Masih Tinggi Kekerasan terhadap Perempuan di Sukabumi, Selama Tahun 2019 Tercatat Sebanyak 117 Kasus

- 17 Maret 2020, 11:04 WIB
BUPATI Sukabumi, Marwan Hamami, tengah menandatangani fakta integritas komitmen bersama mendukung penghapusan kekerasan dan pelecehan di tempat kerja. *
BUPATI Sukabumi, Marwan Hamami, tengah menandatangani fakta integritas komitmen bersama mendukung penghapusan kekerasan dan pelecehan di tempat kerja. * /Ahmad Rayadie/”PR”

PIKIRAN RAKYAT - Bupati Sukabumi, Marwan Hamami, mengingatkan agar tindakan kekerasan terhadap perempuan, baik di tempat kerja maupun  di rumah untuk segera dihentikan. Apalagi tindakan tersebut tidak hanya melanggar tapi dapat dijerat hukum secara pidana. 

Hal tersebut diungkapkan Marwan Hamami, di sela-sela kegiatan Empowerment, Knowledge And Transformative Action (EKATA) Kelompok Pekerja Perempuan, yang berlangsung  di Lapangan, Desa Bojonglongok, Kecamatan Parakansalak, Kabupaten Sukabumi

Baca Juga: Isu Lockdown di Wilayah Indonesia Masih Bergulir akibat Virus Corona, DPR RI: Jangan ASN Saja, Pikirkan Pekerja Harian juga

"Makanya stop kekerasan terhadap perempuan. Baik di tempat kerja ataupun di rumah," katanya, Selasa, 17 Maret 2020.

Data Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan anak (DP3A) Kabupaten Sukabumi 2019, kekerasan terhadap perempuan mencapai 117 kasus, sedangkan tahun sebelumnya hanya sekitar 96 kasus. “Tren peningkatan tindakan kekerasan hingga mencapai 20 persen, Kondisi ini cukup memprihatinkan," katanya. 

Baca Juga: Secercah Harapan di Tengah Wabah Virus Corona, Peneliti Tiongkok Klaim Primata Terinfeksi COVID-19 Mampu Bangun Imunitas

Menindaklanjuti keprihatinan itulah, kata Marwan Hamami, terdorong untuk menjaga komitmen melalui pemberdayaan perempuan, terutama dalam kesetaraan gender. "Sejauh ini sudah tidak ada lagi persoalan terkait kesetaraan gender. Hampir semua sektor ada keterwakilan perempuan," katanya.

Bahkan di Kabupaten Sukabumi, kata Marwan Hamami, sudah ada Perda tentang kesetaraan gender.  Perda nomor 7 tahun 2019, tentang  kesetaraan gender sudah ada dan telah direalisasjkan. "Hanya saja tinggal peranan Care Peduli untuk menyupport semua itu," katanya.

Baca Juga: Corona Dongkrak Layanan Data hingga 15%, Kebijakan Bekerja dan Belajar dari Rumah Beri Pengaruh

Ketua  Yayasan Care Peduli Bonaria Siahaan mengatakan, kegiatan ini untuk mengingatkan tentang kesetaraan gender. Sehingga, kesetaraan gender perempuan dapat diwujudkan secara utuh. "Bila tidak ada keadilan, kesetaraan tidak mungkin tercapai," katanya.

Halaman:

Editor: Syamsul Bachri


Tags

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X