Senin, 30 Maret 2020

Sungai Ciliwung Belum Merdeka dari Sampah, Bisa Mencapai 30 Ton per Hari

- 21 Februari 2020, 16:52 WIB
AKTIVIS lingkungan Suparno Jumar memantau sampah di sekitar bantaran Sungai Ciliwung.* /WINDIYATI RETNO SUMARDIYANI/"PR"

PIKIRAN RAKYAT - Sungai Ciliwung masih belum merdeka dari sampah.  Sejumlah sampah plastik masih terpantau berserakan di bantaran sungai.

Jenis sampahnya bervariasi, mulai dari plastik sekali pakai,  plastik bungkus makanan,  Styrofoam, limbah tekstil, hingga ban bekas.

Kondisi tersebut masih ditemui aktivis lingkungan di Komunitas Peduli Ciliwung, Suparno Jumar. 

Baca Juga: Warga Ketakutan, 7 Ekor Buaya Muara Muncul di Sungai Karangtirta Pangandaran

Parno menyebut, permasalahan  sampah di sekitar bantaran belum mendapatkan solusi yang tepat. Imbasnya, sungai  menjadi pelampiasan bagi mereka untuk membuang sampah secara praktis.

Dalam perhitungan  Dinas Lingkungan Hidup Kota Bogor 2018,  sampah di Ciliwung mencapai 30 ton perhari.  Perhitungan itu dilihat dari jumlah timbulan sampah yang ada.

Namun demikian,  sampah itu sebenarnya sudah berkurang, karena edukasi dari Tim Satgas Naturalisasi Ciliwung kepada masyarakat bantaran sungai

Baca Juga: Di Tengah Prosesi Tabur Bunga Peringati Korban Longsor Sampah TPA Leuwigajah, Warga Saksikan Truk Bongkar Muatan Sampah

loading...

Hal tersebut bukan berarti Ciliwung bebas dari sampah.  Aliran air yang tinggi saat hujan deras terbukti masih membawa sampah plastik dari hulu ke hilir.

 “Sampai saat ini masih jauh dari merdeka. Ini harus jadi perhatian. Walaupun harus diakui  timbulan sampah sudah berkurang, tetapi kita tidak boleh lantas jumawa, karena sampah di sungai masih ada,” kata Parno Suparno dalam perbincangan bersama Pikiran-Rakyat.com di bantaran Sungai Ciliwung, Kelurahan Sukaresmi, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor, Jumat, 21 Februari 2020.

Manajemen sampah di tingkat RT dan RW, menurut Parno, adalah  salah satu solusi untuk memerdekan sungai dari sampah.  Bagaimana alatnya, sistemnya seperti apa,  ini yang perlu dipikirkan bersama.  

Baca Juga: Polri Raih Opini WTP 6 Kali Berturut-turut, Sri Mulyani Beri Apresiasi

Parno pun menilai, manajemen pengelolaan sampah dengan sistem kumpul, angkut, buang  sudah tidak cocok dengan kondisi saat ini.  Terlebih lahan semakin berkurang, sementara produksi sampah belum berkurang secara signifikan.

Halaman:

Editor: Syamsul Bachri

Artikel Terkait

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X