Senin, 6 April 2020

Pandanwangi, Identitas Cianjur yang Terkikis

- 29 Oktober 2019, 06:32 WIB
SEORANG petani memanen di area persawahan, Kecamatan Cibeber, beberapa waktu lalu. Seiring berjalannya waktu, keberadaan beras Pandanwangi mulai terkikis sehingga tak jarang masyarakat pun kesulitan menemukan persawahan hingga berasnya sekalipun.*/SHOFIRA HANAN/PR

SULITNYA menemukan beras Pandanwangi di rumah sendiri, menjadi hal yang terjadi saat ini. Tidak heran, jika akhirnya masyarakat pun tak akrab dengan keberadaan ataupun rasa dari beras khas Cianjur itu.

Padahal, seharusnya beras Pandanwangi menjadi identitas Cianjur karena telah lahir dan besar di tatar santri. Namun, realitasnya saat ini masyarakat sudah dijauhkan dari Pandanwangi oleh situasi yang terjadi.

”Lucu juga ironis, ketika Pandanwangi lahir dari Cianjur tapi masyarakatnya sendiri tidak menikmati beras tersebut,” ujar Pegiat Seni dan Budaya Cianjur Eko Wiwit, belum lama ini.

Secara perlahan perkembangan zaman saat ini, terus menjauhkan masyarakat dengan Pandanwangi yang merupakan kearifan lokal yang sesungguhnya. Ada jurang pemisah yang secara tak kasat mata membuat makanan khas Cianjur itu jauh dari masyarakat.

Maka tidak heran, ketika masyarakat Cianjur justru tak bisa menikmati beras asli daerah dengan mudah. Ia menilai, meskipun menjadi beras lokal Cianjur, tapi kesan eksklusif seringkali sulit dilepaskan dari Pandanwangi. Dengan kata lain, tidak semua orang bisa menikmati beras yang terkesan ada untuk kalangan tertentu saja.

Hal itu dikarenakan, harga yang cukup tinggi membuat beras Pandanwangi tak mudah dijangkau semua kalangan. Oleh karena itu, muncul batasan antara kalangan tertentu.

”Selalu ada kebanggaan kalau kita memiliki Pandanwangi, tapi itu dia akses untuk mengonsumsinya saja sulit. Dan kenyataannya, beras ini sudah menjadi komersial. ” kata dia.

Padahal, jika menilik sejarah, kemungkinan besar orientasi leluhur saat Pandanwangi lahir puluhan tahun lalu sejatinya bukan untuk diperjualbelikan secara elit. Justru beras tersebut dihadirkan agar menjadi identitas masyarakat. Dengan kata lain, masyarakat seharusnya menjadi pemilik kearifan lokal yang sesungguhnya, bukan kelompok bermodal.

”Karena bagaimanapun, saat identitas sudah dikelompokkan artinya sudah tidak ada nilai kebudayaan atau sejarah. Dan ini, tidak menjadi kebudayaan murni lagi,” ucapnya.

Halaman:

Editor: Siska Nirmala

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X
x