Rabu, 8 April 2020

Sejarawan Tepis Pernyataan Budayawan Betawi Ridwan Saidi, Buktikan Kerajaan Galuh Memang Ada

- 20 Februari 2020, 21:14 WIB
Adiwidjaja atau dikenal Abah Latif juru kunci cagar Budaya Salawe, Desa/Kecamatan Cimaragas, Kabupaten Ciamis menyampaikan pandangannya soal pernyataan budayawan betawi Ridwan Saidi yang dinilai menyakiti hati warga galuh, Kamis (20/2/2020) . Hal itu disampaikan saat Gelar Usik Galuh yang berlangsung di Aula Setda Kabupaten Ciamis. * /NURHANDOKO WIYOSO/PR

PIKIRAN RAKYAT - Sejarawan dan budayawan serta anak keturunan Kerajaan Galuh menepis pernyataan kontroversi budayawan Betawi Ridwan Saidi yang mengatakan tidak ada Kerajaan Galuh. Bukti sejarah berupa  prasasti yang ditemukan secara tegas mematahkan argumen yang disampaikan oleh budayawan yang disapa Babe.

Hal tersebut merupakan salah satu kesimpulan yang dapat ditarik saat Gelar Usik Galuh, yang berlangsung di Aula Setda Kabupaten Ciamis, Kamis (20/2/2020). Kegiatan diikuti ratusan peserta dari berbagai elemen masyarkat termasuk dari kabuyutan yang tersebar di wilayah tatar galuh Ciamis. Tampak hadir Bupati Ciamis Herdiat Sunarya, beserta wakil Yana D Putra, Ketua DPRD Ciamis Nanang Permana.  

Empat sejarawan dan budayawan tampil sebagai pembicara,  yakni Nina Herlina, Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran, Prof Subarna, Yat Rospia Brata, Rektor Universitas Galuh yang juga Ketua Dewan Kebudayaan Galuh serta Budi Dalton.

Seluruh nara sumber dengan tegas meyakini keberadaan Kerajaan Galuh. Reaksi keras warga galuh muncul setelah budayawan Ridwan Saidi, meberikan pernyataan yang diunggah di kanal Youtube Macan Idealis, pada hari Rabu 12 Februari 2020.  Disebutkan, bahwa tidak ada kerajaan di Ciamis. Mengartikan istilah galuh adalah burtal.   

Keempat narasumber menyampaikan bukti konkret yang memerkuat argumen tentang keberadaan Kerajaan Galuh. Bukti tersebut ditemukan setelah dilakukan penelitian selama puluhan tahun.

PIKIRAN RAKYAT - Nina Herlina yang sudah beberapa kali melakukan penelitian tentang sejarah Galuh, mengemukakan salah satu buktinya adalah prasasti yang terdapat di Astana Gede Kawali. Penelitian yang dilakukannya melibatkan berbagai disiplin ilmu, ahli arkeologi, ahli geologi, ahli sejarah dan lainnya.

“Prasasti yang ditemukan di Astana Gede Kawali asli.  Untuk membaca tulisan melibatkan pakar filologi, termasuk menentukan prasasti oleh arkeolog, dan umur kawasan astana melibatkan ahli geologi, pakar tata ruang,” jelasnya.

Keberadaan Kerajaan Galuh, lanjutnya juga berdasar pada Prasasti Canggal, tahun 732 masehi yang ditemukan di Gunung Wukir, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Prasasti tersebut menyebut Sandjaya anak Sanna, menjadi penguasa.

Baca Juga: Rano Karno Dipanggil KPK Terkait Kasus Suap Sebesar Rp 1,5 Miliar yang Menyeret Namanya

Halaman:

Editor: Abdul Muhaemin

Artikel Terkait

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X