Atasi Banjir Luapan Citanduy Tasikmalaya, Pemerintah Harus Membuat Kawasan Resapan

- 24 Februari 2020, 17:32 WIB
Pengendara melintasi area genangan banjir di Kampung Hegarsari, Desa Tanjungsari, Kecamatan Sukaresik, Kabupaten Tasikmalaya, Minggu (23/2/2020). Banjir menggenangi kawasan permukiman warga dan jalan di lokasi tersebut setelah Sungai Citanduy meluap.* /BAMBANG ARIFIANTO/PR

PIKIRAN RAKYAT - Keberadaan tanggul di tepi Sungai Citanduy tak sepenuhnya bisa menjadi solusi mengatasi banjir. Alih-alih mengatasi persoalan, proyek pemerintah tersebut justru memperparah banjir. Semestinya, wilayah tepian Citanduy menjadi area resapan dengan tanggul alami berupa pepohonan.

Sorotan terhadap getolnya pemerintah membangun tanggul guna menahan luapan sungai dilontarkan Ketua Badan Pengurus Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia (FK3I) Jabar Dedi Kurniawan. Dedi menilai, tanggul bukanlah konsep bagus dalam mengatasi banjir akibat aliran sungai yang meluber.

Apalagi di tepian Citanduy yang masuk wilayah Kabupaten Tasikmalaya. Di sana, kawasan sempadan sungai atau bantaran sungai masih memiliki banyak pepohonan. Ketimbang membangun tanggul, keberadaan pohon justru bisa menjadi penahan luapan air alami. Air yang masuk bantaran bakal meresap di area itu.

Baca Juga: Longsor Timbun Jalan Cikatomas Kabupaten Tasikmalaya, Kendaraan Tak Bisa Lewat 

Setelah itu, upaya lain dilakukan agar masyarakat yang bermukim di tepi sungai bisa adaptif saat sungai meluber ke bantaran. Konstruksi rumah pun mesti menyesuaikan kondisi itu. Dedi mencontohkan, rumah-rumah warga bisa menghadap ke sungai bukan membelakanginya.

loading...

Dengan begitu, bantaran sungai pun bakal menjadi halaman warga yang ditanami pepohonan. Proyek pembangun tanggul Citanduy yang tak jelas-jelas tak mengatasi banjir pun jadi sorotan dan harus diperiksa.

"Bisa jadi asal-asalan," kata Dedi dalam sambungan telefon, Senin 24 Februari 2020.

Baca Juga: Indonesia Gugat Uni Eropa di WTO karena Boikot Kelapa Sawit, Komisi IV DPR RI Heran atas Tuduhan Dunia

Pembuatan tanggul konvensional juga membuat arus dan volume air dari hulu hingga hilir sungai bertambah kencang dan penuh. Air pun seperti digelontorkan langsung tanpa mampir dan meresap dulu di tepian lantaran yang terhalang tanggul. Dampaknya, tanggul pun berpotensi jebol.

Halaman:

Editor: Abdul Muhaemin


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X