Sabtu, 18 Januari 2020

Kampung Literasi Cisontrol, Kampung Bahasa Inggris yang Menuju Digital Village

- 7 November 2019, 13:35 WIB
SUASANA pengajaran di Kampung Literasi di Desa Cisontrol, Kecamatan Rancah, Kabupaten Ciamis beberapa waktu lalu. Meski dengan ruangan sederhana namun siswa SD SMP maupun SMA akhirnya mampu berbahasa Inggris dengan baik.*/DOK ISTIMEWA

HARUM‎ tetesan air hujan ke atas rumput-rumputan hijau sungguh menenangkan hati. Suasana asri dengan udara yang bersih pun membuat kita betah berada di desa itu. Hanya saja ada sebuah keanehan, ternyata anak-anak di sana saling berkomunikasi dengan Bahasa Inggris.

Di sebuah kampung yang tidak terlalu kecil itulah anak-anak saling bersenda gurau layaknya anak-anak dari Eropa. Di Kampung Desa, Desa Cisontrol, Kecamatan Rancah, Kabupaten Ciamis. Namun kampung ini lebih dikenal dengan nama Kampung Literasi.

‎Awalnya memang Kampung Literasi hanya sebuah program amal berbasis pemberdayaan masyarakat. Penggagasnya adalah Prof Dadang Suganda M.Hum yang kini menjabat Ketua Komisi Pengembangan Akademik Senat Akademik di Universitas Padjajaran‎.

"Saya bermimpi ada desa yang serba guna dan tak ketinggalan ‎zaman. Pada langkah awal kami mencoba memajukan pada bidang bahasa dahulu, karena rencana Pak Gubernur Ridwan Kamil adalah digital village. Tetapi hal itu membutuhkan faktor pendukung utama yaitu kemampuan berbahasa Inggris," kata Dadang di kediamannya di Komplek Margahayu Raya, Kelurahan Manjahlega, Kecamatan Rancasari, Kota Bandung, Minggu 3 November 2019.

Meski dengan modal terbatas, Dadang mencoba membuka pelatihan Bahasa Inggris ini, bahkan awalnya sempat diremehkan oleh warga sekitar. Namun dengan kemampuan komunikasinya akhirnya warga sekitar menerima pembelajaran Bahasa Inggris tersebut.

"Kami gunakan garasi-garasi yang tidak terpakai sebagai ruang kelasnya. Sementara untuk guru-gurunya kami kerjasamakan dengan Universitas Galuh Ciamis. Hasilnya amat memuaskan, hanya dalam dua bulan saja warga dari tingkat SD, SMP maupun SMA mampu melakukan percakapan Bahasa Inggris," katanya.

M‎ulanya kata Dadang, untuk gelombang pertama 'kursus' bagi pelajar ini yang mendaftar berjumlah hingga 163 orang. Tetapi banyak yang mundur dari pengajaran Bahasa Inggris tersebut, bahkan yang tersisa hanya berjumlah 93 orang. 

"Angkatan pertama tersebut selesai pada Agustus 2019, sementara angkatan baru akan mulai November ini. Jumlah pendaftarnya sudah 180 orang, karena ternyata pelajaran Bahasa Inggris ternyata sudah mulai dirasakan penting bagi masyarakat," katanya.

Dadang juga berjanji akan mengembangkan aplikasi tersendiri bagi Desa Literasi ini. Tujuannya adalah untuk mempermudah koneksi masyarakat ke dunia luar. "Aplikasi di android maupun IOS sekarang kan banyak yang Bahasa Inggris tentunya dengan begitu kursus Bahasa Inggris ini jadi amat diperlukan. Harapan ke depan ada aplikasi khususnya, tetapi untuk sementara akan mencoba memaksimalkan aplikasi yang ada terlebih dahulu," katanya.

Halaman:

Editor: Siska Nirmala

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Jawa Barat Network

X