah informasi hoaks, ini malah membuat semakin repot.

Menurut Ridwan, akibat sangat minimnya sosialisasi corona di tingkat bawah, pada akhirnya muncul pemahaman yang berbeda. Hal ini juga terjadi pada pelaksanaan ibadah terutama salat jumat di masjid-masjid yang ada di daerah.

Baca Juga: Krisis Akibat Virus Corona, Para Pemain Barcelona Rela Dipotong Gaji

"Contoh nyata dalam pelaksanaan ibadah di masjid seperti salat jumat. Baik pemerintah maupun MUI kan sudah mengeluarkan himbauan dan fatwa akan tetapi hal itu sama sekali tak berpengaruh di daerah," katanya.

Jalannya khutbah sebelum salat jumat menurut Ridwan tetap berlangsung lama, bahkan lebih lama dari biasanya karena ada tambahan salat ghaib dulu. Selain itu, warga juga tak mau membawa sajadah dari rumah tapi cukup dengan menggunakan karpet yang sudah ada di masjid sehingga menimbulkan kerawanan.

Ridwan mengatakan, selama ini pola hidup masyarakat di daerah juga tak banyak mengalami perubahan. Ini dampak lain akibat minimnya sosialisasi dari pemerintah.

Baca Juga: Tips Perawatan Diri yang Mudah Selama Masa Karantina akibat Virus Corona

Tak hanya di bidang sosialisasi, menurut Ridwan, upaya pencegahan yang dilakukan di daerah selama ini juga dinilainya sangat kurang. Gencarnya upaya pencegahan hanya terfokus di tingkat kabupaten atau di wilayah perkotaan saja.

Seperti kegiatan penyemprotan disinfektan yang menurutnya belum sampai di daerah. Begitu juga penyediaan hand sanitizer dan masker yang hanya difokuskan di wilayah perkotaan.

"Harusnya upaya pencegahan dilakukan pula di daerah, tidak hanya di wilayah perkotaan. Apalagi kan selama ini yang menjadi PDP (pasien dalam pengawasan) justru berasal dari daerah," ucap dosen di salah satu universitas swasta di Garut ini.

Ridwan meminta, Pemkab Garut lebih optimal dalam melakukan sosialisasi maupun upaya pencegahan penyebaran Covid-19 dengan melakukannya sampai tingkat bawah. Kesadaran masyarakat serta keterjagaan lingkungan yang aman dari ancaman virus di daerah juga sangat penting guna mencegah penyebaran yang lebih luas.***

Editor: Abdul Muhaemin


Tags

Artikel Pilihan


Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

x