Senin, 9 Desember 2019

Kota Bekasi Gencarkan Pembuatan Lubang Biopori

- 11 November 2019, 20:34 WIB
PEMBUATAN lubang biopori di area taman kantor wali kota Bekasi, Senin, 11 November 2019.*/RIESTY YUSNILANINGSIH/PR

BEKASI, (PR).- Pemerintah Kota Bekasi mengerahkan seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah, Organisasi Perangkat Daerah, juga Badan Usaha Milik Daerah dalam rangka pembuatan lubang biopori di area taman kantor wali kota Bekasi, Senin, 11 November 2019. Selanjutnya, diharapkan gerakan pembuatan lubang biopori ini bisa gencar juga dilaksanakan di tingkat kecamatan dan kelurahan secara merata di seluruh wilayah Kota Bekasi.

Dinas Lingkungan Hidup sebagai 'leading sector' gerakan ini terlebih dahulu telah membagi 'lapak' pembuatan lubang biopori. Di setiap area tugas SKPD, OPD, dam BUMD juga telah ditandai titik-titik untuk pembuatan lubang biopori yang diberi jarak berkisar 50 cm satu sama lain.

Tanda patok itu yang dilubangi dengan menggunakan tongkat. Ada pula instansi yang membekali diri dengan mesin pembuat lobang biopori.

Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi berkesempatan juga menjajal tantangan membuat lubang biopori ini. Dari beberapa titik yang dikerjakannya, tampak ia sesekali kesulitan saat ujung tongkat biopori bertumbukan dengan bebatuan sehingga sulit membuat lubang lebih dalam.

Kepala Dinas LH Kota Bekasi Yayan Yuliana menyebutkan, lubang biopori harusnya dibuat dengan kedalaman 1,2 meter. Dengan kedalaman demikian, satu lubang biopori akan bisa menampung 10 liter air.

"Awal musim hujan seperti sekarang ini merupakan saat yang tepat untuk membuat lubang biopori, karena keberadaan lubang bisa menjadi tempat penampungan cadangan air saat hujan turun," katanya.

Adapun kehadiran lubang biopori di taman kantor wali kota Bekasi juga bisa difungsikan sebagai tempat penampungan dedaunan kering. Hal ini sejalan dengan program Dinas LH Kota Bekasi mengurangi produksi sampah sejak di lingkup perkantoran wali kota Bekasi.

Sampah-sampah dedaunan tidak ada yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir Sumur Batu, apalagi dibakar. Sampah dedaunan diproses untuk menghasilkan kompos.

"Lalu salah satu cara sederhananya, memasukkan sampah dedaunan tadi ke lubang biopori, sehingga permasalahan sampah tertangani, tanah pun menjadi subur," katanya.


Halaman:

Editor: Siska Nirmala

Tags

Komentar

Terkini

X