Kopi Purwakarta Rasa Cengkihnya Sangat Kuat, Harga Usai Digiling Mencapai Rp 60.000 per Kilogram

- 7 Februari 2020, 18:47 WIB
SEORANG pembeli mengamati biji kopi yang sedang dijemur oleh petani di Desa Pusakamulya, Kecamatan Kiarapedes, Kabupaten Purwakarta beberapa waktu lalu.* /Hilmi Abdul Halim/

PIKIRAN RAKYAT - Penanaman kopi di kaki Gunung Burangrang sempat mendapatkan penolakan dari warga Kampung Parakanceuri, Desa Pusakamulya, Kecamatan Kiarapedes, Kabupaten Purwakarta.

Mereka menuding penggarapan lahan tersebut menyebabkan longsor dahsyat pada 2010 silam.

Setahun sebelumnya, warga memang menanam kopi di lahan seluas 16 hektare milik Perhutani.

Baca Juga: Film Dokumenter Murder in The Front Row Fokus pada Kebangkitan Trash Metal

"Longsornya kebetulan di dekat lahan yang ditanami kopi. Dari sana warga jadi takut menanam kopi,” kata salah seorang warga, Romli, saat ditemui beberapa waktu lalu.

Belasan hektare sawah, perkebunan, dan kolam ikan terdampak longsor tersebut. Material tanah meruntuhkan bangunan rumah milik sejumlah warga. Sehingga, perekonomian masyarakat ikut menurun.

loading...

Padahal, penanaman kopi di lokasi tersebut justru bisa menambah jumlah tanaman yang ada, sehingga mengurangi potensi longsor.

Baca Juga: Harga Bawang Putih di Kota Bandung Naik Dua Kali Lipat, Ulah Spekulan Dituding Jadi Penyebab

Itu karena sifat tanaman kopi yang tumbuh lebih bagus di bawah rimbunan pepohonan lainnya.

Seperti halnya di Kampung Cibulao, Desa Tugu Utara, Kecamatan Cisarua Kabupaten Bogor. Warga menanam kopi di kawasan hutan dengan tujuan awal untuk mencegah longsor.

Tetapi kini, mereka justru mendapatkan keuntungan ekonomis yang cukup besar.

Baca Juga: Punya Followers Instagram Terbanyak Setelah Jokowi, Ridwan Kamil: Modal Pensiun, Lumayan Endorse-endorse

Halaman:

Editor: Syamsul Bachri


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X