Senin, 9 Desember 2019

Hutan Sekunder Desa Cageur yang Istimewa

- 17 November 2019, 18:43 WIB
MAHASISWA Institut Teknologi Bandung saat melakukan praktikum kuliah lapangan di hutan sekunder milik Perum Perutani Kesatuan Pemangkuan Hutan Kuningan di Desa Cageur, Kecamatan Darma, Kabupaten Kuningan, Sabtu, 16 November 2019.*/NURYAMAN/PR

KUNINGAN, (PR)- Kondisi hutan sekunder milik Perum Perutani Kesatuan Pemangkuan Hutan Kuningan di Desa Cageur, Kecamatan Darma, Kabupaten Kuningan dinilai istimewa. Hutan tersebut masih sangat terjaga dan perlu terus dipertahankan kelestariannya.

Hal itu diungkapkan dosen mata kuliah Aplikasi Taksonomi Tumbuhan Program Studi Rekayasa Kehutanan, Institut Teknologi Bandung Ichsan Suwandhi saat mendampingi praktikum kuliah lapangan puluhan mahasiswanya di hutan tersebut, Sabtu, 16 November 2019.

“Hutan ini istimewa karena hutan ini sudah tertinggal sedikit, jadi istilahnya ekosistem alaminya sudah terfragmen. Jadi hutan ini harus dilestarikan karena di dalamnya gudang biodiversity (satu kesatuan kehidupan yang kompleks di suatu kawasan tertentu), jenis-jenis (tumbuhan) asli zaman dulu masih ada. Jenis-jenis pohon di sini rata-rata sudah langka semua. Di antaranya di sini masih ada pohon saninten, pasang, kileho. Itu pohon-pohon langka di Jawa Barat, khususnya di hutan-hutan
pegunungan,” ujar Ichsan.

Dia menjelaskan, kegiatan mahasiswanya di hutan tersebut merupakan kuliah lapangan mata kuliah aplikasi taksonomi tumbuhan. Pesertanya mahasiswa program studi rekayasa kehutanan Sekolah Ilmu danTeknologi Hayati ITB.

Terpantau “PR”, kegiatan puluhan mahasiswa tersebut di hutan itu berlangsung selama satu hari. Mereka menyelusuri beberapa bagian dalam kawasan hutan tersebut mengidentifikasi, mencatat, dan sekaligus memasang label nama pohon pada sejumlah pohon yang mereka identifikasi.

Kegiatan kelompok mahasiswa tersebut didampingi langsung Ichsan Suwandhi disertai Unus Yunus, Asisten Perhutani Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan Garawangi, Asep Agus Rahmat Kepala Resort Polisi Hutan Haurkuning, dan sejumlah warga desa tersebut.

Unus Yunus menjelaskan, hutan alam sekunder itu memiliki luas area sekitar 12,62 hektare. Semuanya berada dalam kawasan hutan Perhutani dengan status kelas hutan Kawasan Berkelas Konservasi Tinggi.

Dalam peta hutan Perhutani, hutan alam seluas itu berada pada petak 1A dalam wilayah kerja KRPH Haurkuning, BKPH Garawang, KPH Kuningan.

Warga Desa Cageur dan sekitarnya lebih mengenal hutan itu dengan sebutan Leuweung Eyang Dalem Cageur. Sebutan itu terkait dengan keberadaan sejumlah makam keramat di tengah hutan tersebut, salah satu di antaranya diyakini makam Eyang Satari, tokoh penyebar agama Islam pada masa-masa penyebaran Islam di wilayah Jawa Barat.


Halaman:

Editor: Siska Nirmala

Tags

Komentar

Terkini

X