Jumat, 24 Januari 2020

Membeli Genting Tanpa Uang, Cukup dengan Buah-buahan

- 25 Oktober 2019, 16:45 WIB
SENIMAN Denmark menunjukan hasil lukisannya di genting.*/ISTIMEWA

Emil mengaku dirinya terinspirasi dari sosok sang ayah yang merupakan petani. Bagaimana pun, seorang petani selalu dekat dengan tanah yang menghubungkan dirinya dengan leluhur dan semesta. Oleh karena itu, petani harus menjaga tanahnya, sehingga bisa menjaga ingatan tentang orang tuanya dan juga lingkungan sekitarnya.

Ingatan serupa ingin Emil tumbuhkan dalam benak anak-anak Jatiwangi. Mereka diajak untuk merangkai rantai-rantai tersebut di sebuah lokasi di dalam sekolah. Tak lupa, salah satu ujung rantai tersebut akan ditanam di tanah sebagai simbol bahwa anak-anak tersebut tumbuh dari tanah Jatiwangi. “Mereka terkait dengan tanah mereka, leluhur mereka, teman-teman mereka, dan orang tua mereka,” papar Emil

“Tanah liat memiliki clue sosial,” tandas Amalie. Rantai tersebut sebagai simbol bahwa orang-orang Jatiwangi saling terhubung, baik dengan masyarakatnya secara sosial maupun dengan bumi Jatiwangi secara ekologis. “Rantai-rantai ini menghubungkan anak-anak dalam pikiran mereka secara tidak langsung,” simpulnya.

Kolektivitas tanah liat

Meskipun hanya sebulan di Indonesia, empat seniman Denmark mengaku banyak belajar dari masyarakat Jatiwangi. Misalnya saja Jesper Aabile yang kagum melihat cara masyarakat Jatiwangi begitu kreatif mengolah buah-buahan. Selama membuka lapaknya di pasar, Jesper mengaku mendapatkan cara memotong yang lebih baik buah favoritnya, mangga.

“Di sini, buah-buahan matang di pohon,” simpul Jesper. Menurutnya, buah-buahan semacam ini memiliki rasa yang jauh lebih baik dan enak dibandingkan buah-buahan impor. Tentunya, nilai gizinya pun lebih baik dibandingkan buah-buahan yang datang dari negara yang jauh dari Indonesia.

Jesper juga senang berinteraksi dengan orang-orang Jatiwangi yang penuh rasa ingin tahu dan senang berdialog dengan orang-orang baru. Masyarakat Jatiwangi juga sangat ramah terhadap dirinya dan senang membantu orang lain yang menemukan kesulitan.

Senada dengan Jesper, Amalie menilai masyarakat Jatiwangi peduli satu sama lain. Baginya, kondisi ini sangat berbeda jauh dengan masyarakat Denmark yang sangat individualis dan fokus ke personal masing-masing. “Mereka (masyarakat Jatiwangi) berorientasi komunitas,” tandas Amalie.

Karakter komunal ini, lanjut Amalie, membuat masyarakat Jatiwangi memiliki banyak waktu untuk berbincang-bincang dengan banyak orang. Hasilnya, mereka kerap menggabungkan antara waktu bekerja dan interaksi sosial. Hal ini berbeda dengan orang Denmark yang sangat kaku dan memisahkan waktu bekerja dan kehidupan sosialnya. “Mereka (masyarakat Denmark) tidak menyediakan banyak ruang sosial, sehingga tidak punya benefit nilai kehidupan,” akunya.

Nilai kehidupan ini yang kemudian memperkuat masyarakat Jatiwangi modern. Sebuah nilai yang berangkat dari industri tanah liat berupa genting yang diproduksi secara tradisional. Di dalamnya, mereka saling bekerja sama satu sama lain dan mendefinisikan karakter masyarakatnya yang kolektif, hingga sekarang. (YPS)***

Halaman:

Editor: anef

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Jawa Barat Network

X