Senin, 9 Desember 2019

Praktik Perdagangan Orang Berkedok Buruh Migran Berhasil Dibongkar

- 17 November 2019, 17:12 WIB
DUA tersangka perdagangan orang diamankan kepolisian setempat di vila kawasan Puncak, Sabtu, 16 November 2019. Keduanya memberangkatkan buruh migran dari sejumlah daerah, menuju kawasan Timur Tengah dengan cara ilegal.*/SHOFIRA HANAN/PR

CIANJUR, (PR).- Satreskrim Polres Cianjur berhasil membongkar praktik dugaan perdagangan orang di sebuah vila di kawasan Puncak, Kabupaten Cianjur. Belasan korban yang ditemukan di lokasi, diketahui berasal dari berbagai daerah yang dijanjikan akan bekerja sebagai buruh migran.

Dalam penggerebekan tersebut, polisi mengamankan dua orang tersangka berinisial AS (46) dan AS (47). Kapolres Cianjur AKBP Juang Andi Priyanto mengatakan, keduanya merupakan pasangan suami istri yang merekrut belasan orang, termasuk seorang wanita paruh baya di dalamnya.

“Pengungkapan kasus Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) ini berdasarkan laporan masyarakat. Ada kecurigaan terhadap aktivitas di salah satu vila di sana,” kata dia, di Mapolres Cianjur, Sabtu, 15 November 2019.

Dari hasil pemeriksaan, diketahui bahwa pasangan itu melancarkan aksi dengan mencari dan merekrut para korban. setidaknya sudah ada 15 orang yang direkrut dan kemudian ditampung di vila. Menurut dia, korban berasal dari Cianjur, Cirebon, Karawang, Bandung Barat, Tasikmalaya dan Sukabumi. Bahkan, ada juga korban dari Banten dan Lombok Tengah.

Rata-rata korban berusia 30-46 tahun dan seluruhnya merupakan wanita. Mereka dijanjikan akan dipekerjakan sebagai pekerja migran Indonesia (PMI) di sejumlah negara Timur Tengah dan Arab Saudi secara cuma-cuma.

Juang mengungkapkan, para korban itu juga dijanjikan akan mendapatkan uang sebesar Rp 2 juta sebagai pinjaman. “Nantinya, korban ini membayar pinjaman itu dengan dipotong gajinya. Kalau mereka sudah bekerja di luar negeri nanti,” ujar dia.

Rencananya, mereka akan dikirim bekerja ke Timur Tengah dengan jalur ilegal. Berdasarkan pengakuan tersangka, mereka memalsukan dokumen ketenagakerjaan, identitas diri, dan domisili korban atau para calon buruh migran.

Dipastikan, kedua tersangka menempuh cara-cara ilegal untuk mengirim para calon buruh migran ini. Pasalnya, hingga saat ini status moratorium bagi PMI untuk beberapa negara di Timur Tengah dan Arab Saudi masih berlaku.

Kedua tersangka dinyatakan melanggar Pasal 4 dan Pasal 10 Undang-Undang RI No 21 tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang dengan ancaman pidana maksimal 15 tahun penjara dan denda sebanyak-banyaknya Rp 600 juta.


Halaman:

Editor: Siska Nirmala

Tags

Komentar

Terkini

X