Rabu, 26 Februari 2020

Kemarau Berkepanjangan, Permukaan Air Situ Sanghyang Tasikmalaya Melorot Tajam

- 1 November 2019, 03:44 WIB
PERAHU yang kerap menjadi wahana permainan air kandas setelah menyusutnya permukaan air Situ Sanghyang di Kecamatan Tanjungjaya, Kabupaten Tasikmalaya, Kamis, 31 Oktober 2019. Penyusutan tersebut berdampak terhadap terganggunya kegiatan wisata.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

SINGAPARNA, (PR).- Kemarau panjang yang melanda Kabupaten Tasikmalaya membuat permukaan air Situ Sanghyang di Kecamatan Tanjungjaya melorot tajam. Kondisi tersebut berdampak pada penurunan wisatawan dan kekeringan lahan pesawahan di sekitar situ.

Penyusutan tampak jelas di kawasan tepi situ. Merosotnya debit air situ yang berada di dua desa‎ yakni Cibalanarik dan Cilolohan, Kecamatan Tanjungjaya itu‎ meninggalkan tanah-tanah mengering dan retak di tepiannya.

Beberapa perahu yang menjadi wahana bermain air pengunjung bahkan kandas atau terdampar di permukaan tanah yang sudah tak berair tersebut. "Ini (perahu) mainan sudah tidak bisa jalan, kandas pisan," kata Mumun, perempuan  42 tahun yang membuka warung kecil di pinggir situ yang ditemui Kamis, 31 Oktober 2019. Ia memperkirakan, penyusutan air situ di kawasan tepi mencapai empat meter. 

Kendati wilayah tepi menyusut tajam, bagian tengah Situ Sanghyang masih digenangi air. Namun  jika kemarau terus berlangsung penyusutan juga bakal menjangkau bagian tersebut. "Kalau (tetap) tidak ada hujan, bisa nyeberang (tanpa perahu)," ujar Mumun.
 

Pengunjung cukup berjalan kaki melintasi dasar situ yang berubah menjadi hamparan tanah mengering dan rumput menuju kawasan tengah yang ditandai tulisan besar Sanghyang. Menurutnya, melorotnya permukaan air situ terjadi sejak Juli 2019. Sumber air situ memang hanya berasal dari air hujan dan mata air. Situ itu tak menampung air dari sungai-sungai yang melintasi Tanjungjaya. 

Imbasnya, merosot permukaan air situ langsung terasa saat kemarau berkepanjangan terjadi. Sawah-sawah di dekatnya pun sudah tak mendapat pasokan air dari situ.

Sejumlah warga mengakalinya dengan menggali saluran untuk mengalirkan air dari sisa genangan Situ Sanghyang. Setelah air terkumpul, warga baru menyedotnya untuk mengisi balong-balong mereka dengan air. Namun, kata Mumun, praktik penyedotan air cuma dilakukan warga yang tinggal paling dekat dengan situ guna mengisi balongnya bukan sawah. Ini karena, kebutuhan air sawah lebih besar serta tak bisa dipenuhi dengan kondisi situ yang menyusut.

Kegiatan wisata ikut kena dampak keadaan tersebut. Selain wahana perahu yang sudah tak beroperasi, kehadiran pengunjung juga berkurang. "Sepi," ucap Mumun.

Halaman:

Editor: Eva Fahas

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X