Minggu, 23 Februari 2020

Karena Antraks, Hampir 3.000 Burung Unta Pernah Dimusnahkan di Purwakarta

- 24 Januari 2020, 16:22 WIB
Salah satu lokasi yang diduga bekas peternakan burung unta di Desa Ciparungsari Kecamatan Cibatu Kabupaten Purwakarta, Kamis (23/1/2020). Lokasi tersebut menjadi penyebaran antraks pada akhir 1999.* /HILMI ABDUL HALIM/PR

PIKIRAN RAKYAT - Penyebaran penyakit antraks pernah terjadi di Kabupaten Purwakarta pada akhir 1999 hingga awal 2000. Kasus tersebut dinyatakan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) karena disebut-sebut menjadi yang pertama kali dialami unggas di Indonesia.

Saat itu, Antraks dilaporkan menyerang burung unta di peternakan yang dikelola oleh PT Cisada Kemasuri di Desa Ciparungsari Kecamatan Cibatu. Hal itu diakui mantan Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Purwakarta Ita Sriwuryasturati yang saat itu menjabat Kepala Seksi Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Hewan.

"Ada sekitar 3000 ekor burung unta yang dimusnahkan dengan cara di-euthanasia (suntik mati) lalu dibakar, disiapkan kuburan, ditabur kapur baru dikubur," kata Ita saat dihubungi beberapa waktu lalu. Penyebaran antraks bahkan sampai ke manusia meskipun dinyatakan teratasi.

Baca Juga: Banjir Kembali Terjang Beberapa Wilayah Kabupaten Bandung, Warga Mulai Mengungsi

Menurut informasi yang dihimpun "PR" dari berbagai sumber tepercaya, kematian burung unta di peternakan itu terjadi sejak Agustus 1999. Dari awalnya 18 ekor, meningkat setiap bulan berikutnya menjadi 19 (September) dan 49 (Oktober) hingga puncaknya 110 (November).

Penyebabnya baru diketahui dari hasil penelitian Institut Pertanian Bogor pada Desember 1999 yang akhirnya ditetapkan oleh Balai Penelitian Veteriner Bogor. Setelah dilakukan pemusnahan burung unta pada 1-5 Januari 2000, pemerintah menutup peternakan tersebut.

Pemerintah juga melakukan vaksinasi terhadap lebih dari 26.500 ekor hewan ternak di seluruh wilayah Purwakarta.

Baca Juga: Seorang Pria di Bekasi Ditemukan Tewas Gantung Diri di Kandang Kambing

"Vaksinasi masih dilakukan sampai sekarang secara rutin. Pemerintah juga memeriksa sampel tanah di lokasi secara rutin untuk mengetahui masih ada tidaknya antraks di sana," kata Ita.

Halaman:

Editor: Abdul Muhaemin

Artikel Terkait

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X