Selasa, 21 Januari 2020

Membeli Genting Tanpa Uang, Cukup dengan Buah-buahan

- 25 Oktober 2019, 16:45 WIB
SENIMAN Denmark menunjukan hasil lukisannya di genting.*/ISTIMEWA

Terlebih lagi, Jatiwangi Art Factory (JAF), yang merupakan mitra berkesenian Amalie dan kawan-kawan, mencanangkan Jatiwangi sebagai Kota Terakota di Indonesia. Selaras dengan visi tersebut, Amalie ingin mendorong Jatiwangi menjadi Kota Terakota seutuhnya. “Bukan hanya Jatiwangi secara fisik dan visual semata, tetapi juga membangun Kota Terakota dalam pikiran mereka,” papar lulusan master Art Mediation di Sydney, Australia.

Membangun dialog

Sepengamatan Amalie, ketiga tempat tersebut merepresentasikan masyarakat Jatiwangi, yaitu: pasar yang merepresentasikan kehidupan ekonomi, puskesmas yang merepresentasikan kesehatan, dan sekolah yang merepresentasikan pendidikan. Di dalamnya, para seniman membangun dialog dengan masyarakat Jatiwangi sekaligus melakukan pertunjukkan seni (art performing). Selaras dengan tema keseluruhan aktivitas, Amalie menekankan para senimannya untuk mempergunakan tanah liat sebagai media berkesenian.

Amalie sendiri membutuhkan waktu dua tahun untuk riset dan mempersiapkan kerja seninya di Jatiwangi. Setelah kunjungan terakhirnya pada 2018 silam, dia mulai merancang pertunjukkan seninya di Jatiwangi berdasarkan hasil observasinya. Karena seniman akan menjadi ujung tombak aktivitas keseniannya ini, Amalie benar-benar memilah dan memilih orang-orang yang sesuai hasil risetnya.

Bagi Amalie, masyarakat Jatiwangi terbuka dengan hal-hal baru dan gemar berinteraksi dengan orang banyak. Selaras dengan kondisi tersebut, dia pun mensyaratkan mitra senimannya agar memiliki pikiran yang terbuka, berkemampuan komunikasi yang baik, mampu berdialog dengan orang banyak, dan berpengalaman bekerja di luar institusi seni.

Selanjutnya, para seniman terpilih merancang bentuk dan aktivitas berkeseniannya di masing-masing tempat. Meskipun sudah mempersiapkan segalanya dengan matang, tetap saja para seniman ini harus menselaraskan pekerjaan seninya dengan keadaan di lapangan yang berbeda jauh dari imajinasinya. “Karena kita memiliki latar belakang budaya yang sangat berbeda,” ungkap Christian Elovara Dinsen, seniman yang bertugas di Puskesmas Jatiwangi.

Malnutrisi

Di puskesmas sendiri terdapat permasalahan malnutrisi dan makanan bergizi. Tantangannya, Christian ingin membangun pemahaman anak-anak tentang makanan bergizi melalui karya seninya. Oleh karena itu, dia membuat beraneka ragam makanan bergizi dari tanah liat. Nantinya, anak-anak bisa memilih dan merangkai makanan-makanan tersebut.

Sebuah ruangan pun disiapkan untuk para seniman Denmark ini berekspresi. Christian menyulap ruangan tersebut agar ramah terhadap anak-anak. Ruangan puskesmas disulap menjadi lebih berwarna lengkap dengan pernak-pernik berkilauan. Harapannya sederhana, anak-anak tertarik dan senang untuk datang ke puskesmas.

Malnutrisi sendiri disebabkan oleh anak-anak yang tidak mengkonsumsi makanan yang baik. Amalie dan Chrstian berusaha membangun imajinasi tentang makanan ke anak-anak Jatiwangi, sehingga bisa mendorong mereka untuk suka dan mengkonsumsi makanan bergizi. “Jadi, mari kita lihat hasilnya,” ungkap Christian, penuh harap.

Adapun Pesantren Al Mizan Jatiwangi menjadi ruang berkesenian bagi Emil Krog. Dia mengajak 230 siswa beragam usia dari empat kelas berbeda untuk membuat rantai beragam bentuk dari tanah liat, seperti: hati, lingkaran, kotak, dan segitiga. Kemudian, seniman muda Denmark ini akan membakar rantai-rantai tanah liat tersebut dan menyambungkan semuanya dengan menggunakan kawat, sehingga menjadi sebuah rantai yang sangat panjang.

Halaman:

Editor: anef

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Jawa Barat Network

X